alexametrics

Sopir Bus Maut di Tol Sumo Tertidur Dua Menit Akibat Dampak Kelelahan

19 Mei 2022, 13:00:42 WIB

JawaPos.com – Efek kelelahan setelah perjalanan panjang tiga hari dua malam tanpa menginap itu sungguh fatal. Ade Firmansyah tertidur selama dua menit dan selama kurun itu, bus pariwisata PO Ardiansyah yang dia kendarai keluar jalur.

Lalu, menyerempet guardrail, menabrak batu tepi jalan, dan membuat ban bocor, hingga akhirnya menghantam beton tiang papan multipesan (variable message sign/VMS) di Kilometer 712 tol Surabaya–Mojokerto (Sumo).

“Antara jejak di jalan dan penjelasan pengemudi sudah klop. Artinya, pengemudi pada saat membawa kendaraan sebenarnya mengalami bukan microsleep, tapi bisa jadi deep sleep atau tertidur selama sekitar dua menit,” kata Ketua Sub Komite LLAJ (Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya) KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) Ahmad Wildan saat memaparkan hasil investigasi di Mapolres Mojokerto Kota kemarin (18/5) sore seperti dilansir Jawa Pos Radar Mojokerto.

Kecelakaan pada Senin (16/5) pukul 06.15 itu mengakibatkan 14 dari 32 penumpang meninggal. Para penumpang berasal dari satu kawasan di Benowo, Surabaya, yang baru pulang dari berwisata ke Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, dan Jogjakarta.

Wildan menyebut, kondisi tertidur itu efek dari perjalanan wisata yang dilakukan selama tiga hari dua malam tanpa menginap. Yakni, berangkat sejak Sabtu (14/5) malam hingga akhirnya kecelakaan pada Senin (16/5) pagi. Rute itu membuat pengemudi kurang istirahat sehingga kelelahan.

Selain itu, kepada tim investigasi KNKT, Ade mengaku kondisinya kurang sehat. Sebulan terakhir, dia terserang batuk terus-menerus. Selama itu, Ade mengonsumsi obat-obatan pereda batuk.

“Terakhir minum obat batuk itu Kamis (dua hari sebelum berangkat),” jelas Wildan sembari menyebut bahwa Ade menjadi kernet bus sejak sembilan tahun terakhir.

Kini pihaknya terus melakukan investigasi. Selain meminta keterangan pengemudi, dia juga telah memeriksa TKP (tempat kejadian perkara) dan bangkai bus yang saat ini berada di Waru, Sidoarjo.

Proses investigasi dijadwalkan berlangsung hingga esok (20/5). Nanti hasil investigasi menjadi bahan rekomendasi yang diserahkan ke presiden dan pihak-pihak terkait.

Sementara itu, enam orang sudah diperiksa terkait kecelakaan di Kilometer 712 tol Sumo tersebut. Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Dirmanto menyebut salah satunya adalah Ahmad Ari Ardiyanto, sopir utama bus nahas itu.

Menurut dia, lima saksi lain adalah penumpang yang selamat. Hanya, dia tidak memerinci identitasnya. Yang jelas, mereka semua bisa diperiksa karena luka yang dialami tidak terlalu berat. ”Keterangan para saksi dimasukkan dalam BAP (berita acara pemeriksaan),” ujarnya kemarin.

Dirmanto mengatakan, tujuan pemeriksaan adalah mengetahui detik-detik sebelum kecelakaan. Data itu diperlukan penyidik untuk mengambil langkah lanjutan terhadap Ade Firmansyah.

Mantan Kabidhumas Polda Kalimantan Timur itu mengatakan, sejauh ini belum ada petunjuk signifikan dari penjelasan para saksi. Mereka memberikan keterangan yang hampir sama saat diperiksa.

Yakni, tidak melihat langsung gelagat Ade sebelum kecelakaan. ”Kebanyakan sedang tidur. Ada yang bangun, tetapi posisinya di tengah sehingga tidak melihat,” paparnya.

Oleh karena itu, kata dia, penyidik berencana memeriksa penumpang lain sebagai saksi. Termasuk Ade yang masih menjalani perawatan. Namun, rencana tersebut harus menunggu izin dari dokter.

Dia memastikan insiden kecelakaan itu diproses sesuai prosedur. Termasuk adanya dugaan Ade memakai narkoba saat terjadi kecelakaan. ”Bisa dikenakan pasal berlapis kalau memang terbukti. Terkait kecelakaan dan narkoba,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa Ade sudah tidak dirawat di RS Citra Medika, Sidoarjo. Warga Sememi, Benowo, itu kini menjalani perawatan di Mapolres Mojokerto.

Menurut Dirmanto, pemindahan itu sudah disetujui dokter. Ade bisa keluar rumah sakit karena lukanya tidak terlalu berat. ”Di polres kan juga ada fasilitas kesehatan. Jadi, tidak masalah dipindah,” terangnya.

Dari Jakarta, Kasubdit Angkutan Orang Antarkota Kementerian Perhubungan Handa Lesmana mengatakan, berdasar aturan dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) di pasal 90 disebutkan bahwa perusahaan wajib memperhatikan waktu kerja, waktu istirahat, dan pergantian pengemudi kendaraan bermotor umum.

Handa menjelaskan, waktu kerja pengemudi angkutan bermotor umum paling lama delapan jam sehari. Sementara dalam kondisi mengemudi terus-menerus selama empat jam tanpa henti, pengemudi wajib mengambil istirahat selama 30 menit. ”Pengemudi dapat dipekerjakan selama 12 jam dalam sehari dalam kondisi tertentu yang termasuk syarat satu jam waktu istirahat,” jelas Handa lewat pesan singkat kepada Jawa Pos Selasa (17/5) malam.

Hal itu, kata Handa, dipertegas lagi dalam Peraturan Menteri No 29 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Angkutan Orang dalam Trayek. Baik itu yang sifatnya antarkota antarprovinsi (AKAP) maupun antarkota dalam provinsi (AKDP). ”Untuk menjaga kondisi pengemudi agar tetap prima, wajib beristirahat paling lama 15 menit setelah mengemudi selama dua jam tanpa henti,” jelasnya.

Ketentuan istirahat 15 menit tiap dua jam mengemudi itu juga berlaku pada SPM angkutan orang tidak dalam trayek, misalnya untuk keperluan wisata. Selain waktu istirahat yang sudah ditentukan, sebelum menjalankan kendaraan, pengemudi juga harus memastikan diri dalam kondisi sehat, baik fisik maupun mental yang dibuktikan dengan surat keterangan berbadan sehat dari dokter setiap enam bulan sekali.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : adi/edi/tau/agf/c6/ttg

Saksikan video menarik berikut ini:


Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads