alexametrics

PKB Munculkan Sosok Hanif Dhakiri untuk Pilwali Surabaya

Dianggap Mampu Tandingi Calon PDIP
18 November 2019, 19:19:28 WIB

JawaPos.com – PKB tak mau ketinggalan memunculkan sosok bakal calon walikota (bacawali). Partai yang kelahirannya ’’dibidani’’ oleh Nahdlatul Ulama itu memunculkan sosok M. Hanif Dhakiri yang maju dalam pilwali Surabaya.

Nama mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) tersebut muncul setelah beberapa partai lain membuka pendaftaran bacawali.

Ketua DPC PKB Surabaya Musyafak Rouf menilai hingga saat ini belum ada sosok yang dianggap mampu menandingi dominasi PDIP. Itu terlihat dari para tokoh yang mendaftar di PSI, Gerindra, dan Nasdem. ’’Belum ada yang menonjol,’’ ujarnya kemarin (17/11).

Nah, di PDIP, ada beberapa nama yang dinilai paling berpeluang mendapatkan rekomendasi. Ada nama Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana yang sudah mendaftar. Ada pula nama Dyah Katarina, istri mantan Wali Kota Bambang D.H.

Bagaimanapun, Whisnu dianggap sebagai kader yang sangat loyal. Alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tersebut dianggap cukup senior di internal PDIP.

Nama Dyah Katarina tidak bisa dilepaskan dari suaminya. Bambang D.H. dianggap masih memiliki pengaruh yang cukup kuat di DPP. Sementara itu, PDIP memiliki tradisi bahwa rekomendasi merupakan hak prerogatif DPP (dewan pimpinan pusat). ’’Mungkin juga yang direkomendasikan adalah orang yang tidak mendaftar,’’ kata Musyafak.

Menurut dia, ada satu nama yang sampai saat ini belum mendaftar, tapi sudah santer dikabarkan akan maju dalam pilwali 2020. Dia adalah Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Eri Cahyadi.

Atas pertimbangan tersebut, lanjut dia, PKB menganggap figur menjadi hal penting dalam pencalonan. Karena itulah PKB melirik Hanif. Ada beberapa pertimbangan yang diambil. Salah satunya, Hanif yang merupakan mantan ketua DPP PKB dinilai memiliki jam terbang yang tinggi di bidang politik. Loyalitasnya terhadap partai juga tidak diragukan lagi. ’’Mas Hanif ini yang paling pas dan mampu menandingi dominasi PDIP,’’ tuturnya.

Sebagai ketua partai, Musyafak mengaku malu jika tidak memiliki calon sendiri. Dia tidak ingin PKB hanya menjadi penonton dalam kontestasi pilwali 2020. ’’Tapi, kalau yang dicalonkan kelasnya kecamatan, ya susah. Untuk itu (melawan PDIP, Red), minimal figur yang diusung kelas nasional karena Surabaya ini kota terbesar di Indonesia. Tidak mudah menghadapi pemilu di sini,’’ paparnya.

Soal dominasi partai, Ketua DPC PDIP Adi Sutarwijono menyatakan, partainya yang bisa mengusung calon sendiri merupakan realita politik. Bukan berarti tidak mau membuka diri terhadap siapa saja yang ingin merapat. ’’Kalau komunikasi, kami terbuka terhadap siapa pun. Tapi, kalau soal koalisi, kami tetap menunggu arahan DPP,’’ terangnya.

Pria yang akrab disapa Awi itu tidak mau berandai-andai tentang sosok yang diusung kelak. Hal tersebut merupakan hak DPP partai.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : adi/c13/eko


Close Ads