alexametrics
Urban Mystery

Pemain Jaranan Tak Boleh Sembarangan agar Aman saat Kesurupan

18 Oktober 2020, 15:48:50 WIB

Dalam jaranan atau kuda lumping, ada momen yang ditunggu penonton. Yakni, saat pemain ndadi alias kesurupan. Tubuhnya dikuasai makhluk yang sengaja dipanggil. Diiringi suara lecutan dan gamelan, tubuh pemain bergerak liar meski matanya terpejam.

Ketua Sanggar Jaranan Ismoyo Djoyo Saputro Qodli Zahka menyebutkan, kondisi trans itu tidak terjadi begitu saja. Ada ritual yang harus dilaksanakan. Sebelum tampil, seluruh pemain harus berpuasa 2–3 hari.

Pada waktu yang sama, Qodli yang jadi pawang mendatangi makam keramat atau punden di sekitar lokasi yang nanti menjadi area pertunjukan. Dia meminta izin kepada sang lelulur atau penunggu yang berada di area pertunjukan.

’’Ibaratnya, kami permisi dulu ke yang punya wilayah (makhluk halus). Tujuannya agar pertunjukan bisa berjalan lancar,’’ kata pria 36 tahun itu di lapangan Kecamatan Karang Pilang, Rabu malam (14/10).

Pawang berperan penting dalam pertunjukan. Posisi yang juga disebut Gambuh itu bertugas memastikan pertunjukan lancar. Pawang juga mengontrol makhluk halus yang akan merasuki pemain. Jangan sampai makhluk halus tersebut bersikap liar dan membahayakan para pemain jaranan.

Setelah semua ritual dilakukan, barulah pertunjukan bisa dimulai. Suara gamelan mengawali dimulainya pertunjukan. Sambil memegang tiga tangkai dupa yang dibakar, Qodli masuk dan berkeliling area pertunjukan yang berbentuk lingkaran.

Dia juga bergantian menghampiri pemain. Selain untuk memastikan kesiapan pemain, Qodli bertugas memanggil roh makhluk halus yang akan masuk ke tubuh mereka.

Ada dua kategori makhluk halus yang merasuki pemain. Yakni, pemimpin kerajaan dan prajurit karajaan. Keduanya mempunyai sikap yang berbeda. Pemimpin kerajaan merupakan makhluk halus yang sulit dikendalikan.

Jika sudah masuk ke tubuh pemain, mereka akan bergerak secara liar. Berguling-guling di tanah dan memutari area secara cepat dan tidak teratur. Sementara itu, prajurit kerajaan merupakan kategori makhluk halus standar. Yakni, mudah dikendalikan.

’’Sesajen yang diberikan pun beda. Untuk memanggil rajanya, kami harus menyiapkan seekor ayam hidup. Biasanya makhluk halus itu meminta pemain yang tubuhnya telah dimasuki untuk memakannya hidup-hidup,’’ ucapnya.

Untuk yang berjenis prajurit kerajaan, cukup membakar dupa dan kemenyan. Di alam bawah sadarnya, mereka menampilkan pertunjukan yang apik. Menari dengan liar dan energik.

Ada tiga jenis tarian yang dipertunjukkan. Pertama, tarian jaranan. Tarian tersebut dilakukan menggunakan kuda tiruan. Kedua, tari barongan. Mengenakan kostum macan atau harimau diiringi dengan musik gamelan dan suara pecutan, pemain menari di area pertunjukan.

Qodli menjelaskan, topeng barongan tidak bisa asal digunakan semua orang. Setiap topeng barongan harus digunakan oleh orang yang sama. Sebab, tiap topeng barongan ditumpangi penunggu yang berbeda. Dan, belum tentu makhluk halus tersebut klop dengan pemain baru. Jika tidak seirama, makhluk halus akan bersikap arogan dan dapat membahayakan si pemain.

Yang terakhir adalah tarian celengan. Biasanya, tari celengan merupakan penanda akhir dari pertunjukan. Memakai busana yang menyerupai celeng atau babi hutan, para pemain mengikuti iringan musik.

Wajib Hirup Minyak Aroma Melati

Wangi dupa dan kemenyan yang menyebar plus rapalan mantra yang terdengar merupakan momen krusial bagi seluruh pemain. Sebab, itulah detik-detik masuknya makhluk halus ke tubuh mereka.

Setelah itu, seluruh pemain seakan berada di bawah alam sadarnya. Mereka menari dan berlari ke sana kemari secara liar. Agar pemain tetap terkontrol, mereka wajib menghirup minyak berwangi melati. Sebab, wangi melati dipercaya sangat disukai oleh makhluk halus.

’’Saat kerasukan, pemain tidak merasakan apa-apa meski melakukan yang berbahaya. Seperti makan beling atau mempraktikkan adegan debus,’’ kata Qodli.

Selama ini, tidak ada efek samping dalam level berat yang dialami pemain setelah mempertunjukkan seni jaranan. Sebab, pemain harus cukup umur. Yang boleh berinteraksi dengan makhluk halus minimal 15 tahun. Itu pun dengan ritual-ritual yang mereka jalani sebelum pertunjukan berlangsung.

’’Hanya terasa capek banget. Pastinya keringat keluar banyak sampai seperti mandi. Saking capeknya, kadang sampai terasa mual dan muntah,’’ ujarnya.

Kemudian, ada beberapa pemain yang linglung saat kali pertama sadar. Mereka bingung sedang berada di mana. Namun, itu tak lama. Yang paling sering, saking capeknya, pemain tak bisa bangun. Mereka harus dibopong ke belakang panggung.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : ian/c18/any




Close Ads