alexametrics

Mahkamah Agung Menangkan Pasien Penggugat Dokter Mata di Surabaya

Dokter dan Klinik Dihukum Bayar Rp 1,2 Miliar
18 Mei 2022, 14:38:11 WIB

JawaPos.com – Tatok Poerwanto memenangi gugatan melawan dr Moestidjab dan Surabaya Eye Clinic di tingkat kasasi. Majelis hakim Mahkamah Agung (MA) yang diketuai Takdir Rahmadi menyatakan, Moestidjab yang merupakan dokter spesialis mata telah lalai saat mengoperasi mata Tatok di Surabaya Eye Clinic hingga mengakibatkan kebutaan.

”Dalam perkara a quo judex juris menilai dan menemukan adanya kelalaian hukum atau kurang hati-hati pada diri tergugat I (Moestidjab) yang mengakibatkan kerugian terhadap penggugat (Tatok) sehingga tergugat I dapat dikategorikan telah melakukan perbuatan melawan hukum,” kata majelis hakim dalam pertimbangan putusan kasasi.

Dalam fakta persidangan terungkap, mata Tatok sebelum dioperasi Moestidjab memang kabur, tetapi tidak mengalami pendarahan. Setelah dua kali operasi pada April dan Mei 2016 di Surabaya Eye Clinic, klinik mata milik Moestidjab, mata kiri Tatok malah mengalami pendarahan hingga buta.

”Tidak ada faktor dominan lain yang menyebabkan terjadinya pendarahan selain tindakan operasi yang dilakukan tergugat I,” ujar majelis hakim.

Majelis hakim Mahkamah Agung menghukum Moestidjab dan Surabaya Eye Clinic membayar ganti rugi materiil kepada Tatok senilai Rp 260,6 juta. Selain itu membayar kerugian imateriil yang dialami Tatok senilai Rp 1 miliar. Putusan kasasi tersebut sekaligus membatalkan putusan banding di Pengadilan Tinggi Surabaya dan putusan tingkat pertama di Pengadilan Negeri Surabaya yang sebelumnya menolak gugatan Tatok.

Pengacara Tatok, Eduard Rudy Soeharto, mengaku sempat berkomunikasi dengan pihak Moestidjab setelah keluarnya putusan kasasi tersebut. Namun, Moestidjab masih menolak melaksanakan putusan kasasi. ”Kami akan segera mengajukan permohonan eksekusi ke Pengadilan Negeri Surabaya karena tidak ada iktikad baik dari tergugat untuk melaksanakan putusan,” tegas Rudy.

Anak Tatok, Elly Poerwanto, menambahkan bahwa putusan kasasi itu sekaligus memulihkan nama baik ayahnya dan keluarga. Sebab, selama ini banyak yang beranggapan bahwa Tatok dan keluarga sengaja mencari-cari kesalahan oknum dokter mata tersebut untuk mencari keuntungan pribadi.

”Ganti rugi itu untuk mengganti biaya pengobatan dan recovery karena perbuatan oknum dokter tersebut yang biayanya cukup besar. Perinciannya sudah jelas dalam kuitansi yang sudah kami lampirkan dalam gugatan,” ungkapnya.

Sebagaimana diberitakan, Moestidjab digugat setelah Tatok menganggapnya lalai saat mengoperasi matanya yang katarak. Awalnya dia yang sakit katarak pada mata kirinya berobat di Surabaya Eye Clinic milik Moestidjab di Jalan Jemursari pada 2016. Dokter itu lalu mengoperasinya dua kali. Pada operasi kedua terjadi pendarahan pada matanya.

Keluarga Tatok berinisiatif memeriksakannya ke Rumah Sakit Singapore National Eye Centre. Berdasar rekam medis rumah sakit tersebut, pendarahan itu disebabkan operasi mata sebelumnya. Karena itulah, Tatok menggugat dokter dan Surabaya Eye Clinic.

Dokter dan Klinik Mata Akan Ajukan PK

Surabaya Eye Clinic, klinik mata milik Moestidjab di Jalan Jemursari, tidak tinggal diam atas putusan tersebut. Tergugat tidak sepakat dengan putusan itu sehingga menempuh upaya hukum luar biasa, yaitu peninjauan kembali (PK).

Sumarso, pengacara Moestidjab dan klinik, saat dikonfirmasi secara terpisah menyatakan akan mengajukan PK terhadap putusan kasasi tersebut. Menurut dia, putusan MA yang menyatakan kliennya telah berbuat melawan hukum sudah tidak logis.

Terlebih pertimbangan majelis hakim yang menghukum Moestidjab membayar ganti rugi imateriil Rp 1 miliar. ”Parameternya apa sehingga harus membayar kerugian imateriil Rp 1 miliar? Bukti-bukti kerugian imateriil tidak ada dan tidak jelas. Dalam perkara lain, Mahkamah Agung tidak akan mengabulkan kerugian imateriil karena bukti-buktinya tidak ada,” cetus Sumarso.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : gas/c9/eko

Saksikan video menarik berikut ini: