alexametrics

Pemkab Gresik Sepakat Salat Id di Rumah Saja, Pasar Bandeng Tetap Ada

18 Mei 2020, 16:48:17 WIB

JawaPos.com – Hari Raya Idul Fitri tinggal hitungan hari. Mendekati Lebaran, belakangan beredar surat edaran dari sejumlah kalangan. Isinya seputar peluang relaksasi atau pelonggaran untuk pelaksanaan salat berjamaah dan salat Id di masjid dengan pengetatan. Surat edaran itu pun membuat masyarakat bimbang. Tidak terkecuali di Gresik.

Lantas, bagaimana sikap tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Gresik? Sabtu (16/5) forkopimda bersama pimpinan organisasi masyarakat (ormas) Islam sudah menggelar pertemuan di Ruang Grahita Eka Praja Pemkab Gresik. Mereka membahas pelaksanaan ibadah selama penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tahap kedua.

Hasilnya? Bupati Sambari Halim Radianto mengatakan, antara PSBB tahap pertama dan kedua memang ada pengetatan-pengetatan. Antara lain, penambahan checkpoint hingga ke desa, penambahan personel, dan ketegasan sanksi bagi para pelanggar agar ada efek jera. Namun, untuk aktivitas keagamaan, tidak ada perubahan.

”Aktivitas keagamaan telah kita sepakati dengan berbagai unsur, forkopimda, ormas, dan para alim ulama, memutuskan untuk tetap mengacu pada PSBB pertama,” kata doktor lulusan Universitas Airlangga itu.

Karena sudah sepakat untuk mengacu pada PSBB tahap pertama, lanjut dia, untuk pelaksanaan salat berjamaah dan salat Id di masjid, tetap diberlakukan pembatasan. ”Kita tetap mengacu ke Perbup Nomor 12 Tahun 2020 tentang PSBB,” tegas dia.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Gresik KH M. Mansoer Shodiq mengatakan, sesuai keputusan bersama, memang untuk aktivitas keagamaan, masyarakat tetap diimbau agar mengoptimalkan beribadah di rumah. Termasuk salat Idul Fitri maupun takbiran, sementara tidak dilaksanakan di masjid, melainkan di rumah masing-masing.

Dalam pertemuan tersebut, para peserta khawatir apabila dibuka sedikit saja, mudarat yang berupa potensi persebaran Covid-19 di Gresik malah tidak terkendali. Karena itu, sejumlah organisasi keagamaan serta Forkopimda Gresik menyepakati aktivitas keagamaan seperti salat Tarawih, salat berjamaah, dan salat Idul Fitri yang biasanya dilaksanakan di masjid untuk sementara diselenggarakan di rumah masing-masing.

Pembatasan tersebut bukan tanpa pertimbangan. Sebab, seperti diketahui, Gresik sudah masuk zona merah. Potensi persebarannya mesti terus diwaspadai. Dari 18 kecamatan, sejauh ini Covid-19 sudah merambah 11 kecamatan. Tinggal Kecamatan Bungah, Wringinanom, Panceng, Ujungpangkah, Balongpanggang, dan Bawean yang belum masuk zona merah.

Kemarin (17/5) kasus terkonfirmasi positif virus korona kembali bertambah. Ada tambahan dua orang sehingga total menjadi 51 orang. Tambahan itu berasal dari Kelurahan Kebomas dan Desa Tambakrejo, Duduksampeyan. ”Keduanya dari orang tanpa gejala (OTG) yang merupakan kontak erat dengan pasien konfimasi positif sebelumnya,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik drg Syaifuddin Ghozali.

Namun, kabar baiknya, ada dua tambahan pasien sembuh setelah hasil tes swab dinyatakan negatif. Tambahan pasien sembuh itu berasal dari Desa Randuagung, Kecamatan Kebomas, dan Desa Suci, Kecamatan Manyar. ”Selain dari tes swab negatif dua kali berturut-turut, dari hasil foto toraksnya juga sudah normal. Yang sembuh ini keduanya dari klaster asrama haji Surabaya,” jelas Ghozali.

Pasar Bandeng Tetap Ada

Pembatasan tradisi malam selawe yang biasanya dilakukan dengan ramai-ramai berziarah ke makam Sunan Giri benar-benar diwujudkan kemarin (17/5). Sejumlah akses ke kawasan wisata religi di Desa Giri, Kebomas, itu diportal. Namun, hari ini (18/5) akses sudah dibuka lagi.

Akses ditutup mulai titik Kebomas, Sidomukti, Klangonan, hingga Sekarkurung. Bukan hanya kendaraan yang dialihkan oleh petugas gabungan untuk putar balik. Sejumlah warga serta pengendara motor yang melintas tanpa masker pun dipaksa pulang.

”Tolong perhatiannya, warga yang tidak bermasker silakan kembali saja,” kata Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Gresik Agus Budiono sambil menunjuk pengendara motor bandel yang tidak bermasker.

Asisten I Setda Gresik Tursilowanto Hariogi mengatakan, mulai sore hingga pagi ini (18/5) seluruh akses ke makam Sunan Giri dijaga petugas. Mulai anggota kepolisian, TNI, satpol PP, dinas perhubungan, hingga perangkat setempat. ”Kami sudah koordinasi dengan para Kades,” ujar sekretaris Gugus Tugas Covid-19 Gresik itu.

Tradisi malam selawe di makam Sunan Giri biasanya selalu dipadati pengunjung. Bukan hanya warga Gresik yang datang, tapi juga warga dari berbagai daerah. ”Tradisi berdoa untuk sementara ini bisa dilakukan di rumah. Kebijakan itu diambil untuk memutus mata rantai persebaran Covid-19,” katanya.

Demikian juga tradisi kontes bandeng kawak yang biasa diselenggarakan H-3 Lebaran, ditiadakan. Namun, aktivitas jual beli di pasar tersebut tetap berjalan. ”Perlakuan tetap sama seperti pasar-pasar lain. Hanya, Pak Bupati sudah memerintahkan agar kontes bandeng kawak seperti tahun-tahun sebelumnya ditiadakan,” ungkap Agus.

Setiap menjelang Lebaran, memang banyak pedagang yang menjual ikan bandeng dengan ukuran besar-besar. Nah, pemkab kemudian menggelar kontes bandeng terbesar. Hadiahnya puluhan juta rupiah. ”Kalau tidak ada perlombaan, biasanya pengunjung normal. Jadi, tahun ini lomba bandeng tidak ada. Tapi, pasar bandengnya tetap seperti biasa,” ucapnya.

Menjelang Lebaran, lanjut Agus, pihaknya juga telah mengecek harga sejumlah bahan pokok di pasar. Ada delapan jenis bahan pokok yang mengalami penurunan harga. Namun, anjloknya harga itu belum parah. ”Cabai rawit hanya Rp 15 ribu. Mungkin nanti turun terus karena konsumsi masyarakat,” ujarnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : son/11/hud

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads