alexametrics

Dispendik Surabaya Pastikan PTM 100 Persen Aman

18 Januari 2022, 12:12:32 WIB

JawaPos.com – Munculnya kasus baru varian Omicron menimbulkan kekhawatiran terkait sejumlah aktivitas. Salah satunya pembelajaran tatap muka (PTM) yang sudah berjalan normal. Sekolah-sekolah di Surabaya menerapkan PTM 100 persen yang digelar dalam dua sesi.

Terkait hal itu, Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya memastikan PTM 100 persen tetap berlangsung seperti biasa. Alasannya, kegiatan belajar-mengajar dilakukan sesuai prosedur. Yaitu, mematuhi protokol kesehatan (prokes) secara ketat dan disiplin. ”PTM jalan terus dengan mematuhi semua prokes,’’ kata Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Surabaya Yusuf Masruh Senin (17/1).

Sekolah tatap muka dengan kuota penuh sudah berjalan sepekan. Sejauh ini, papar Yusuf, pelaksanaan PTM masih aman. Tidak ada laporan kejadian apa pun. Khususnya warga sekolah yang terpapar Covid-19 di lingkungan lembaga pendidikan.

”Kondisinya sangat aman,’’ jelas Yusuf.

Pantauan Jawa Pos, hingga kemarin PTM 100 persen masih digelar dengan dua sesi. Masing-masing berkapasitas 50 persen. Dengan begitu, siswa masih memungkinkan untuk saling menjaga jarak.

Yusuf menyatakan, PTM 100 persen dalam satu sif sekaligus belum memungkinkan untuk dilakukan. Sebab, sejumlah kendala dialami sekolah. Salah satunya terkait dengan kekurangan ruang kelas. Selain itu, antarsiswa masih sulit untuk saling menjaga jarak. ”Setiap sekolah kan kondisinya beda-beda. Jadi, kita masih evaluasi terus,’’ tegasnya.

Sementara itu, Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya terus melakukan evaluasi terkait protokol kesehatan di sekolah. Wakil Sekretaris Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya Ridwan Mubarun menyampaikan tiga catatan soal prokes. Pertama, durasi antara waktu pulang sekolah sesi pertama dan jam masuk sesi kedua. ”Durasinya kurang panjang. Sehingga terjadi potensi penumpukan siswa,’’ jelasnya.

Saat ini, kata dia, jeda waktu hanya 30 menit. Seharusnya, bisa bertambah menjadi 60 menit. Dengan demikian, tidak ada pertemuan antara siswa yang datang dan mereka yang pulang sekolah.

Kedua, satgas Covid-19 masih menemukan warga sekolah yang tidak mematuhi penggunaan masker. Misalnya, memakai masker justru di bawah dagu. Tidak menutupi hidung dan mulut. ”Ini terutama anak-anak di SD. Guru-guru tolong dipantau terus,’’ imbuh Ridwan.

Selain itu, lanjut dia, masih banyak warga sekolah yang menggunakan masker tidak standar. Atau tidak menggunakan masker medis. Lapisannya tipis sehingga rentan terkena lontaran droplet. ”Kami minta bila perlu masker dipasang rangkap sehingga lebih aman,’’ ujarnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : mar/c6/git

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads