alexametrics

Pekan Depan Polda Periksa Anggota Keluarga Cendana Terkait Memiles

Penerima Reward Berdasar Penunjukan Direktur
18 Januari 2020, 16:15:59 WIB

JawaPos.com – Saksi kasus investasi ilegal PT Kam and Kam alias Memiles diperiksa secara estafet mulai pekan depan. Pemeriksaan itu dilangsungkan setelah empat tersangka awal menyebutkan beberapa figur publik yang ikut terlibat dalam proses investasi iklan itu. Dalam perkembangan penyidikan, muncul nama anggota keluarga Cendana.

Polda Jatim menyatakan segera memanggil tiga orang dari keluarga Cendana. Di antaranya, Ari Sigit dan istrinya, Frederica Callebaut atau Rika Callebaut. Selain itu, satu nama lagi belum disebutkan. Pihak Ditreskrimsus Polda Jatim yakin tiga sosok tersebut mengetahui perjalanan Memiles.

’’Kami sudah layangkan suratnya. Mereka akan hadir pada 20, 21, dan 22 Januari,’’ ucap Dirreskrimsus Polda Jatim Kombespol Gidion Arif Setyawan di Polda Jatim kemarin.

Tiga orang tersebut masuk daftar 15 figur publik yang sejak awal akan dihadirkan sebagai saksi dalam investasi ilegal tersebut.

Selain itu, nama pesohor yang kerap disebut, yaitu desainer Adjie Notonegoro, turut dijadwalkan hadir untuk memberikan keterangan. Tepatnya pada Rabu (22/1) Menurut Gidion, para saksi dari kalangan pesohor tersebut dipanggil berdasar keterangan empat tersangka awal. Selain itu, nama-nama yang disebutkan para tersangka tersebut telah terbukti menerima reward alias hadiah dari Memiles.

Dia pun menambahkan bahwa ada satu nama yang sudah mendapatkan surat panggilan, tetapi tidak kunjung mengonfirmasi kehadirannya. Yakni, penyanyi Judika Sihotang. Padahal, penyidik sudah menjadwalkan kehadiran penyanyi jebolan salah satu ajang pencarian bakat itu pada Rabu pekan depan. Jika Judika tidak hadir, tim penyidik bakal melayangkan surat panggilan kedua. ’’Kami sesuaikan dengan prosedur yang ada. Kami masih tunggu konfirmasi dari yang bersangkutan melalui sang manajer,’’ jelas perwira tiga melati itu.

Dalam perkembangan lain, kemarin penyidik Ditreksrimsus Polda Jatim juga menunjukkan barang bukti baru berupa uang tunai Rp 2 miliar. Uang tersebut diambil dari salah satu rekening PT Kam and Kam. ’’Kami ambil karena tersangka dengan baik hati memberitahukan rekening yang lainnya,’’ jelasnya. Dengan begitu, jumlah uang yang telah diamankan anggota Polda Jatim dalam kasus investasi ilegal tersebut mencapai Rp 124 miliar.

Bukan hanya tumpukan uang yang diperlihatkan dalam jumpa media kemarin. Seorang tersangka baru, yakni Sri Wiwit alias Wiwit, juga diperlihatkan. Perempuan yang bertugas mendistribusikan hadiah atau reward itu ditengarai banyak memanfaatkan jabatannya di Memiles untuk membujuk para pemenang.

Caranya, memasang jerat tambahan bagi member yang terpilih mendapatkan hadiah. Iming-iming hadiah lebih besar dipasang Wiwit. Yakni, hadiah tidak diambil. Hanya uang dengan nilai setengah dari harga barang hadiah yang diterima. ’’Sisanya (setengah harga barang lainnya) dimasukkan untuk top-up,’’ tutur Gidion.

Wiwit merupakan orang kepercayaan Direktur PT Kam and Kam Kamal Taranchad alias Sanjay yang sudah ditetapkan sebagai tersangka lebih dulu. Peran Wiwit pun cukup penting. Dia mendata siapa pun yang pantas mendapatkan reward dari sistem investasi abal-abal itu.

Berdasar keterangan Wiwit, pantas atau tidaknya seorang member menerima hadiah tidak otomatis berasal dari sistem yang bekerja pada Memiles atau materi yang dijanjikan pada member. Uniknya, penentuan hanya dari kata-kata Sanjay. ’’Jadi, ditunjuk begitu saja. Suka-suka Sanjay yang memilih pemenangnya. Lalu, Wiwit harus mendistribusikan hadiah yang telah ditunjuk Sanjay,’’ jelasnya.

Dalam kasus itu, beberapa barang bukti telah terkumpul. Di antaranya, 18 mobil yang merupakan bagian dari aset PT Kam and Kam, tujuh rekening, uang Rp 124 miliar. Selain itu, Polda Jatim mendapatkan bahan berupa lima unit mobil dari lima member. Yakni, Marcello Tahitoe alias Ello, Eka Deli, Kadivpas Kemenkum HAM Riau maulidi Hilal, serta satu member yang tidak disebutkan namanya. Saat ini barang tersebut dalam perjalanan ke Polda Jatim

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : den/c15/ady


Close Ads