alexametrics

Inspirasi dari Luisa Nadya, Down Syndrome yang Merintis Bisnis Kuliner

17 November 2019, 20:48:03 WIB

Dia terlahir down syndrome. Namun, itu tak membuatnya menyerah dan berpangku tangan. Ketekunannya belajar bisa melahirkan bisnis cake dan puding. Ingin mandiri. Tak bergantung saudara.

Wahyu Zanuar Bustomi, Surabaya

WAJAHNYA terlihat berseri-seri siang itu. Meski begitu, dia bisa dibilang agak pemalu. Saat tersenyum, sebagian wajahnya ditutupi kedua telapak tangannya. Bicara pun hanya 1–2 kata. Namun, hal tersebut tidak berarti dia minder.

Luisa, sapaan akrabnya, memang berbeda. Dia terlahir dengan down syndrome. Namun, keuletan dan semangat hidupnya bisa jadi di atas mereka yang ditakdirkan Tuhan dalam kondisi normal. Sejak SD, dia aktif di berbagai kegiatan. Di antaranya, bermain piano hingga berlatih balet. Bahkan, sampai sekarang dia kerap tampil di panggung untuk menari balet.

Kecintaannya pada dunia seni memang terus dipupuk. Termasuk setelah lulus SMPN 29. Ketika itu, Luisa dianjurkan ibunya melanjutkan ke sekolah kejuruan. Tujuannya, Luisa punya skill agar bisa hidup mandiri. Tak menggantungkan hidup pada orang lain. Pilihannya pun jatuh pada dunia kuliner.

Hingga akhirnya, dia memilih belajar di SMKN 8 Surabaya meski jauh dari rumahnya.

Sejak itu, kecintaannya pada dunia memasak pun tumbuh. Khususnya di bidang cake dan patisserie. Aroma vanila bercampur cokelat membuat Luisa semakin penasaran. Rasa keingintahuannya cukup tinggi. Termasuk bagaimana menemukan resep cake atau puding yang enak. Bahkan, kini dia sudah merintis bisnis kuliner tersebut.

Bisnis puding dimulai awal tahun lalu. Tepatnya, setelah Luisa lulus dari SMKN 8. Di kepala Luisa, ide membuat kreasi puding memang sangat banyak. Berbagai eksperimen juga sering dia lakukan. Sering gagal. Namun, dia tak pernah berhenti mencoba. Hingga akhirnya, ditemukanlah resep yang pas.

Bagi Luisa, Maret lalu adalah momen yang selalu diingatnya. Sebab, saat itu kali pertama Luisa mendapatkan order. Ceritanya, waktu itu dia hanya coba-coba, bermula dari reuni teman mamanya. Luisa dipercaya membuat snack dalam acara tersebut. Responsnya ternyata bagus. Teman-teman orang tuanya ternyata menyukai racikan Luisa. Katanya, rasanya enak dan tekstur pudingnya pas. Belum lagi aroma flanya yang cukup menggoda.

Luisa semakin percaya diri. Dibantu keluarga, dia terus memasarkan produknya. Pemasaran lebih sering dilakukan secara online. Pesanan puding memang belum banyak. Nominal rupiah sejatinya bukan tujuan utama bagi Luisa. Yang penting, bagaimana dia belajar mandiri tanpa bergantung pada orang lain.

Begitu juga saat mengerjakan pesanan. Dia menimbang, mencampur, hingga mengemas sendiri. ’’Sesekali dibantu si Mbak (asisten rumah tangga),’’ ucap Luisa, malu-malu.

Keingintahuan dan rasa penasaran membuat Luisa terus bereksperimen. Bukan hanya puding, muffin cokelat juga dia buat. ’’Kalau yang muffin, saya bikin produknya baru Maret lalu,’’ terang perempuan berzodiak Scorpio tersebut.

Luisa menuturkan bahwa semua produk, baik aneka macam puding maupun muffin, diberi nama Ahavah yang berarti cinta. ’’Itu bahasa Ibrani,’’ sambungnya.

Kemandirian dan keuletan Luisa tak bisa dilepaskan dari peran sang mama, Ninik Pudjiastuti. Ninik pun begitu. Yang diinginkan sederhana. Yakni, Luisa bisa hidup normal. ”Setidaknya saat usianya tiba, Luisa bisa menjalani hidupnya sendiri. Tidak bergantung pada kakak atau adiknya,” kata Ninik.

Peran Ninik menjadi motivasi bagi Luisa. Apalagi ketika 2003 duka menghampiri keluarganya. Ayah Luisa, Ching Anto, meninggal dunia karena kecelakaan. Sekali lagi, Ninik tetap kuat, ikhlas, dan tabah. Fokusnya hanya satu, yakni merawat ketiga buah hatinya dengan baik. Termasuk mendidik Luisa agar bisa lebih baik.

Keinginan Luisa menjadi pengusaha kuliner sukses memang menggebu. Bahkan, bila itu berhasil, dia bisa membantu banyak orang. ’’Salah satunya membuka lowongan pekerjaan untuk mereka,” terangnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/git



Close Ads