alexametrics

Truk Antre Berjam-jam Tunggu Solar, Pengusaha Ancam Kandangkan Armada

Pertamina Bantah Kelangkaan Stok
15 November 2019, 15:48:52 WIB

JawaPos.com – Kemacetan parah terjadi di Jalan Kalianak kemarin (14/11). Ratusan truk kontainer mengular. Antrean panjang di SPBU merupakan penyebab utama kemacetan itu.

Salah satunya di SPBU 54.601.123 Jalan Kalianak. Sejak pukul 06.00 puluhan truk kontainer mengantre. Terutama di jalur pengisian solar Para pengemudi memutuskan untuk mengisi bahan bakar dengan cara full tank atau sekitar 130 liter. Sebab, bahan bakar solar langka.

Misalnya, yang dilakukan Subadi, sopir truk. Demi mendapatkan solar, pria 30 tahun itu harus mengantre selama dua jam. Meski sangat lama, hal tersebut tetap dilakukannya. Selama ini Subadi kerap pergi ke Madura dengan mengendarai truknya. Dia tidak mau berspekulasi. Di sana tidak ada SPBU yang menjual solar. Di semua SPBU, solar habis. Karena itu, Subadi memilih putar balik ke Surabaya.

Di SPBU-SPBU lain, antrean panjang juga terjadi. Di antaranya, SPBU di Jalan Kalianak, Margomulyo, Jakarta, Gresik, dan Demak. ”Sejak kemarin-kemarin, pada pukul 14.00 ke atas pasti solar di seluruh SPBU di ruas jalan tersebut habis. Jadi, kalau mau dapat solar, mengisinya harus pagi,” ucap dia.

Supervisor SPBU Jalan Kalianak Dedi Firmansyah mengatakan, sudah seminggu terakhir penjualan BBM solar meningkat. Dalam sehari, 24 ribu liter solar habis dalam waktu cepat. Biasanya dalam setengah hari saja.

Persoalan kemudian muncul. Truk kontainer yang tidak mendapatkan solar tak mau menyingkir. Pengemudinya memarkir truk untuk menunggu pasokan solar. Penumpukan kendaraan tersebut memicu kemacetan. ”Ada yang nungguin. Ada juga yang cari di tempat lain. Kami tidak bisa memastikan jam berapa mobil tangki berisi BBM solar datang ke sini,” ujarnya.

Meski ada peningkatan penjualan solar, Dedi mengatakan bahwa kelangkaan belum terjadi di SPBU-nya. Setiap hari pendistribusian bahan bakar berlangsung normal. Baik BBM jenis pertalite, pertamax, dex, premium, maupun solar.

Dia menduga, permintaan solar meningkat karena terjadi kelangkaan di daerah lain. Dengan begitu, sopir memutuskan untuk mengisi bahan bakar secara full sebelum melakukan perjalanan.

Kasatlantas Polres Pelabuhan Tanjung Perak AKP Ayip Rizal mengatakan, kemacetan akibat antrean panjang di SPBU tidak hanya terjadi di Jalan Kalianak, tapi juga Jalan Margomulyo dan Greges.

Kelangkaan bahan bakar solar di wilayah Surabaya tentu saja membuat pengusaha angkutan barang kelimpungan. Mereka mengeluh. Sebagian memutuskan untuk berhenti beroperasi karena sulit mendapatkan solar.

Ketua Organda Khusus Pelabuhan Tanjung Perak Kody Lamahayu menyebutkan bahwa kelangkaan berlangsung sejak dua minggu terakhir. Puncaknya tiga hari terakhir. Gara-gara itu, Organda banjir keluhan dari pengusaha. ’’Sehari, rata-rata 10 pengusaha mengeluh. Ada yang mengandangkan armadanya karena putus asa,” kata Kody.

Dia tak menampik soal adanya penumpukan kendaraan angkutan barang di jalur-jalur protokol kawasan utara. Antrean terjadi di 14 SPBU yang berdekatan dengan kawasan pelabuhan.

Lantas, apa langkah Organda? Kody mengatakan sudah mengirim surat ke sejumlah instansi. Mulai Pertamina, kepolisian, hingga dishub. Dia berharap pasokan solar lancar lagi.

Keluhan mengenai kelangkaan solar bersubsidi juga disampaikan Ketua DPC Organda Surabaya Sonhaji. Dia menegaskan bahwa instansinya menunggu situasi seminggu ke depan. Jika solar masih langka, Organda mengancam untuk mogok. ’’Yang jelas, kami akan stop operasi jika masih sulit mendapatkan bahan bakar,” tegas Sonhaji. ]

BBM Bersubsidi Dibeli Orang Mampu

Pertamina membantah adanya kelangkaan stok di SPBU sampai memicu kemacetan. Khususnya untuk BBM jenis solar bersubsidi. Unit Manager Communication and CSR Pertamina MOR V Rustam Aji menyatakan, stok di terminal BBM (bahan bakar minyak), kilang, dan tanker masih aman.

Hal tersebut sangat berbeda dengan solar yang boleh disalurkan. ”Kalau stok itu BBM yang tersimpan, itu masih dalam jumlah aman dan Pertamina masih bisa menyalurkannya. Kalau alokasi itu volume yang boleh disalurkan,” terangnya kemarin (14/11) Rustam menjelaskan, penyaluran jenis BBM tertentu (JBT) atau BBM bersubsidi dan jenis BBM khusus penugasan (JBKP) dilakukan berdasar kuota. Di Jawa Timur, distribusi solar sudah melebihi batas kuota yang ditetapkan. Yang seharusnya hingga akhir Oktober hanya 1.740.000 kiloliter. Namun, sudah tercatat 1.915.000 kiloliter. Surabaya menjadi salah satu kota dengan konsumsi solar yang cukup tinggi.

Pertamina, kata Rustam, tidak mengurangi volume BBM. Namun, berdasar regulasi yang ada, penyaluran premium dan solar harus sesuai dengan alokasi yang ditetapkan pemerintah. Pertamina berharap penyaluran BBM bersubsidi bisa tepat sasaran. Selama ini, kelebihan kuota konsumsi BBM itu disebabkan BBM bersubsidi lebih banyak dibeli orang-orang yang tergolong mampu secara ekonomi.

Padahal, sesuai Peraturan Presiden (Perpres) No 191/2014, BBM tertentu –termasuk jenis solar bersubsidi– hanya diperuntukkan kalangan tertentu. Di antaranya, industri rumah tangga, usaha mikro, pertanian, perikanan, transportasi, dan pelayanan umum. ”Termasuk kendaraan pribadi dengan kapasitas mesin atau CC kecil,” jelas Rustam.

Pertamina sejatinya sudah memiliki hitung-hitungan yang riil terkait kebutuhan solar bersubsidi di setiap daerah. Termasuk di Jatim. Namun, hal itu tidak dibarengi dengan kesadaran masyarakat ekonomi menengah ke atas yang seharusnya menggunakan solar nonsubsidi (dexlite).

Bagaimana solusi atas minimnya pasokan BBM jenis solar di wilayah Jatim, khususnya Surabaya? Yang jelas, pihaknya memastikan tetap melayani permintaan konsumen untuk menyalurkan BBM bersubsidi jenis solar. ”Meski harus diakui, kondisi saat ini memang terjadi kelebihan kuota untuk solar tersebut,” ucapnya. (adi/c6/git)

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : ian/hen/c7/git



Close Ads