alexametrics

Nasdem Dekati PSI dan Demokrat untuk Pilwali Surabaya

Cari Mitra Koalisi tanpa Mahar Politik
15 Oktober 2019, 14:48:57 WIB

JawaPos.com – Partai Nasdem masih melakukan penjajakan untuk mencari mitra koalisi dalam menghadapi pemilihan wali kota (pilwali) 2020. Meski hanya punya tiga kursi di DPRD, Nasdem berani menentukan kriteria untuk calon mitra koalisinya. Salah satunya, partai yang akan diajak bergabung tidak boleh mematok mahar politik.

Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPD Nasdem Surabaya Sri Hono Yularko mengklaim sudah ada beberapa partai yang merapat. Di antaranya, PAN, Gerindra, dan PSI. Namun, menurut dia, baru PSI yang berkomitmen untuk tidak membahas soal mahar politik.

Sri Hono menilai partainya memiliki pandangan yang sama dengan PSI. Khususnya soal mahar politik. Dia berpendapat bahwa mahar politik bisa merusak demokrasi. Namun, tidak bisa dimungkiri bahwa masih ada parpol yang meminta mahar politik kepada para calonnya.

Menurut Hono, masing-masing parpol memiliki pandangan yang berbeda soal mahar politik. Ada yang menganggapnya biasa. Ada pula yang menilai mahar politik tidak diwajibkan.

Mahar politik tidak hanya diberlakukan bagi para calon secara personal. Hono mengaku ada partai yang sempat meminta mahar agar bisa menjadi mitra koalisi. Sayang, dia tidak mau menyebutkan. ”Itulah yang membuat kami harus lebih selektif dalam mencari mitra koalisi,” ujarnya kemarin (14/10).

Karena itu, dia menginginkan bermitra dengan PSI. Selain itu, Nasdem sedang membangun komunikasi politik dengan Partai Demokrat. ”Karena Nasdem tidak bisa mengusung calon sendiri. Minimal harus bermitra dengan dua partai lain,” jelasnya.

Khusus untuk Demokrat, Hono mengaku belum intens berkomunikasi. Namun, dia percaya bahwa partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono itu masih mau membuka diri. ”Di DPRD kita juga satu fraksi,” tuturnya.

Dia memastikan partainya tidak akan meminta para calon membayar mahar politik untuk maju sebagai calon kepala daerah. Namun, kata dia, harus dibedakan antara mahar politik dan ongkos politik. Misalnya, biaya operasional calon. ”Ya, itu ditanggung masing-masing calon,” ucapnya.

Hingga saat ini, calon yang mendaftar ke DPD Nasdem belum bertambah. Jumlahnya masih sama, yakni 15 orang. Dari 15 nama yang masuk, baru Vinsensius Awey yang mengembalikan formulir pendaftaran beserta visi-misinya.

Awey mengaku ingin menunjukkan keseriusannya maju sebagai orang nomor satu di Surabaya. Dia mengklaim sudah mengantongi dukungan dari mayoritas warga Surabaya Barat. Perolehan suara saat dirinya maju sebagai anggota DPR kemarin menjadi tolok ukur. ”Walaupun gagal, saya mendapat 14 ribu suara yang mayoritas warga Surabaya barat,” ujarnya.

Menurut Awey, jumlah suara itu masih bisa bertambah. Sebab, hingga saat ini sudah ada beberapa forum diskusi yang dia bentuk. Semuanya tersebar di seluruh penjuru Kota Pahlawan. Mulai Surabaya Selatan, Surabaya Timur, sampai Surabaya Utara. Wilayah barat menjadi basisnya.

Selain itu, dia sudah menjalin komunikasi dengan beberapa tokoh. Baik politisi, tokoh agama, ormas, maupun tokoh masyarakat. Namun, dia tidak mau menyebutkan siapa saja tokoh-tokoh tersebut.

Yang jelas, tekadnya untuk maju dalam kontestasi pemilihan wali kota (pilwali) tidak main-main. Selain mengembalikan formulir pendaftaran, Awey mengaku sudah menyiapkan visi-misi. Intinya, Surabaya harus bisa lebih baik. ”Bukan hanya infrastrukturnya. Tapi, SDM-nya juga harus berkualitas,” ujar mantan anggota Komisi C DPRD Surabaya itu.

Awey mengapresiasi kinerja Wali Kota Tri Rismaharini soal pembangunan infrastruktur. Namun, menurut dia, hal itu tidak dibarengi dengan pembangunan kualitas sumber daya manusia (SDM). Karena itu, ke depan pembangunan SDM harus menjadi prioritas.

Secara terpisah, Sekretaris DPD PSI Surabaya William Wirakusuma menyatakan, partainya belum mengambil keputusan terkait mitra koalisi. Termasuk dengan Nasdem. Saat ini PSI masih berfokus untuk menjaring calon melalui pendaftaran terbuka.

Namun, soal mahar politik, ketua Fraksi PSI di DPRD Surabaya itu sepakat dengan Nasdem. Mahar politik, menurut dia, bisa merusak citra demokrasi. ”Setiap orang punya kesempatan yang sama. Kalau pakai mahar politik, hanya yang mampu bayar yang bisa ikut (pilwali, Red),” tegasnya

Partai yang Sudah Membuka Pendaftaran:

PDIP : 18 bakal calon

– Memiliki 15 kursi di DPRD Surabaya

– Bisa mengusung calon sendiri tanpa berkoalisi dengan partai lain

Partai Nasdem : 15 bakal calon

– Memiliki 3 kursi di DPRD Surabaya

– Butuh minimal 7 kursi lagi untuk bisa mengusung cawali

Partai Solidaritas Indonesia : 12 bakal calon

– Memiliki 4 kursi di DPRD Surabaya

– Butuh minimal 6 kursi lagi untuk bisa mengusung cawali

Catatan:

Partai atau koalisi partai harus memiliki minimal 10 kursi atau 20 persen dari jumlah anggota DPRD Surabaya yang mencapai 50 orang untuk bisa mengusung calon dalam pilwali 2020.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : adi/c6/ano


Close Ads