alexametrics

Kondisi Labil, Keterangan Pembunuh Teman Masa Kecil di Kafe Berbelit

15 September 2019, 19:29:20 WIB

JawaPos.com – Meski sudah memasuki hari kelima pasca ditetapkan sebagai tersangka, pemeriksaan terhadap Sholahuddin Al Ayyubi, tersangka pembunuh Hadryl Choirun Nisa, 24, di warung kopi Cafe Penjara, Cerme, begitu rumit.

Pemicunya, keterangan yang disampaikan pemuda 24 tahun tersebut kerap berubah. Juga berbelit-belit. Diduga, kondisi psikologis tersangka masih labil.

Gara-gara itu pula, Sulthon Sulaiman, kuasa hukum tersangka, dibuat pusing tujuh keliling. ”Itu (keterangan berubah-ubah) yang bikin mumet,” kata Sulthon saat dihubungi kemarin (14/9).

Hingga kemarin, penyidik maupun pengacara Ayyubi masih kesulitan untuk mengorek motifnya menghabisi Nisa, teman waktu kecilnya itu. Semula Ayyubi mengaku tidak mempunyai niat membunuh gadis yatim 25 tahun asal Desa Sukoanyar, Cerme, tersebut. Nisa dihabisi karena tidak mau nalangi uang untuk melunasi utang Ayyubi.

Namun, belakangan ada kabar pembunuhan telah direncanakan tersangka Ayyubi karena sakit hati cintanya ditolak. ”Dia belum mau ungkapkan secara jujur kepada kami,” kata Sulthon.

Sebelumnya, Sulthon dkk ditunjuk penyidik Polsek Cerme sebagai pengacara prodeo alias cuma-cuma karena tersangka tidak mampu secara ekonomi untuk membayar pengacara dalam proses penyidikan.

MEMILUKAN: Korban Hadryl Choirun Nisa semasa hidup. (Chusnul Cahyadi/Jawa Pos)

Karena itu pula, saat ini Sulthon dkk masih menunggu hasil visum et repertum korban Nisa dari RSUD Ibnu Sina Gresik. Plus reka ulang untuk bisa memastikan motif serta cara pembunuhan yang dilakukan Ayyubi. Penyidik Polsek Cerme merencanakan reka ulang besok (16/9).

Seperti diberitakan, di hadapan penyidik, Ayyubi mengaku sedang mumet karena terbelit utang. Warung kopinya tutup sejak tiga bulan lalu. Padahal, kebutuhan sehari-hari tetap harus terpenuhi. Belum lagi ditambah beban kebutuhan konsumtif seperti membeli smartphone dan sejenisnya. Apalagi, utang itu melalui rentenir. Pinjaman tersebut berbunga.

Saat olah TKP, Ayyubi mengaku jumlah utangnya sekitar Rp 10 juta. Karena itu, kreditor terus datang menagih. Selasa malam Ayyubi pun gelap mata. Dia menghubungi Nisa untuk datang ke Cafe Penjara di Desa Banjarsari, Cerme. Ayyubi berharap Nisa bisa memberikan pinjaman. Ternyata Nisa menolak. Setelah itu, pembunuhan tersebut terjadi. Ayyubi mendekap tubuh ramping gadis berhijab berkulit kuning itu. Lalu, mencekiknya hingga tewas.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : yad/c10/ris



Close Ads