alexametrics

Nol Bayi Hepatitis B di Simolawang berkat Skrining Pranikah

14 Desember 2019, 19:48:23 WIB

JawaPos.com – Penularan virus hepatitis B bukan hanya secara horizontal. Antara lain, jarum suntik atau kontak dengan cairan tubuh penderitanya. Tak sedikit yang tertular secara vertikal, yaitu dari ibu ke bayi saat persalinan.

Di Puskesmas Simolawang, setiap bulan hampir selalu ditemukan penderita baru hepatitis B. Itu diketahui melalui pemeriksaan calon pengantin dalam program 1.000 hari pertama kelahiran (HPK). Calon suami dan istri wajib menjalani skrining untuk mengetahui positif hepatitis B atau tidak. Selain itu, skrining dilakukan untuk mengetahui calon pengantin terpapar penyakit HIV dan sifilis atau tidak.

Para calon suami atau istri yang mengalami hepatitis B akan dikawal sejak sebelum menikah hingga memiliki anak usia 2 tahun. Bidan sekaligus anggota pelaksana program 1.000 HPK Sri Wahyuni Amperawati menuturkan, bila salah satu terbukti menderita hepatitis B, pasangannya harus tahu. ”Sebab, penyakit itu bisa menular melalui hubungan seksual. Pasangannya harus tahu risiko akan tertular hepatitis B,” ucapnya.

Selanjutnya, ketika pasangan berencana memiliki momongan, puskesmas juga terus mengawalnya. ”Kami tawarkan kepada mereka untuk mendapatkan pendampingan,” ujarnya.

Menurut Rara, sapaan Sri Wahyuni, apabila tidak ada kesadaran dari ibu untuk mencegah penularan kepada anaknya, rantai penyakit hepatitis tidak akan terputus. Sebab, jika sudah terdapat dalam tubuh seseorang, virus hepatitis B tidak bisa dihilangkan. Seseorang bisa terjangkit virus hepatitis B secara aktif maupun sebagai pembawa.

Tentu saja, jika tak diberi tindakan pencegahan, anak juga bisa mengidap hepatitis B. Pendampingan pada keluarga dengan hepatitis B bertujuan mengurangi hingga memutus rantai penularan hepatitis B.

Ibu hamil (bumil) yang mengidap penyakit peradangan hati itu akan diberi obat antivirus. Namun, obat tersebut tidak tersedia di puskesmas. Karena itu, jika memungkinkan, bumil bisa dirujuk ke dokter spesialis kandungan atau penyakit dalam.

Jika dibutuhkan, obat antivirus tersebut diresepkan untuk diminum selama kehamilan. Obat itu dapat mengurangi virus dalam tubuh dan risiko infeksi bayi saat kelahiran. Selain itu, bumil dianjurkan mengubah gaya hidup yang bisa memperlambat proses kerusakan hati.

Di Puskesmas Simolawang, saat usia kandungan 9 bulan, darah bumil akan kembali dicek untuk menegakkan diagnosis bahwa dia mengalami hepatitis B. ”Itu sudah menjadi program dari Pemkot Surabaya,” jelasnya.

Selanjutnya, begitu lahir, bayi akan langsung diberi vaksin di rumah sakit tempat ibu melahirkan. ”Sebab, Puskesmas Simolawang tidak memiliki layanan persalinan. Makanya, kami yang akan membawa vaksin itu ke tempat persalinan ibu,” tuturnya.

Berkat penanganan yang maksimal soal hepatitis B di wilayah kerja Puskesmas Simolawang, hingga saat ini, tidak ada bayi yang tertular orang tuanya. Hal tersebut merupakan keberhasilan program 1.000 HPK.

Puskesmas Simolawang mendapatkan bantuan dari RT dan RW serta para kader dalam menemukan warga yang menderita hepatitis B. ”Ketua RT dan RW akan mengarahkan para calon pengantin untuk skrining di puskesmas. Sementara itu, kader akan membantu pemantauan selama mereka menikah hingga punya anak usia 2 tahun,” kata Kepala TU Tri Sulistyaningati.

Tantangan terbesar yang selama ini dialami para petugas Puskesmas Simolawang adalah mendorong kesadaran keluarga agar mau ikut pendampingan. ”Kadang ada keluarga yang belum aware dengan pendampingan tersebut,” ucapnya

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : ika/c20/nor


Close Ads