alexametrics

Kirim 2 Juta Pil Koplo, Bandar Libatkan Orang Dalam Ekspedisi

Juga Ditemukan 1,5 Juta Dextromethorphan
14 Desember 2019, 15:48:41 WIB

JawaPos.com – Jaringan pengedar obat keras yang dibongkar polisi akhirnya ditunjukkan ke awak media kemarin (13/12). Termasuk jutaan butir pil dobel L atau pil koplo dan dextromethorphan yang disita sebagai barang bukti. Dalam perkara itu, tujuh orang yang ditangkap ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah Erik Amaludin, 40; Roby Wijaya, 41; Suyono, 51; Agus Edi Prayitno, 38; Suherman, 43; Sambang, 42; dan Choirul, 47.

Kapolrestabes Surabaya Kombespol Sandi Nugroho menyatakan, para tersangka mempunyai peran berbeda dalam kelompok. Erik, misalnya. Warga Kebon Agung, Jambangan, Surabaya, tersebut adalah pemesan paket. ’’Orang kepercayaan bandar,’’ katanya.

Bandar yang dimaksud ialah Agus. Dari proses penyidikan, warga Mojokerto itu diketahui sebagai pemimpin jaringan. Agus, ujar dia, tidak memesan pil sendiri untuk mengaburkan identitas Dengan menyuruh orang lain, potensi untuk langsung tertangkap lebih kecil.

’’Jutaan pil yang diamankan sebagai barang bukti dikirim dari Jogjakarta,’’ tuturnya. Hanya, alamat yang digunakan ternyata fiktif. Jadi, pihaknya belum bisa meringkus orang yang menjadi pengirim paket.

Sandi menjelaskan bahwa jutaan pil yang dipesan itu dikirim lewat jasa ekspedisi. Untuk memuluskan aksinya, jaringan tersebut melibatkan orang dalam. Yakni, Suyono. ’’Statusnya pengawas ekspedisi. Makanya bisa berjalan mulus tanpa terlacak. Ditutup orang dalam,’’ ucapnya.

Lebih lanjut, polisi kelahiran Salatiga itu menyatakan bahwa Erik hanya memesan. Tugas mengambil paket di kantor ekspedisi di Jalan Semut Kali tersebut menjadi tanggung jawab Roby. Warga Jalan Sidotopo Wetan itu biasa mengambil paket dengan sebuah mobil pikap. ’’Mobilnya juga disita sebagai barang bukti,’’ ungkapnya.

Satresnarkoba yang mengungkap jaringan tersebut pun mendapat apresiasi. Sebab, penangkapan tiga tersangka dengan barang bukti awal 2 juta butir pil koplo itu tidak membuat personel puas. ’’Dari ketelatenan anggota, kelompok ini akhirnya bisa dibongkar lebih dalam,’’ ujarnya.

Agus yang menjadi otak sindikat dapat dibekuk. Bukan hanya itu, jajarannya juga menemukan barang bukti lain. Yaitu, 1,5 juta butir pil dextromethorphan. ’’Ditambah dengan tiga tersangka lain,’’ tutur perwira dengan tiga melati di pundak tersebut.

Lulusan terbaik Akpol 1995 itu menjelaskan, tiga tersangka terakhir ditangkap berdasar keterangan Agus. Suherman, Sambang, dan Choirul merupakan pengedar pil koplo di Mojokerto. Mereka mendapatkan pasokan langsung dari Agus. ’’Bisnis sudah berjalan sekitar satu tahun,’’ katanya.

Berdasar pemeriksaan, penyidik mengambil kesimpulan bahwa Agus merupakan pemadat kelas berat. Agus bisa menghabiskan sekitar 5 gram SS setiap pekan. ’’Residivis juga,’’ ucapnya. Agus pernah mendekam di tahanan pada 2006.

Kasatresnarkoba Polrestabes Surabaya Kompol Memo Ardian mengungkapkan, jaringan tersebut mempunyai gudang persembuyian di Mojokerto. Agus menyewanya. ’’Disimpan di sana setelah diambil dari kantor ekspedisi,’’ jelasnya.

Agus cukup licin. Dia memiliki trik tersendiri agar gudangnya tidak gampang terlacak. Yakni, selalu pindah tempat. ’’Maksimal penyewaan tempat hanya dua bulan. Setelah itu ganti lokasi,’’ katanya. Tempat yang dipilih juga selalu permukiman yang tidak padat sehingga tak mengundang perhatian masyarakat.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : edi/c20/tia


Close Ads