alexametrics

Cari Pengganti Risma yang Bisa Menuntaskan Problem Transportasi

14 Agustus 2019, 18:15:42 WIB

SIAPA sosok yang tepat menggantikan Wali Kota Tri Rismaharini? Sebanyak 15 akademisi Universitas Airlangga kemarin memberikan gambaran figur seperti apa yang dibutuhkan warga Surabaya.

REKTOR Universitas Airlangga Prof Dr Mohammad Nasih mengatakan, warga memerlukan rujukan calon pemimpinnya kelak. Menurut dia, sumber rujukan yang paling akurat dan netral berasal dari para akademisi. ”Kami harapkan warga menggunakan hasil diskusi ini sebagai rujukan untuk memilih nanti,” kata Nasih kemarin (13/8).

Dia percaya ada banyak tokoh yang layak melanjutkan kepemimpinan Risma. Namun, memang belum banyak yang bermunculan. Dia mengibaratkan tokoh-tokoh tersebut adalah bintang. Namun, mereka belum berani menunjukkan sinar karena masih tertutup rembulan. ”Nanti kalau bulannya sudah enggak ada, bintang-bintang akan bermunculan,” ujar rektor Unair sejak 2015 itu.

Beragam tema dibahas dalam diskusi kemarin. Mulai transportasi publik yang mapan, akses kesehatan, pendidikan yang masih perlu perbaikan, ekonomi kreatif, identitas sebagai warga Kota Pahlawan yang mulai luntur, problem lingkungan hidup, pembangunan hukum, hingga literasi warga tentang kota yang kurang.

”Kalau boleh usul skala prioritas, yang harus diselesaikan dulu itu persoalan transportasi. Baru pengembangan ekonomi wilayah terintegrasi,” kata dosen fakultas ekonomi dan bisnis (FEB) Wasiaturrahmah.

Mengapa begitu? Produk domestik regional bruto (PDRB) Surabaya yang paling tinggi adalah perdagangan besar dan eceran. Disusul reparasi perawatan mobil dan sepeda motor.

Nah, tingginya uang yang beredar pada bidang reparasi itu menunjukkan bahwa jumlah kendaraan bermotor di Surabaya begitu besar. Angkanya selalu naik dari tahun ke tahun. Karena itu, Rahmah yakin, jika transportasi publik tak segera mendapatkan perbaikan, Surabaya bakal menjadi seperti Jakarta.

Dari hasil penelitian yang dilakukannya, rata-rata warga Surabaya mengeluarkan 40 persen pendapatannya untuk urusan transportasi. Mulai mencicil mobil atau motor hingga membayar pajak kendaraan, bahan bakar, dan perawatan. ”Karena itulah, salah satu kriteria smart city adalah smart transportation. Dan saya merasa bahwa tugas wali kota selanjutnya adalah hal ini. Siapa yang dapat menyelesaikannya,” lanjutnya.

Tuwanku Aria Auliandri menyampaikan problem dari kacamata ekonomi mikro. Khususnya yang berhubungan dengan internal organisasi di lingkungan pemkot. Ada 21 dinas yang menurut dia adalah tangan dan kaki wali kota. ”Selama kepala dinasnya terus-terusan berasal dari birokrat, Surabaya tak akan ke mana-mana,” ujarnya.

Mereka Bicara Wali Kota ke Depan

Fakultas Kedokteran (FK)

  • Dr dr Gadis Meinar Sari MKes

Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB)

  • Dr Wasiaturrahmah SE MSi
  • Tuwanku Aria Auliandri SE MSc

Fakultas Psikologi

  • Dr Nurul Hartini

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)

  • Drs Aribowo MS
  • Dr Drs Suko Widodo MSi
  • Fahrul Muzaqqi SIP MIP
  • Drs Gitadi Tegas Supramudyo MSi
  • Dina Septiani BComm MComm

Sekolah Pascasarjana

  • Dr Suparto Wijoyo

Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM)

  • Dr dr Santi Martini MKes
  • Dr Lutfi Agus Salim SKM MSi

Fakultas Hukum (FH)

  • Nurul Barizah SH LLM PhD

Fakultas Ilmu Budaya (FIB)

  • Dr Purnawan Basundoro SS MHum
  • Kukuh Yudha Karmanta SS MA

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : sal/c7/git/bersambung

Close Ads