alexametrics

Swalayan Tidak Boleh Buka 24 Jam, Aprindo: Surabaya Perlu Pengecualian

14 Januari 2020, 13:48:51 WIB

JawaPos.com – Swalayan di Surabaya tidak boleh buka 24 jam. Ketentuan baru yang sedang dibahas di DPRD Surabaya itu banyak ditentang. Sebab, masih banyak warga yang beraktivitas hingga dini hari. Tak sedikit juga kebutuhan warga kota yang harus dipenuhi saat pagi. Staf ahli Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Abraham Ibnu sering memberikan masukan bagi kabupaten maupun kota terkait raperda pusat perbelanjaan. Pembatasan itu memang berlaku di sejumlah daerah. Namun, khusus Surabaya dia merasa perlu ada perbedaan.

”Yang dilayani Surabaya itu bukan cuma warganya lho. Banyak yang kerja di sini, transit di sini. Masak mau cari minimarket harus menunggu pukul 9 pagi,” kata Abaraham kemarin.

Aktivitas warga ramai sejak subuh. Mereka yang berangkat kerja atau sekolah sering mencari roti untuk sarapan di minimarket. Banyak juga yang membutuhkan minimarket untuk mengisi kartu tol.

Abraham lalu menyebutkan bahwa Surabaya kembali mengukir prestasi di kancah internasional dengan menyabet predikat kota terfavorit dalam ajang Guangzhou International Award 2018. Artinya, Surabaya juga melayani para pendatang dari mancanegara. Karena itu, dia mengharapkan minimarket tidak dibelenggu dengan aturan tersebut.

Dalam draf raperda pusat perbelanjaan, minimarket baru boleh buka pukul 09.00. Senin–Jumat toko swalayan itu harus tutup pukul 22.00. Sabtu, Minggu, dan hari libur lainnya boleh buka hingga pukul 23.00. Khusus untuk minimarket di jalan arteri boleh buka 24 jam atas seizin wali kota.

Abraham memahami bahwa pemerintah daerah bisa menentukan kebijakan lokal. Namun, dia menegaskan bahwa pengaturan yang berlebihan bisa berbenturan dengan aturan yang lebih tinggi.

Dia menyebut Perpres Nomor 112 Tahun 2007 Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern serta Permendag Nomor 70 Tahun 2013 tentang Pedoman Penataan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern. ”Kalau terlalu menyimpang dari ketentuan di atasnya, provinsi hingga Kemendagri bisa mengoreksinya,” jelas mantan koordinator Aprindo wilayah Indonesia Timur itu.

Kabag Hukum Pemkot Surabaya Ira Tursilowati menerangkan bahwa usulan raperda itu muncul dari DPRD Surabaya. Pemkot sebenarnya memiliki keinginan yang sama untuk merevisi perda pusat perbelanjaan tersebut. ”Dari situ usulan dewan dijadikan satu dengan pemkot,” kata Ira.

Dia menegaskan, semua draf yang disusun sudah sesuai dengan aturan yang lebih tinggi. Karena itu, Ira tidak khawatir jika aturan yang sudah disusun tersebut bakal dikoreksi.

Ira juga memahami kekhawatiran Aprindo terkait kebutuhan masyarakat. Terutama saat pagi. Pemkot memiliki program pemberdayaan toko kelontong. Nanti toko kelontong bentukan pemkot tersebut bisa menempati halaman minimarket sebelum pukul 09.00. ”Nah, yang sebelum pukul 9 itulah yang dipakai untuk menumbuhkan perekonomian rakyat,” lanjut Ira.

Toko kelontong tersebut juga boleh buka saat minimarket tutup pada pukul 22.00 atau 23.00. Dengan begitu, kebutuhan masyarakat tetap bisa terpenuhi. Program toko kelontong itu dikoordinasikan di dinas perdagangan. Selama ini pemkot sudah membina sejumlah toko kelontong di berbagai wilayah.

Ira menambahkan bahwa selain jalan arteri, ada sejumlah minimarket yang boleh buka selama 24 jam. Yakni, minimarket yang bangunannya berada di dalam fasilitas umum. Mulai stasiun, bandara, terminal, pelabuhan, hingga rumah sakit.

Selain itu, Ira menegaskan bahwa jarak minimarket dengan pasar tradisional harus diatur. Minimal setengah kilometer. Hal tersebut perlu diatur karena banyak pedagang pasar yang mengeluhkan omzetnya turun gara-gara minimarket ada di mana-mana.

Selain itu, ketentuan jarak antarminimarket bakal kembali dibahas. Ketentuan itu sebenarnya sudah diatur dalam perda lama. Namun, sampai sekarang masih banyak minimarket yang bersebelahan atau berhadap-hadapan. ”Saya rasa sudah berkurang banyak kok. Kalau masih ada, nanti kami cek lagi penegakan hukumnya,” tegasnya

Syarat Pendirian Minimarket

– Berjarak minimal 500 meter dari pasar tradisional.

– Minimarket yang pengelolanya individu atau bukan jaringan waralaba bisa mendirikan usahanya dengan jarak minimal 100 meter.

– Mendapatkan izin lurah dan camat.

– Rekomendasi pendirian swalayan diprioritaskan bagi warga yang berdomisili di lokasi tersebut.

– Menyediakan fasilitas bersih, higienis, aman, tertib, dan nyaman.

– Menyediakan fasilitas bagi usaha kecil dan menengah pada posisi yang sama-sama menguntungkan.

– Menyediakan parkir yang memadai.

– Menyediakan sarana pemadam kebakaran.

– Buka pukul 09.00 tutup pukup 22.00 (Senin–Jumat) dan pukul 23.00 (Sabtu, Minggu, dan hari libur)

Sumber: Draf Raperda Pusat Perbelanjaan Surabaya

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : sal/c6/git


Close Ads