alexametrics

Polda Jatim Tunda Penerapan E-TLE hingga Kamis Ini

14 Januari 2020, 17:09:56 WIB

JawaPos.com – Penerapan e-TLE (electronic traffic law enforcement) ditunda lagi. Ditlantas Polda Jatim masih memberikan kesempatan dua hari lagi kepada masyarakat untuk mencoba mengonfirmasi surat verifikasi tilang. Sebab, selama sepekan terakhir belum ada warga yang datang untuk mengonfirmasi penilangan tersebut.

Dirlantas Polda Jatim Kombespol Budi Indra Dermawan mengatakan, dari hasil evaluasi selama sepekan, belum ada pelanggar yang menukarkan surat tersebut. Nah, surat itu baru aktif ditukarkan hari ini. Berdasar hal tersebut, tim memutuskan untuk menambah dua hari uji coba tilang elektronik itu. ”Kami masih berikan kesempatan. Kamis, 16 Januari, kami resmikan penerapannya,” ucap dia.

Perwira dengan tiga melati itu mengungkapkan, belum ada kendala terkait teknis tilang Terutama soal sistemnya. Selama sepekan, sistem e-TLE dari kamera CCTV yang terkoneksi dengan komputer RTMC masih berjalan lancar. Buktinya, kamera canggih di 25 titik tersebut secara otomatis menangkap banyak pelanggaran. Dalam sehari, satu titik kamera itu mampu menangkap 800–900 pelanggaran. ”Bayangkan, itu satu titik saja. Kalau 25 titik, berapa pelanggaran? Bisa-bisa lebih. Makanya kami batasi penerapan besok 500–700 pelanggar saja. Kalau uji coba, 100 orang saja,” jelas dia.

Dia mengungkapkan, 100 orang tersebut sangat beruntung. Alasannya, mereka mendapat pelajaran bahwa e-TLE memang canggih. Mereka bisa mengetahui pelanggaran yang dilakukan. ”Bisa mengklarifikasi secara langsung di Siola. Itu sangat canggih,” ujarnya.

Sementara itu, Kasubdit Gakkum Polda Jatim AKBP Aditiya Panji Anom mengatakan, beberapa hari lalu ada masalah di komputer yang berada di Siola. Namun, saat ini masalah tersebut telah terselesaikan. Kini masyarakat telah melakukan konfirmasi dengan benar.

Pada bagian lain, Kasatlantas Polrestabes Surabaya AKBP Teddy Candra membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan, masyarakat sudah bisa mengklarifikasi surat itu.

Para pelanggar rata-rata mengaku terkejut dengan surat tilang dari polisi lalu lintas. Alasannya, pihak kantor pos mengirimkan surat tersebut secara langsung ke setiap rumah. Per hari petugas kantor pos mengantarkan 100 surat di area Surabaya dan Sidoarjo. ”Banyak apresiasi. Mereka awalnya ngeyel, terus karena lihat pelanggaran yang dilakukan, mereka jadi sadar,” jelasnya.

Namun, tenang saja. Karena masih uji coba, surat tersebut telah distempel dengan tulisan Teguran Simpatik. Artinya, mereka tidak perlu mengurus hingga ke kantor kejaksaan. Teguran itu hanya berlaku sampai di pos gakkum. ”Verifikasi itu untuk lepaskan blokir STNK saja. Sekaligus sosialisasi,” jelasnya.

Pada bagian lain, dalam pantauan Jawa Pos, petugas RTMC sibuk memilah sejumlah pelanggaran. Mulai speed camera, tidak pakai sabuk pengaman saat berkendara, hingga pelanggaran markah. Mereka juga sibuk menstempel surat verifikasi yang bakal diberikan ke kantor pos. Dalam sehari operasi, mereka menempatkan tiga regu. Setiap regu terdiri atas 10 personel.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya Irvan Wahyudrajad mengungkapkan bahwa pihaknya sudah menyiapkan kamera-kamera dengan kemampuan mumpuni untuk penerapan e-TLE tersebut. Ada yang terpasang di perempatan jalan. Ada pula yang terpasang di ruas jalan, terutama yang berfungsi untuk memantau kecepatan kendaraan.

”Kalau kendaraan lebih dari 40 kilometer per jam, otomatis akan terekam oleh kamera speed tersebut,” ungkap Irvan kemarin. Batas kecepatan 40 kilometer per jam itu sudah menjadi kesepakatan yang melibatkan banyak pihak, mulai akademisi hingga praktisi. Pada kecepatan lebih dari 40 kilometer per jam, kendaraan sulit dikendalikan bila mengerem mendadak. ”Di negara lain seperti Eropa malah ada yang cuma 30 kilometer per jam di dalam kota,” tambah dia.

Soal penerapan e-TLE, Dishub Surabaya menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian. Pemkot dalam hal ini memberikan dukungan terhadap akses kamera-kamera yang dimiliki pemkot. Sebab, pemkot juga berkepentingan membuat warga semakin taat pada aturan-aturan lalu lintas.

”Tentu bukan hanya warga Surabaya. Tapi, juga luar kota. Jadi, harus dibiasakan terus-menerus untuk taat berlalu lintas,” jelas Irvan.

Dari data dishub, sedikitnya ada 53 CCTV electronic traffic enforcement (e-TLE) yang terdiri atas 43 kamera e-tilang dan 10 kamera lainnya untuk memantau kecepatan. Dari jumlah tersebut, 20 kamera e-tilang dan 5 speed camera telah terintegrasi.

Total CCTV yang dimiliki dishub 500 unit. Kamera-kamera itu tersebar di persimpangan dan ruas jalan di Surabaya.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya M. Fikser menambahkan bahwa dukungan pemkot untuk pelaksanaan e-TLE itu juga melalui pemberian akses fiber optic. Dia menyebutkan, ada main hole di sekitar RS Bhayangkara yang kemudian dihubungkan ke Polda Jatim.

”Kalau sudah menggunakan FO, kendala jaringan relatif sedikit sekali. Sehingga sistem bisa diandalkan,” ungkap Fikser

 

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : den/jun/c6/ady


Close Ads