alexametrics

Sekolah Masih Daring, Pembeli Seragam Sekolah Turun hingga 90 Persen

13 Juli 2020, 17:48:26 WIB

JawaPos.com ‒ Satu lagi bisnis yang terpukul pandemi Covid-19. Penjual seragam sekolah yang biasanya panen pembeli di minggu-minggu seperti ini harus menelan ludah. Tahun ajaran baru sudah datang. Namun, sistem pembelajaran masih menggunakan sistem daring. Tidak ada tatap muka, tidak ada seragam baru. Pedagang pun gigit jari.

Salah satunya Haji Solahuddin. Pemilik toko seragam di Jalan Pandegiling itu mengatakan bahwa tahun ini penjualan seragam di tokonya benar-benar merosot. Jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. ’’Saya berjualan sejak tahun tujuh puluhan, tapi baru kali ini merasakan ajor nemen,’’ ucap pria 70 tahun itu Minggu (12/7).

Dia memprediksi penurunan penjualan hingga 90 persen. Pembelinya pun setiap hari bisa dihitung dengan jari. Seharusnya, Juli seperti saat ini menjadi berkah bagi dirinya dan pengusaha seragam. Pada masa persiapan masuk sekolah, penjualan bisa meningkat hingga dua kali lipat. Sehari bisa 50 pembeli yang berdesakan ke tokonya.

’’Tapi, sekarang pembeli sehari hanya 5‒10 orang,’’ ucapnya. Jangankan untung, di masa saat ini, bisa balik modal saja sudah syukur. Hingga kemarin, modalnya baru kembali sekitar 50 persen.

Tidak hanya sepi pembeli, selama pandemi beberapa orang yang datang juga membeli seperlunya saja. Biasanya, satu pembeli bisa membeli lima setel seragam. Namun, belakangan seorang pembeli hanya beli satu setel. Bahkan ada yang beli eceran. Beli celana saja atau sepotong baju.

Tahun ini memang serbaberat bagi pengusaha seperti dirinya. Penjualan sepi. Mau buat program potongan harga untuk menarik pembeli juga susah. Sebab, harga bahan baku seragam naik semua. ’’Tahun ini semuanya juga naik,’’ ucapnya.

Hal serupa disampaikan Rohimin, pedagang seragam di Jalan Pulo Wonokromo. Dia memang bukan pemain lama dalam penjualan seragam. Tokonya baru buka 10 hari lalu. Namun, dia sudah membenarkan bahwa penjualan seragam sekolah sepi.

’’Baru laku dua setel sejak buka,’’ ucapnya. Dia menuturkan, penjualan seragam sekolah sepi karena tahun ajaran baru pembelajaran di kelas tahun ini belum dimulai. Jika sudah masuk nanti, Rohimin optimistis penjualan bakal lancar kembali.

Tahun ajaran baru dimulai hari ini (13/7). Namun, di Surabaya pemangku kebijakan dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah kompak tidak memasukkan siswa ke sekolah. Pengenalan lingkungan sekolah dibuat lewat skema virtual. Pembelajaran dilangsungkan secara daring.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : elo/c15/any



Close Ads