alexametrics

Hari Pertama PSBB Surabaya Jilid 2, Kendaraan Lewat Naik 40 Persen

13 Mei 2020, 09:05:55 WIB

JawaPos.com − Hari pertama perpanjangan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sudah dilakukan Selasa  (12/5). Sayangnya, pelanggaran masih banyak ditemukan di lapangan. Salah satunya di checkpoint bundaran Waru. Tak hanya itu, volume kendaraan juga mengalami kenaikan. Bahkan, dibandingkan dua minggu lalu, volume kendaraan naik 40 persen.

Kasatlantas Polrestabes Surabaya AKBP Teddy Candra mengatakan bahwa pada hari pertama PSBB jilid kedua, masih ditemukan pelanggaran.

Baik kendaraan bermotor maupun pribadi. Petugas langsung mengambil tindakan tegas, yakni mengembalikan ke tujuan awal.

Jenis pelanggaran yang masih ditemukan dan jumlahnya cukup banyak adalah soal physical distancing. Misalnya, untuk kendaraan bermotor. Banyak didapati pengendara yang berboncengan, tetapi tidak dalam satu alamat KTP yang sama. ”Pelanggaran ini paling banyak ditemukan di lapangan,” katanya kemarin siang.

Menurut dia, pelanggaran tersebut tidak hanya terjadi pada kendaraan luar Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. Tetapi, banyak juga pelat L dan W yang melakukan pelanggaran serupa. Alhasil, tanpa surat teguran, mereka langsung dihalau ke tempat tujuan awal.

Hal itu juga terjadi pada kendaraan pribadi. Banyak kendaraan yang melebihi kapasitas 50 persen. Karena itu, sering kali petugas menurunkan penumpang. Jika tidak, mereka akan disuruh putar balik ke tempat awal. Jadi, kata Teddy, untuk kendaraan pribadi sekarang dibatasi jumlah penumpangnya. Misal, kemarin muat enam orang sekarang tidak boleh melebihi tiga orang.

Pelanggaran paling banyak terjadi pukul 07.00−11.00. Berdasarkan data Dishub Provinsi Jatim, dalam kurun empat jam, terdapat 70 pengendara motor yang melanggar. Semuanya diminta putar balik oleh petugas. ”Jumlah pelanggaran memang fluktuatif,” Kanit Turjawali Polrestabes AKP Warih Hutomo.

Warih menyebutkan, mulai pukul 06.30−10.30 terdapat 80 kendaraan pribadi yang diperintah putar balik. Semuanya melanggar karena kelebihan kapsitas penumpang. Jika ditotal dalam kurun empat jam, setidaknya ada 150 kendaraan yang melakukan pelanggaran.

Teddy menjelaskan, banyaknya pelanggaran tak lain karena jumlah volume kendaraan yang masih tinggi. Nah, itu dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya, banyak pabrik atau tempat usaha yang masih beroperasi. Sebab, sebagian besar pengendara yang melintas adalah para pekerja. ”Kalau soal sosialisasi kurang sepertinya enggak, apalagi ini sudah 15 hari berjalan,’’ terangnya.

Volume kendaraan kemarin, kata dia, jika dibandingkan minggu pertama pelaksanaan PSBB sedikit naik. Berdasar pengamatan, setidaknya ada kenaikan 30−40 persen. Pihaknya berharap masyarakat bisa lebih kooperatif. Dengan harapan, PSBB tahap kedua bisa efektif menekan angka persebaran virus Covid-19.

Kepala Satpol PP Surabaya Irvan Widyanto menuturkan, patroli untuk sosialisasi dan penegakan hukum sesuai aturan PSBB terus dilakukan. Dalam sehari, ada dua tim yang berpatroli keliling kota. ”Sekarang penegakan lebih diutamakan. Kalau ada tempat usaha yang termasuk tidak dikecualikan, ya akan kami tutup,” ungkap Irvan kemarin.

Tim satpol PP bernama Tim Pakai Masker dan Jaga Jarak itu bergerak ke timur dan selatan. Di antaranya, ke Dharmahusada, Dharmawangsa, Kertajaya, Pucang, Ngagel, Nginden, Prapen, hingga Jemursari. Tim yang begerak ke pusat kota dan utara melewati sejumlah ruas jalan utama. Yakni Undaan Wetan, Undaan Kulon, Tembaan, Tugu Pahlawan, Indrapura, Rajawali, dan Kembang Jepun.

Data hingga Senin (11/5), tercatat ada 141 tempat usaha yang mendapatkan surat teguran. Sebanyak 394 tempat usaha lainnya telah diberi sosialisasi secara langsung oleh Satpol PP Surabaya. Tempat yang didatangi petugas satpol PP mulai toko etalase, toko lemari, penjual helm, hingga penjual nasi goreng kambing.

Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Surabaya Eddy Christijanto menuturkan, pada PSBB tahap pertama, pelanggaran paling banyak terkait physical distancing. Dari temuan tim patroli, masih ada kerumunan serta tempat makan yang menyediakan meja dan kursi. Yang terbanyak kedua adalah warga yang tak memakai masker. ”Pada PSBB tahap kedua ini, penindakannya ada yang yustisial dan nonyustisial. Nonyustisial bersifat administrasi. Misalnya, keluar rumah tanpa masker,” jelas Eddy.

Sudah PSBB, Jalanan kok Masih Ramai

  • Masih banyak pabrik dan tempat usaha yang buka. Masih banyak pekerja yang keluar masuk kota.
  • Pemilik usaha masih abai dengan aturan PSBB. Mereka menunggu didatangi petugas sebelum menutup sendiri tempat usahanya.
  • Tidak sedikit pemilik usaha yang mengharuskan karyawannya bekerja.
  • Warga tidak memiliki pekerjaan lain selain tempat usahanya sekarang. Karena itu, mereka memilih nekat meski sudah tahu melanggar.
  • Penindakan secara tegas belum masif dilakukan.

Sumber: Diolah dari berbagai sumber

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : omy/jun/c6/git

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads