alexametrics

Hapus Jam Malam di Gresik, Operasi Jadi 24 Jam

Pasien Positif Bertambah Empat Orang
13 Mei 2020, 17:07:14 WIB

JawaPos.com – Masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tahap pertama berakhir Senin (11/5). Namun, mulai Selasa (12/5) warga Gresik masih harus melanjutkan aturan itu sampai 25 Mei mendatang. Bahkan, patroli akan makin ketat. Tidak lagi ada jam malam. Sebab, petugas gabungan akan melakukan razia kapan saja selama 24 jam.

Bukan hanya itu. Jika pada PSBB tahap pertama checkpoint hanya ada di 17 wilayah perbatasan, pada tahap kedua akan diperluas hingga desa/kelurahan. Pemberian sanksi sebagai efek jera juga diperberat. Seperti instruksi Pemprov Jatim, sanksi bisa berupa larangan pengurusan perpanjangan masa berlaku SIM atau SKCK dalam kurun waktu tertentu hingga diinapkan di polres atau kodim.

Pengetatan tersebut bukan tanpa pertimbangan. Meski jika dibandingkan dengan Surabaya dan Sidoarjo jumlah paparan jauh lebih sedikit, tren persebaran Covid-19 di Gresik masih butuh kepedulian, kepatuhan, dan kedisiplinan seluruh elemen masyarakat.

Kemarin (12/5) kasus terkonfirmasi positif bertambah lagi sebanyak empat orang. Sebelumnya, sudah ada 37 orang. Kini totalnya menjadi 41 orang. Dua pasien positif tambahan berasal dari klaster pabrik rokok Sampoerna, Surabaya. Seorang lainnya adalah pedagang ayam. Satu lagi masih dilacak tim gugus tugas.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik drg Syaifuddin Ghozali mengatakan, empat tambahan itu berasal dari Desa Bambe, Kecamatan Driyorejo, serta Desa Hulaan, Sidowungu, dan Laban di Kecamatan Menganti. ”Mereka sudah dalam perawatan. Semoga saja sembuh,” harapnya.

Ghozali menegaskan, tim Gugus Tugas Covid-19 Gresik masih terus menelusuri data warga Kota Pudak yang bekerja di pabrik rokok Sampoerna, Surabaya. Dalam perkembangannya, terus ada penambahan jumlah. Baik jumlah pekerja maupun potensi persebaran. Sejauh ini, sudah terdata 217 warga Gresik yang bekerja di Sampoerna. Mungkin jumlahnya terus bertambah.

Tambahan terbaru berasal dari Kecamatan Kebomas. Dari kecamatan itu, terdata delapan warga yang bekerja di pabrik rokok tersebut. Sebelumnya, tim gugus tugas mencatat 189 warga. Lalu, mereka semua sudah di-rapid test. Hasilnya, 36 pekerja dinyatakan reaktif. Namun, mereka belum tentu positif karena masih menunggu hasil tes swab. ”Kita berharap dan berdoa agar tidak muncul klaster baru di Gresik,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Pemkab Gresik Abu Hasan mengatakan, pemberlakuan jam malam pada PSBB tahap pertama hanya merupakan langkah pengurangan kerumunan pada pukul 21.00 sampai 04.00. Nah, mulai kemarin sampai dua pekan ke depan, selama 24 jam warga dilarang untuk berkerumun atau nongkrong di luar. ”Kalau sebelumnya operasi gabungan biasa dilakukan malam hari, selanjutnya juga dilakukan siang hari,” paparnya.

Soal sanksi, tegas Abu, ada pengetatan. Bahkan, dia mengatakan, Senin malam (11/5) ada 27 warga yang dibawa ke mapolres. Mulai pemilik hingga pengunjung warung. ”Ada 20 laki-laki dan 7 perempuan. Mereka diinapkan di polres. Setelah itu, kami periksa,” ucapnya.

Komandan Gugus Tugas Covid-19 Nadlif menambahkan, pihaknya bersyukur karena dari hasil evaluasi PSBB tahap I, grafik persebaran Covid-19 di Gresik cenderung terendah. Pertimbangannya, di Surabaya ada lebih dari 200 tambahan positif, lalu Sidoarjo dengan 108 tambahan positif, tapi di Gresik selama 14 hari hanya bertambah 12 kasus positif.

Sementara Optimalkan Ibadah di Rumah dengan Keluarga

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tahap kedua bakal berlangsung hingga Hari Raya Idul Fitri. Khusus soal aktivitas ibadah berjamaah, Pemkab Gresik memastikan tidak melarang. Hanya, pemkab membatasi dan memberikan imbauan.

Menurut Plh Sekda Gresik Nadlif, dalam peraturan bupati (perbup) tentang PSBB, tidak ada pelarangan. Hanya, pelaksanaan ibadah di rumah harus benar-benar menjadi pertimbangan bersama saat persebaran Covid-19 masih tinggi. ”Kami tidak melarang, tapi ada baiknya sementara ini tidak membuka masjid untuk salat berjamaah,” ujarnya.

Dia mengatakan, semua pihak sudah mengetahui bahwa tidak semua orang yang membawa virus itu memperlihatkan gejala. Banyak temuan paparan virus korona dari mereka yang masuk kategori orang tanpa gejala (OTG). Jadi, imbauan beribadah di rumah itu diambil demi kebaikan bersama. ”Saya ini juga takmir masjid. Kalau ingin tetap berjamaah, bisa berjamaah dengan istri dan anak di rumah. Saya juga kangen jamaah di masjid,” paparnya.

Tidak hanya mengimbau pembatasan salat berjamaah di masjid, tim gugus tugas juga tahun ini menonaktifkan kegiatan umum tradisi malam selawe yang biasa diselenggarakan di area wisata religi makam Sunan Giri. Tapi, tradisi malam selawe di rumah masing-masing silakan tetap dilanjutkan. ”Pada tradisi malam selawe, biasanya banyak warga berziarah ke makam. Bahkan pengunjung dari luar kota. Nah, karena sementara ini ditutup, nanti kami halau dengan memberikan edukasi dan imbauan,” tambah Kepala Satpol PP Gresik Abu Hasan.

Untuk rencana salat Id dan takbiran, tim gugus tugas menyerahkannya kepada masyarakat. Namun, jika kondisi masih pandemi seperti sekarang, mengumandangkan takbir dari rumah ke rumah dianggap lebih efektif. Di masjid mungkin cukup 1-2 orang saja. ”Contoh, di luar negeri itu bernyanyi dari kamar apartemen secara serentak. Bisa dicontoh takbiran di teras rumah, kemudian saling sahut antara tetangga kan juga bisa,” ujarnya.

Poin-Poin Perbedaan PSBB Lanjutan

PSBB Tahap I (28 April–11 Mei)

  • Berlaku jam malam mulai pukul 21.00 hingga 04.00.
  • Terdapat 17 checkpoint di perbatasan.
  • Warga diberi sosialisasi dan pelanggar dijatuhi sanksi ringan.
  • Petugas menyasar kawasan-kawasan umum.
  • Jumlah personel relatif terbatas.

PSBB Tahap II (12–25 Mei)

  • Tidak ada jam malam. Larangan berkerumun berlaku 24 jam.
  • Checkpoint diperluas di 330 desa dan 26 kelurahan.
  • Ada tambahan 1.200 personel.
  • Operasi menyasar permukiman, pasar, hingga industri.
  • Sanksi lebih berat.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : son/yog/c11/hud

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads