alexametrics

Wilayah Utara Merana, Aliran PDAM di Surabaya Timur Kecil

12 September 2019, 16:28:04 WIB

JawaPos.com – PDAM sudah mengumumkan bahwa air normal sejak kemarin. Namun, masih banyak pelanggan PDAM di wilayah pinggiran yang belum mendapat aliran air sama sekali hingga kemarin.

Salah satunya Ahmad Firdaus. Dia memiliki aktivitas baru. Sepulang sekolah, bocah 13 tahun itu rutin ngangsu. Sebab, air PDAM yang ada di kawasan rumahnya, Wonosari Mulyo, Kelurahan Wonokusumo, Surabaya Utara, belum mengalir hingga kemarin sore (11/9) Sesekali Firdaus harus dibantu seorang warga saat mendorong gerobak berisi air di kawasan Bulak Jaya pukul 15.00 kemarin. ”Berat,” kata siswa kelas VIII SMP tersebut. Jarak antara tempat ngangsu dan rumah Firdaus sekitar 200 meter.

Sore itu Firdaus mengaku sudah dua kali bolak-balik mengambil air. Dia mengambil air dengan menggunakan jeriken berukuran 30 liter di dalam gerobak. Setiap gerobak berisi 10 jeriken.

Hal yang sama masih dirasakan warga Bulak Rukem Gang 3, Kelurahan Wonokusumo, Semampir. Malam dan siang mereka harus ngangsu untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Di sana air PDAM juga belum mengalir sama sekali hingga kemarin sore.

Salah satunya Nur Azizah. Kemarin perempuan 25 tahun itu tampak sibuk memindahkan air di dalam ember di depan rumahnya. Tepatnya di kawasan Bulak Rukem Gang 3. ”Wis oleh pirang-pirang dino ngene iki,” katanya. Sedikit demi sedikit, air itu akan dipindahkan menuju ke kamar mandi untuk mengisi bak yang sudah kosong empat hari belakangan.

Azizah mengungkapkan, air yang ada di teras rumahnya didapat dari ngangsu siang itu. Yakni, dari kawasan Bulak Jaya yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya. Dia mengambil air dengan menggunakan jeriken berukuran 20 liter di dalam gerobak.

Setiap gerobak berisi 12 jeriken Namun, air itu tidak gratis. Azizah mengaku harus membeli air tersebut dari salah seorang warga yang lain. Setiap gerobak berisi 12 jeriken tersebut dihargai Rp 6.000.

Di bagian lain, seorang warga Bulak Banteng Bandarejo, RW III, Subaidah menerangkan, air PDAM yang masuk ke rumahnya berbau. ”Mirip bau got. Sebenarnya tidak layak pakai,” ucapnya. Namun, karena menggantungkan kegiatan sehari-hari lewat air tersebut, dia tak punya pilihan. ”Hanya air minum yang kami bedakan. Kami beli galon,” ungkapnya.

Dia mengatakan, air berbau itu cukup meresahkan warga. Karena itu, Subaidah berharap PDAM mengecek air yang dikirimkan ke warga. ”Jangan sampai hal itu membuat warga tidak nyaman menggunakan air PDAM,” jelas Subaidah.

Di wilayah Surabaya Utara lainnya, aliran air juga belum keluar hingga kemarin. Di antaranya, Platuk Donomulyo, Wonosari DBAL, Tambakwedi Tengah, Dukuh Bulak Banteng Patriot, dan Sawah Pulo.

Sementara itu, air di wilayah Surabaya Timur mulai keluar. Meski, debitnya masih kecil. Pantauan di Gubeng Airlangga, air yang sebelumnya sempat keruh kini mulai jernih. Kendati kualitas air lebih baik, warga harus menggunakan air sumur untuk mencukupi kebutuhan. ”Warga terpaksa pakai sumur, saya sama punya tetangga yang lain juga,” kata Budi Santoso.

Sementara itu, Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Indonesia (YLKI) Jatim meminta PDAM Surya Sembada bertanggung jawab penuh selama terganggunya pasokan air ke pelanggan. Bila perlu, ada kompensasi kepada pelanggan yang terdampak pemutusan aliran air tersebut.

Ketua YLKI Jatim Said Sutomo mengungkapkan, selama tersendatnya saluran air ke pelanggan beberapa hari ini, dirinya mendapat banyak keluhan. Terutama dari beberapa pelanggan yang sebelumnya tidak termasuk terdampak pemasangan pipa.

Dia menilai PDAM juga tidak melakukan pengerjaan sesuai dengan perencanaan. Dalam arti, sebelumnya menyebut pemadaman hanya berlangsung sehari. Tapi, kenyataan di lapangan, pemadaman berlangsung berhari-hari.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : yon/jar/elo/sal/dan/c10/git



Close Ads