alexametrics

Bambang D.H. Ingatkan sang Istri, Jadi Wali Kota Dinilai Penuh Risiko

12 September 2019, 18:03:11 WIB

JawaPos.com – Dyah Katarina menjadi orang keenam yang mengambil draf pendaftaran bakal calon wali kota Surabaya di DPC PDIP kemarin (11/9). Mantan Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono (BDH), suami Dyah, memperingatkan bahwa jadi wali kota itu penuh risiko. ’’Aku malah beri warning. Tidak mudah jadi kepala daerah sekarang. Aku justru beri gambaran risikonya,’’ kata mantan ketua Badan Pemenangan Pemilu DPP PDIP itu kemarin. Bambang tak tahu bahwa Dyah mengambil formulir tersebut. Dia baru tahu informasi itu dari grup WhatsApp.

Selain sibuk menjadi anggota DPRD Surabaya, Dyah aktif sebagai ketua Paguyuban Bunda Pos PAUD Terpadu Kota Surabaya. Banyak dukungan dari bunda PAUD kepada dirinya untuk maju sebagai calon wali kota. Dia juga memiliki jaringan kuat di PKK Surabaya.

Dia sudah tahu bahwa Bambang D.H. punya jagoan lain. Namun, dia tak pernah protes jika suaminya tak memberikan dukungan agar dirinya maju pilkada. Bambang memberitahunya risiko-risiko menjadi wali kota yang memang tak mudah. ’’Mas Bambang bilang begitu karena lebih mengkhawatirkanku,’’ kata mantan anggota Komisi D DPRD Surabaya tersebut.

Salah satu risiko yang disampaikan sang suami adalah berurusan dengan masalah hukum. Dyah menyatakan, Bambang DH dikejar masalah japung, padahal dia sudah berada dalam track yang benar. Namun, itulah risiko menjadi kepala daerah yang memiliki banyak lawan politik. Ada risiko kesalahan, bakal dicari-cari dengan tujuan menjatuhkan.

Kendati demikian, Dyah sudah lama memikirkan keputusan untuk ikut andil dalam pilwali. Jika sang suami tak mendukung, keluarga besarnya justru mendorong dirinya untuk maju. Sementara itu, jika bertemu dengan komunitas dan warga, Dyah mendapatkan banyak dukungan. ’’Saya tahu ada yang cuma guyon. Tapi, banyak juga yang benar-benar tulus dan serius,’’ lanjutnya.

Daripada ambil pusing, Dyah akhirnya memberanikan diri datang ke DPC PDIP. Toh, dia belum pernah mengunjungi kantor partai yang baru digunakan dua pekan belakangan itu. Kantor lama di Jalan Kapuas sudah tak digunakan karena kontrak habis. Dyah juga terlambat menghadiri rapat paripurna yang berjalan cukup cepat. Yakni, 15 menit langsung buyar. Sebab, agendanya hanya satu. Yakni, penetapan pimpinan DPRD Surabaya. ’’Akhirnya, saya ke DPC ambil formulir itu. Santai saja enggak yang gimana-gimana,’’ katanya.

Dyah menyatakan, ada mekanisme partai setelah dia mengembalikan formulir tersebut. DPP PDIP bakal menggodok nama-nama yang masuk. ’’Lolos atau tidak nanti pasti ada penilaiannya,’’ lanjutnya. Setelah mengambil formulir, dia langsung melengkapi berkas-berkas. Salah satunya tes urine untuk menguji bakal calon bebas narkoba. Plt Kasi Rehabilitasi BNNK Surabaya dr Singgih Widi Pratomo menuturkan, hasil uji tes Dyah negatif. Zat terlarang tidak ditemukan dalam kandungan urinenya. ’’Hasilnya bagus,’’ ujarnya.

Singgih mengapresiasi parpol yang menerapkan aturan calon bebas narkoba. Sebab, calon pemimpin adalah panutan. Dia menjelaskan, tes urine dilakukan dengan gayeng. Dyah sesekali mengajaknya bertukar pikiran tentang masalah narkoba di Surabaya

Cari Yang Lebih Galak daripada Risma

Makin banyak ruang yang tersedia untuk figur-figur yang akan maju dalam pemilihan wali kota Surabaya. M. Sholeh yang sudah mendeklarasikan diri untuk maju di jalur independen bertatap muka dengan masyarakat yang mayoritas pemuda di Rolag Cafe.

Putra semata wayang Wali Kota Surabaya Tri Rismarini, Fuad Bernardi, turut dalam acara tersebut. Diskusi santai kemarin siang (11/9) itu membahas problem-problem anak muda alias milenial. Sebab, mayoritas peserta yang hadir adalah kaum milenial.

Yang dibahas ialah kebiasaan anak muda cangkruk di cafe atau warung kopi, bermain game, dan kepedulian mereka dengan dunia politik. Menurut Fuad yang juga ketua Karang Taruna Surabaya, anak muda perlu diberi contoh lebih dulu tindak tanduk politik yang santun. ”Politik juga biasa dibahas dengan santai. Misalnya, sambil ngopi atau apalah,” ujarnya.

Sholeh menyebutkan, saat dirinya masih menjadi aktivis mahasiswa pun, banyak kaum muda yang apatis dengan politik. Tetapi, tetap perlu ada yang berkiprah di politik. Sebab, berperan dalam politik bisa memberikan banyak pengalaman. ”Anak-anak yang dulu hanya text book dan berorganisasi itu beda banget. Yang berorganisasi lebih banyak pengalaman dan relasi,” ungkapnya.

Pria yang berprofesi sebagai advokat tersebut secara terus terang juga menyatakan niatnya untuk maju dalam pilwali. Sebab, dia yakin saat ini belum ada sosok yang benar-benar mempunyai figur kuat sebagai pengganti Risma. Jadi, semua orang berpeluang. Termasuk Fuad. ”Selama memiliki kemampuan dan dipilih rakyat, bisa saja Mas Fuad ini jadi. Kan banyak juga kepala daerah yang sudah dua periode lantas mendukung istrinya untuk maju,” tuturnya.

Tetapi, yang perlu menjadi catatan untuk calon pemilih milenial adalah kiprah orang tersebut, bukan sekadar program yang memaparkan rencana dan masa depan.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : sal/edi/jun/c20/c13/ano



Close Ads