alexametrics

Anggota Geng Kampung Jawara dan All Star Menangis di Kaki Ibu-Bapak

Bu Risma Kumpulkan Anak-Anak dan Orang Tua
11 Oktober 2019, 20:34:22 WIB

JawaPos.com – Tangis haru anak-anak itu pecah saat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meminta mereka untuk mencium kaki orang tua masing-masing. Anak-anak anggota geng Kampung Jawara dan All Star itu menangis sesenggukan. Orang tua mereka pun tak bisa berkata-kata. Mereka hanya mengusap air mata yang meleleh.

Risma, tampaknya, tak habis pikir atas perilaku anak-anak yang masih SMP itu. Di ruang pertemuan lantai 2 gedung mal pelayanan publik Siola tersebut, Risma mengumpulkan anak-anak itu siang kemarin (10/10) Lengkap bersama orang tua dan guru mereka. Hadir pula Kapolrestabes Surabaya Kombespol Sandi Nugroho dan Kasatreskrim AKBP Sudamiran serta perwakilan Polres Pelabuhan Tanjung Perak.

Saat ditanya alasan mereka ikut geng, anak-anak itu mengaku hanya ikut-ikutan. Mereka diajak cangkrukan dan lantas diprovokasi untuk menyerang kelompok lain. ’’Kalau diajak nyemplung sumur, emang mau kalian?’’ tanya Risma dengan nada tinggi. Anak-anak itu menjawab tidak mau setelah beberapa kali ditanya dengan pertanyaan yang sama.

Risma pernah mengumpulkan anak-anak anggota dua geng tersebut di rumah dinasnya awal September lalu. Saat itu mereka yang terlibat dalam dua geng itu berjanji tidak lagi ikut tawuran atau terlibat geng. Mereka pun diminta saling bermaafan dan tak ada lagi permusuhan antaranak Suroboyo.

’’Ini yang kedua lho. Ini yang kedua kali. Malu ibuk sama Pak Kapolres. Malu ibuk sama bupati/wali kota lain. Kalian anak-anakku,’’ kata Risma di hadapan anak-anak itu.

Dalam pertemuan tersebut, ada anak-anak yang sudah ditangkap polisi. Namun, dihadirkan pula anak-anak sekolah yang diduga ikut terlibat atau terpapar dua geng tersebut.

Risma pun meminta kedua geng diakhiri. Tak ada lagi geng Kampung Jawara dan All Star. Anak-anak itu juga harus berani menolak dan bahkan melapor bila ada yang mengajak terlibat dalam geng tersebut. Sudah ada aplikasi Jogo Suroboyo untuk melapor secara online. Command Center 112 milik Pemkot Surabaya juga siap menerima laporan tersebut.

’’Begitu keluar dari sini, tidak ada lagi itu geng Kampung Jawara dan All Star. Kalian berani menolak kalau diajak?’’ ujar Risma. Anak-anak itu dengan kompak menjawab berani.

Hampir sejam Risma memberikan pengarahan kepada anak-anak tersebut. Dia bertanya kepada beberapa anak. Bila menemukan kejanggalan, dia langsung meminta petugas untuk memperdalam tanya jawab dengan anak tersebut. Selain meminta maaf kepada orang tua masing-masing, anak-anak itu saling bermaafan dengan berjabat tangan dan berpelukan. Mereka tampak senyum-senyum saat melakukan hal tersebut.

Pada pengujung pertemuan, anak-anak diminta menuliskan nama, asal sekolah, alamat, serta keinginan mereka. Selembar kertas putih yang diberikan kepada anak-anak itu tak terisi penuh. Mereka menulis harapan pendek dan sederhana. Misalnya, ingin membahagiakan orang tua di dunia. Ada yang bercita-cita menjadi dokter dan berjanji tak akan mengulangi tawuran. ’’Mulai sekarang, kalian jangan mau dipengaruhi siapa pun untuk tawuran,’’ tegas Risma.

Sementara itu, Kapolrestabes Surabaya Kombespol Sandi Nugroho mengungkapkan, anak-anak itu diminta berani melapor bila ada yang mengajaknya masuk ke dalam kelompok geng tersebut. Salah satu caranya adalah melapor lewat aplikasi Jogo Suroboyo.

’’Kalau ada kumpul-kumpul yang mengganggu, kalau ada yang mengajak tawuran, silakan lapor di aplikasi Jogo Suroboyo,’’ katanya. 

Mereka Cuma Ikut-ikutan

Di hadapan anaknya yang sedang menangis, Imam Sayudi tak bisa membendung air mata. Dia sesenggukan. Imam tak menyangka anaknya yang dikenal keras kepala itu bisa menangis. ’’Gak nyongko aku, anakku nangis. Akhire ya ikutan nangis,’’ ujar Imam.

Mereka berdua menangis di hadapan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Imam dan putranya dipanggil secara khusus ke hadapan Risma dan Kapolrestabes Surabaya Sandi Nugroho. Sebab, saat sesi dialog, Imam terkesan keras kepada anaknya. Risma berharap Imam lebih sabar menghadapi putranya itu. ’’Kalau Bapak keras, putra Bapak juga akan lebih keras,’’ ujar Risma. Tapi, kepada putra Imam itu, Risma juga memintanya agar tidak ikut lagi kelompok atau geng tawuran tersebut. ’’Supaya bapakmu sayang sama kamu, ya sayang ya. Mengerti ya,’’ tambah Risma.

Imam yang tinggal di Sukomanunggal mengaku memang pernah memperlakukan putranya itu secara kasar. Dia pernah memukul putranya dengan besi di bagian punggung. Belakangan, dia begitu menyesal dengan perlakuan kasar tersebut. Bahkan, putranya itu sampai kabur dari rumah lebih dari sepekan ’’Mudah-mudahan dengan pertemuan ini tidak sampai anak saya ini jadi lebih nakal,’’ kata Imam.

Putra Imam pun menyesali perbuatannya. Remaja yang masih duduk di kelas VII sebuah SMP negeri itu mengaku benar-benar menyesal atas perbuatannya. Dia betul-betul kapok dimarahi wali kota. ’’Wes leren mari ngene nakale. Kapok aku,’’ kata anak tersebut.

Teman-temannya pun datang untuk memberikan support. Sebab, sudah dua pekan anak tersebut ditangani Polrestabes Surabaya. ’’Aku hanya ikut-ikutan. Tiba-tiba diajak kumpul, lalu diajak nyerang,’’ ujar siswa tersebut.

Seorang siswa yang hadir dalam pertemuan tersebut mengungkapkan bahwa dirinya pun tiba-tiba dimasukkan ke sebuah grup WA. Di dalam grup tersebut sudah ada geng. Menurut dia, geng Kampung Jawara itu terdiri atas banyak geng yang terafiliasi lebih dari 10 geng lain yang lebih kecil. Bahkan, ada geng dari Jakarta yang ikut gabung. ’’Ini anggota-anggotanya banyak. Kalau mau jadi anggota, bikin kaus, bikin atribut,’’ ujar anak bertubuh subur itu.

Sementara itu Eksistensi Geng Kampung Jawara perlahan mulai hilang. Bahkan, grup media sosial (medsos) geng itu disebut-sebut sudah bubar. ”Rizal yang bilang,” ujar Kanit Jatanras Polrestabes Surabaya Iptu Giadi Nugraha kemarin (10/10). Rizal yang dimaksud adalah Ahmad Ari Rizaldi. Warga Jalan Simorejo Sari itu merupakan satu di antara dua anggota Kampung Jawara yang mendekam di sel Polrestabes Surabaya. Mereka ditahan karena melakukan penganiayaan.

Rizal, kata Giadi, dibesuk saudaranya. Tidak hanya dikirimi makanan. Rizal juga mendapat kabar bahwa Geng Kampung Jawara yang diikutinya sudah tidak ada. Grup medsosnya bubar. Menurut saudaranya itu, pembubaran geng merupakan imbas dari banyaknya sorotan yang didapat akhir-akhir ini.

Anggotanya merasa takut kalau harus berurusan dengan polisi. ”Ya, kabar bagus juga buat kami,” kata Giadi. Meski begitu, alumnus Akpol 2012 tersebut tidak mau terlena. Sebab, kebangkitan geng itu bisa terjadi sewaktu-waktu. ”Mungkin saja suatu saat anggotanya kembali membentuk geng dengan nama lain. Bahkan sama,” sambungnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : jun/edi/c5/c6/c19/tia



Close Ads