alexametrics

Imbas Kemacetan di Surabaya Utara, Pengusaha Truk Rugi Rp 8 M Per Hari

11 September 2019, 18:48:52 WIB

JawaPos.com – Kemacetan panjang di jalur ekonomi Surabaya Utara menambah derita para pengusaha angkutan. Ketua DPC Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Surabaya Putra Lingga memperkirakan kerugian dari sisi transportasi mencapai Rp 8 miliar per hari.

’’Belum nanti kena penalti di pelabuhan atau ditinggal kapal,’’ kata Lingga kemarin (10/9). Rata-rata kerugian satu truk mencapai Rp 1 juta. Setiap hari ada 8.000 unit truk yang beroperasi di jalur utara tersebut. Dari situlah, angka kerugian Rp 8 miliar didapatkan.

Jika pengusaha telat mengirimkan barang ke kapal, tentu ada konsekuensi. Pertama, pihak pelabuhan memberikan dispensasi pengangkutan barang, tetapi ada uang penalti yang harus dibayarkan. Besarannya bervariasi. Mulai Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Kedua, jika hingga batas waktu yang ditentukan barang tetap tidak sampai ke kapal, kontainer bakal ditinggal.

’’Jelas kapal tak mau menunggu. Nah, cost pembatalan ini juga lebih merugikan kami,’’ tegasnya.

Salah satu solusi yang diharapkan pengusaha adalah pembukaan akses tol. Selama ini setiap truk yang mengambil jalur memutar lewat tol harus mengeluarkan biaya tambahan Rp 125 ribu. Biaya tambahan itu dihitung dari biaya tol dan bahan bakar Jika biaya tersebut dibebaskan hingga jalur kembali normal, arus distribusi barang lebih lancar. ’’Keadaannya mendesak. Mobil dan truk seharusnya dibebaskan dari biaya tol. Pengendara sepeda motor bisa tetap menggunakan jalan umum,’’ tuturnya.

Humas PT Pelindo III Regional Jatim Rendy Fendy mengungkapkan, saat ini banyak pemilik kapal yang mengajukan penambahan waktu singgah di dermaga. Sebab, pengiriman barang ke pelabuhan molor. ’’Sesuai dengan aturan, makin lama di dermaga, biaya yang harus dibayarkan kian bertambah,’’ terang Rendy.

Dia mengakui, rata-rata pemilik kapal tidak mau merugi. Mereka lantas meminta uang tambahan ke pemilik truk bila jadwal berlayar kapalnya molor. ’’Jadi, bukan kami yang memberikan penalti atau sanksi kepada pengusaha truk. Itu dari perusahaan pengelola angkutan laut,’’ jelas Rendy.

Dia menuturkan, otomatis molornya bongkar muat berpengaruh pada waktu dan jumlah antrean kapal masuk pelabuhan. Pelindo selaku pengelola pelabuhan pun mengatur jadwal secara cepat dan ketat. ’’Kami harus pastikan kapal masuk dermaga bergantian dan tidak sampai bertabrakan,’’ ujar Rendy.

Kemacetan juga berimbas pada turunnya pendapatan sopir angkut. Termasuk berpengaruh pada hasil retribusi di Terminal Osowilangun (TOW). Salah seorang sopir lin WK jurusan TOW–Keputih mengaku sekarang hanya bisa narik sekali. Padahal, sebelumnya dia bisa bolak-balik tiga kali. ’’Buat cari setoran aja kurang,’’ ucapnya kemarin siang.

Sementara itu, Muhammad, sopir angkot PTG jurusan Pasar Turi–Gresik, menjelaskan bahwa minimnya jumlah penumpang sebagai imbas kemacetan Branjangan berujung pada puluhan angkot dan bus kota dari berbagai jurusan tidak beroperasi sementara. ’’Bukannya males, tapi sing numpak angkot sopo?’’ ucapnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : sal/omy/hen/c14/tia

Close Ads