alexametrics

Warkop Dirazia untuk Cegah Covid-19, Penjaga Banting Gelas ke Petugas

Jaring 291 Orang, Tiga Positif Rapid Test
11 Mei 2020, 18:08:17 WIB

JawaPos.com ‒ Aparat gabungan Polri, TNI, dan satpol PP semakin gencar merazia warga yang keluyuran tidak jelas saat jam malam. Sabtu malam (9/5), 291 warga diangkut ke Mapolresta Sidoarjo. Tiga dinyatakan positif setelah menjalani rapid test.

Polisi, tentara, dan pol PP bergerak pukul 21.30. Tim gabungan menyasar seluruh kecamatan. Mengapa? Saat ini, hampir seluruh wilayah di Kota Delta berstatus zona merah. Jumlah warga yang terpapar Covid-19 terus bertambah.

Di Tebel, Gedangan, M. Syahrony diciduk petugas. Dia asyik cangkruk bersama teman-temannya. Namun, setelah dia terjaring razia, ada saja alasan yang diutarakan. ’’Saya tadi beli masker dan respirator,’’ ucapnya. Syahrony tak bisa lagi berkelit ketika ditanya tempat tinggalnya. Dia mengakui keluyuran. ’’Saya tinggal di Betro, Sedati,’’ tuturnya.

Abdullah Mubarok lain lagi. Warga Desa Barengkrajan, Krian, itu pasrah saat dijaring petugas. Terlebih, dia tidak mengenakan masker. ’’Lupa, masker tertinggal di rumah,’’ kilah pemuda 15 tahun tersebut. Ada 13 orang dari Krian yang menyita perhatian petugas. Mereka diamankan saat ngopi di warkop. Kelompok itu sudah menyusun strategi untuk mengelabui razia.

Sebelum petugas tiba, lampu warkop cepat-cepat dipadamkan. Sepintas, dari depan, tempat cangkruk itu tutup. Tak ada kegiatan. Namun, polisi curiga. Sebab, ada lebih dari lima motor yang parkir berderet.

Pintu warkop dibuka. Dugaan petugas benar. Di dalamnya, ada 12 orang yang tengah asyik ngobrol bersama satu penjaga warkop. Ketika digelandang, penjaga warkop itu mengamuk.

Berani-beraninya dia membanting gelas di depan petugas.

Karena melawan, 13 orang tersebut digelandang ke mapolresta. Salah satunya bernama Defry. Dia marah dan berkali-kali ngeyel. Dia protes kepada petugas. Dia pun beralasan warkopnya sudah tutup. ’’Lampu sudah dimatikan. Saya siap-siap tutup,’’ jelasnya.

Kapolresta Sidoarjo Kombespol Sumardji pun turun tangan. Dia meminta polisi memeriksa Defry. ’’Karena kamu terus melawan, sekarang kami periksa,’’ tegasnya. Menurut catatan polisi, sudah dua kali warkop Defry dirazia.

Polisi sebenarnya sudah menyita KTP-nya. Dia diminta mengambil KTP itu di Polsek Krian. Warkop harus tutup sebelum jam malam. Sayangnya, permintaan tersebut tidak diindahkan. Sumardji tak kalah tegas. Mereka diancam. Jika terus melanggar aturan, 13 orang itu dihukum. Mereka tak bisa mengurus surat-surat seperti KTP, SKCK, serta SIM.

’’Kamu mau warkop di-police line,’’ ujar Sumardji. Defry mulai keder. Dia mengaku bersalah. Sejurus kemudian, dia diminta meminta maaf kepada petugas.

Polisi kemudian memeriksa 291 warga yang terjaring razia itu. Mayoritas berusia muda. Ada 90 orang yang menjalani rapid test. Hasilnya, tiga orang reaktif, positif rapid test.

Sumardji mengungkapkan, ketiganya memang berteman. ’’Terjaring saat ngopi di dekat Stasiun Sidoarjo,’’ katanya. Setelah mendapatkan pengarahan, ketiganya diangkut menuju Balai Diklat Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Mereka bakal menjalani masa observasi. Setelah itu, merek bakal mengikuti swab test (uji usap). ’’Kami minta ketiganya karantina mandiri di rumah menunggu hasil uji usap,’’ ucap mantan Kasubdit Regident Polda Metro Jaya itu.

Hingga kemarin, terhitung tiga kali tim gabungan menggelar razia jam malam. Ratusan orang diamankan. Pertama, 256 orang. Lima warga reaktif. Kedua, 310 orang ditangkap saat keluyuran malam. Empat orang positif rapid test. Yang terakhir pada Sabtu, 291 terjaring. Tiga positif berdasar hasil rapid test.

Kasus Terus Bertambah, Penerima Bantuan Didata

Belasan kasus baru setiap hari menambah daftar pasien positif korona baru (Covid-19) di Kota Delta. Kemarin (10/5) dalam sehari, ditemukan 16 kasus baru. Sebelumnya, Sabtu (9/5), jumlah pasien baru mencapai 18 kasus. Total warga yang telah dinyatakan positif Covid-19 sekarang mencapai 186 orang.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo drg Syaf Satriawarman SpPros menyatakan, pertambahan kasus positif yang signifikan tersebut dipengaruhi banyak faktor. Di antaranya, hasil swab yang baru keluar bersamaan. Selain itu, meningkatnya jumlah pasien dalam pengawasan (PDP). Makin banyak PDP, peluang pertambahan kasus juga besar.

Uji cepat secara masal juga menambah banyak kasus positif. Sebab, dari berbagai rapid test, sering ditemui hasil reaktif. Itu mengindikasikan seseorang terinfeksi. Mereka yang hasilnya reaktif diuji swab. ”Hasil akhir biasanya 80 persen yang reaktif, swab positif,” ucap Syaf.

Di sisi lain, pemerintah desa masih mendata calon penerima bantuan langsung tunai (BLT) dari dana desa. Pendataan melibatkan pemdes, babinsa, bhabinkamtibmas, hingga tokoh masyarakat. ”Sementara belum dibagikan karena desa masih merapikan datanya,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Fredik Suharto kemarin. Dia berharap masyarakat bersabar agar penerima benar-benar sasaran yang tepat.

Kepala Desa Wage Bambang Heri menyebutkan, BLT belum dibagikan karena masih harus memverifikasi data lagi dan menunggu musyawarah desa. Tapi, bantuan sembako sudah dibagikan. Ada 644 KK yang menerima. ”Yang BLT sudah kami anggarkan,” katanya. Totalnya sekitar Rp 200 juta.

”Peruntukan bantuan itu adalah warga yang terdampak, tapi belum ter-cover bantuan,” terangnya. Misalnya, korban PHK. Biar tidak campur dengan data bantuan dari pemkab.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : aph/may/uzi/c6/c20/roz

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads