alexametrics

Modus Dokumen Palsu, Petugas Bongkar Anggrek Selundupan

11 Maret 2022, 16:27:46 WIB

JawaPos.com- Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya menggagalkan penyelundupan tanaman anggrek. Jumlahnya mencapai ratusan batang. Modusnya adalah memberikan keterangan palsu pada dokumen.

Penyelundupan tanaman hias itu digagalkan Rabu (9/3). Tepatnya sekitar pukul 15.40. Saat itu ada paket yang tiba di Bandara Internasional Juanda. Petugas BBKP Surabaya dan BBKSDA (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam) Jatim yang telah mengetahui info tersebut sudah menunggu di lokasi. Hasilnya, dugaan awal benar. Tiga kardus besar yang tiba di tempat kargo itu berisi ratusan tanaman anggrek.

Saat dokumennya diperiksa, tanaman tersebut hanya dilengkapi surat angkut tumbuhan dan satwa liar dalam negeri (SATS-DN). Surat itu dikeluarkan Balai Besar KSDA Papua Bidang Wilayah I Merauke.

Kepala BBKP Surabaya Cicik Sri Sukarsih menyatakan, tiga kardus berisi anggrek itu memang dilengkapi surat. Hanya, jumlahnya tidak sesuai dengan yang tertera di dokumen. Dalam dokumen hanya berisi enam batang. Namun, saat dibongkar, ternyata ada 685 tanaman anggrek yang masih segar. ’’Kami tahan karena jumlahnya tidak sesuai dengan dokumen,’’ ucapnya Kamis (10/3) siang.

Karena adanya ketidaksesuaian pada dokumen itu, pengiriman anggrek tersebut disebut ilegal. Cicik menuturkan, aksi itu terungkap karena adanya informasi dari masyarakat. Anggrek yang dikirim dari Merauke tersebut diketahui petugas saat hendak diterbangkan ke Surabaya. ’’Akhirnya, kami koordinasi dengan BBKSDA Jatim untuk mengecek dan memastikannya,’’ terangnya.

Ratusan anggrek tersebut terdiri atas enam jenis. Yakni, Dendrobium discolor, Dendrobium trilamellatum, Dendrobium verninha, Dendrobium mirbelianum, Dendrobium antennatum, dan Dendrobium canaliculatum. Semuanya berasal dari Merauke.

Terkait hal tersebut, BBKP Surabaya akan mengumpulkan keterangan lebih lanjut. Tujuannya, mencari identitas pemilik. Sebab, terdapat unsur dugaan pelanggaran UU Karantina Tumbuhan. ’’Sampai tadi malam, terduga pelaku tidak ada,’’ kata Cicik.

Dia menambahkan, pelaku melanggar UU Nomor 21 Tahun 2019. Ancamannya pidana 2 tahun kurungan dan denda Rp 2 miliar. ’’Kami berharap semua masyarakat bisa terlibat melakukan pencegahan. Termasuk memberikan informasi kepada petugas,’’ lanjutnya.

Sementara itu, Kasi Perencanaan, Perlindungan, dan Pengawetan BBKSDA Jatim Nur Rohman menyatakan, kerugiannya berapa memang tidak dihitung. Sebab, tanaman tersebut merupakan ekosistem alam. Yang jelas, dilakukan karantina sembari untuk pengembangan kasus. ’’Jika semuanya selesai, dikembalikan ke tempat asalnya, yakni di Merauke,’’ terangnya.

Editor : M. Sholahuddin

Reporter : omy/c12/ai

Saksikan video menarik berikut ini: