alexametrics

Senandung Anjing-Kucing

Oleh: Sujiwo Tejo
10 November 2019, 16:48:20 WIB

ADA bapak yang bertanya kepada anaknya, di meja makan, ’’Ndul, Bajindul, kamu tahu nggak? Kerja keras adalah nilai-nilai masa depan. Kita harus menuju ke sana. Dan malas bukanlah kesalahan kecil. Ia sama besarnya dengan kesalahan membangun sekolah, tapi keropos, sehingga roboh mengenai guru dan murid.’’

Anjing dan kucing menjadi saksi obrolan itu, dan saksi bahwa obrolan itu ndak ngaruh. Baru ketika bapak yang cerewet itu mati, hidup si yatim piatu bajindul ini berubah drastis. Bukan saja dari pemalas ia berubah menjadi pekerja keras. Ia pun sangat peduli sesama walau tanpa ditonjol-tonjolkan.

Tatkala dikabari soal perempuan yang ditinggal mati suaminya, ia tampak terus membaca kesukaannya, buku-buku tentang kearifan lokal hewan-hewan. Tak ada di antara mereka yang tahu bahwa, diam-diam, ia ngulik alamat perempuan itu. Kain kafan, tikar mayat, mobil jenazah, tenda, dan kursi-kursi… Semua ia yang tanggung.

O ya. Harus mulai terus terang dipaparkan di sini, sebenarnya perempuan itu pacarnya waktu SMA. Mereka akan menikah andai keluarga besar kedua calon mempelai bisa saling memahami. Perselisihan paham tentang makna Hari Pahlawan membuat pernikahan itu batal sedetik menjelang penghulu duduk.

Menurut keluarga besar pihak perempuan, pahlawan adalah penemu orang-orang yang anti-Pancasila. Keturunan kedua mempelai kelak harus sanggup menjadi pahlawan model begitu.

Wah, wah, wah. Berat poro rawuh. Keluarga besar pihak lelaki berpikir, bagaimana bisa menemukan orang yang anti terhadap sesuatu yang tidak ada. Menemukan orang yang antianjing kurap dan antikucing garong lebih mungkin. Beliau-beliau memang nyata ada. Pancasila?

’’Lho, Pancasila jelas ada! Helloooo?’’

’’Tidak ada!’’ keluarga pihak laki-laki menangkis. ’’Yang ada cuma lambang Pancasila, burung garuda, dan teks Pancasila. Tapi, jejak nyata Pancasila dalam kehidupan bernegara ada apa tidak? Jejak digital mudah dilacak. Tetapi, mana jejak Pancasila dalam jurang si kaya dan si miskin yang makin lebar? Mana jejak Pancasila dalam hati orang-orang yang waswas pada iuran BPJS dan wacana ancamannya kalau tak bayar?’’

Itu sekelumit cerita di meja makan, dari si mantan lelaki bajindul kepada anak-anaknya yang sudah beranjak dewasa. Tutur tinular ayah-anak waktu itu pun disaksikan anjing dan kucing, yang saat ini curhat kepada Raja Singa-Ratu Singa Sastro-Jendro.

’’Daulat Raja dan Ratu,’’ senandung anjing-kucing. ’’Kami tak melihat Pancasila dalam degup nyata kehidupan manusia. Kami salut pada keluarga manusia tempat kami mengabdi. Orang tuanya pekerja keras. Jarang sedih. Banyak ketawa, termasuk ketika makan. Mereka membolehkan keluarganya main HP, asalkan tidak saat makan bersama.’’

’’Lho, justru itu sudah Pancasilais,’’ ujar sri ratu. ’’Dengan HP-HP disingkirkan, mereka bisa ngobrol dari hati ke hati sebagai keluarga, sambil makan bersama.’’

’’Ya, Raja dan Ratu, tapi kenapa dalam obrolan itu ada yang ketawa-ketawa. Hewan-hewan sudah ikhlas dibunuh manusia. Cuma, kalau bisa, pas mereka makan hewan, mbok sedikit khidmat. Jangan sambil ngobrol. Hargai dong pengorbanan kami. Kalau makannya tidak bisa diam, ya oke lah sambil ngobrol seolah-olah pengorbanan kami ndak penting. Itu masih lumayan. Tapi, mbok jangan sambil ketawa-ketawa. Ingat, sehina-hinanya hiena… Hiena itu kalau berkerumun sesama hiena memangsa kijang sisa-sisa macan, tak ada yang sambil terbahak-bahak… Bahkan ketawa saja tidak. Kok ketawa, senyum-senyum pun tidak. Mereka sangat bersimpati kepada kijang yang sudah merelakan nyawanya.’’ (*)


*) Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor : Dhimas Ginanjar


Close Ads