alexametrics
Mereka Terlibat dalam Pertempuran 10 November

Pertempuran 10 November: Amad Ingin Tembak Jatuh Pesawat Pakai Lewes

10 November 2019, 20:12:44 WIB

Desingan peluru dan dentuman suara bom saat peperangan 10 November 1945 masih segar dalam ingatan Amad. Membentuk ikatan paling kuat antarkolega dan yang membuat mereka masih saling bertemu serta bercengkerama.

MUHAMMAD AZAMI RAMADHAN, Surabaya

JEBOLAH Heiho dan BKR itu terlihat sibuk membersihkan sepeda motornya di rumahnya di Jalan Hayam Wuruk. Sesekali, pria kelahiran Krian, 7 Februari 92 tahun silam, tersebut membasuh peluh. Dia akan beranjang sana ke salah satu sejawat seperjuangannya dulu di Jalan Arjuno. ’’Setelah lohor, saya berangkat,’’ katanya. Meski pendengarannya agak berkurang khas lansia, tubuhnya masih kekar Jalannya juga masih sigap. Memindahkan kursi dan dus air mineral pun bisa dilakukannya dengan mudah. Ke mana-mana, dia masih bisa naik motor.

Keliling kota naik sepeda motor merupakan rutinitasnya. Hampir setiap hari dia menyempatkan diri untuk berkeliling ke rekan-rekannya yang masih hidup. Memang benar bahwa ikatan paling kuat yang dijalani pria adalah ikatan antar sesamanya dalam perang. ’’Kami selalu berkabar,’’ ucapnya. Dengan usia para veteran yang sudah sangat sepuh, masih hidup merupakan sebuah anugerah.

Meski begitu, kabar duka tetap saja bisa datang sewaktu-waktu. ’’Saya dapat kabar, teman saya, Kapten Sudarman, meninggal dunia di Pakal. Nggak mikir dowo, langsung budal,’’ ungkapnya. Bagi Amad, mendiang Sudarman yang belum sebulan berpulang itu menjadi salah satu kawannya di barisan Heiho dan BKR. Mereka bersama dalam pertempuran hebat di viaduk dan beberapa daerah di Surabaya.

Dia mengaku, selain bersilaturahmi, bersepeda motor membuatnya merawat ingatan dan menolak lupa. Contohnya, saat terjadi baku tembak di sekitar Jembatan Wonokromo. Masih jelas dalam ingatannya ketika pesawat terbang sekutu bagai elang mengamuk yang menebar maut dari atas dengan suaranya yang menggidik.

Suatu waktu, Amad ingin menembak jatuh pesawat tersebut. Selain senapan Jepang tipe 38, saat itu yang pernah digunakan bertempur adalah senjata rampasan jenis lewes. ’’Pernah pakai lewes untuk nembak montor muluk. Tapi dilarang sama teman saya. Katanya, percuma,’’ ungkap anggota organisasi Dewan Harian Cabang Angkatan 45 Surabaya itu.

Nama asli senjata tersebut adalah Lewis. Diambil dari nama sang perancang, Kolonel Isaac Newton Lewis, seorang tentara Amerika. Senjata itu mulai diproduksi pada 1913 oleh dua negara, yakni Amerika serikat dan Inggris. Desain senjata Lewis terbukti andal. Namun, senjata itu tetap digunakan untuk pertempuran jarak pendek. Tidak untuk menembak jatuh pesawat tempur.

Meski sudah berusia hampir satu abad, daya jelajah Amad masih tinggi. Bagi dia, pergi ke luar kota untuk melayat teman yang meninggal bukan hal asing. Beberapa waktu lalu, temannya yang di Ngawi meninggal dunia. Dia langsung nyengklak sepeda motornya dan pergi ke Ngawi. ’’Saya berangkat pukul 3 pagi sampai sana 10 siang,’’ ucapnya.

Tiap bepergian dia selalu membawa peralatan lengkap. Ada dua ban dalam dan satu slang bening sepanjang 1 meter. Tujuannya, buat ngetap bensin. Tentu bukan untuk dia, melainkan pengendara lain yang kena ban bocor atau kehabisan bensin. Selain Ngawi dan Mojokerto, di usianya yang sudah senja, Amad pernah berkunjung ke Malang, Blitar, Madiun, dan Bondowoso untuk bertemu dengan anak dan cucunya. ’’Anak dan cucu banyak tinggal di Bondowoso,’’ kata kakek 30 cucu tersebut.

Meski demikian, ada satu hal yang mengganggunya dalam berkendara. Yakni, soal helm. Pendengarannya yang sudah terganggu semakin tidak mendengar apa-apa ketika memakai helm. ’’Tapi ya tetap saya pakai. Demi keselamatan dan gak kena tilang,’’ paparnya.

Ada pengalaman lucu seputar traveling dengan menggunakan motor. Dia pernah diberhentikan polisi di Mojokerto gara-gara tidak pakai helm. Ketika itu dia baru saja nyekar rekannya di TMP Mojokerto. Alih-alih ditilang, polantas itu justru menghormatinya setelah tahu siapa dirinya dan urusannya. ’’Sepeda motor bebek saya diangkut ke mobil pikap polantas. Saya diantar pulang sampai rumah. Cek apike polisi iku,’’ katanya, lantas tertawa.

Saat berkunjung ke kota mana pun, dia selalu nyekar di TMP setempat. ’’Mereka adalah kawan-kawan saya. Satu perjuangan,’’ katanya dengan nada haru. Selain itu, Amad mengaku sudah mempersiapkan diri untuk meninggal. Setidaknya untuk urusan makam. Dia sudah inden lokasi di TMP 10 November Jalan Mayjen Sungkono. ’’Nek sak wayah-wayah gak onok. Saya sudah pesan tempat di Mayjen Sungkono, di dekat pohon besar,’’ ungkapnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c15/ano



Close Ads