alexametrics

Kemarau Panjang, Sungai Bengawan Solo pun Mengering

10 Oktober 2019, 19:19:53 WIB

JawaPos.com – Kemarau panjang ditambah cuaca yang sangat terik membuat krisis air meluas. Bahkan, dalam beberapa hari terakhir, Bengawan Solo mengering. Di sejumlah titik, tidak ada air. Tak ayal, kondisi itu berdampak pada desa-desa yang dilintasi Bengawan Solo. Di antaranya, di wilayah Kecamatan Dukun.

”Musim kemarau itu sudah biasa. Tapi, kali ini tampaknya paling parah,” kata Kepala Desa (Kades) Baron, Dukun, Nurul Yatim.

Kondisi tersebut membuat desa di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo sulit mendapatkan air. Sumber air lainnya juga minim. Air di sumur-sumur warga berkurang drastis. Sejumlah proyek sumber air pun belum tuntas. Misalnya, Waduk Sukodono maupun instalasi jaringan pipa air bersih.

Belum diketahui kapan kemarau panjang berakhir. Yang jelas, jika sebelumnya terjadi di Gresik Selatan, belakangan krisis air juga merambah ke utara. Di Kecamatan Manyar, misalnya, awal September lalu tercatat ada satu desa di kecamatan itu yang mengalami krisis air. Namun, data terbaru dari badan penanggulangan bencana daerah (BPBD), saat ini ada beberapa desa baru yang mengalami kesulitan serupa. Di antaranya, Desa Gumeno, Sembayat, dan sejumlah desa lain.

Kepala BPBD Pemkab Tarso Sugito menyatakan, setidaknya sembilan kecamatan terdampak kekeringan. Jumlah itu berpotensi bertambah. ”Sebab, tentu ada juga desa yang mengalami pengurangan debit sumber air, namun belum melapor ke BPBD,” katanya kemarin.

Sejauh ini, penanganan yang bisa dilakukan BPBD baru sebatas terus mendistribusikan bantuan air bersih. Selain bersumber dari APBD, ada bantuan air dari pihak ketiga atau perusahaan. Belakangan, pihaknya juga menerima kabar bahwa Ketua DPRD Gresik Fandi Akhmad Yani akan memberikan bantuan air bersih untuk warga.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : ris/c6/hud



Close Ads