alexametrics

Margomulyo Macet Parah, Pulang Sekolah Jalan Kaki Tiga Jam

10 September 2019, 10:32:56 WIB

JawaPos.com – Sesekali Muhammad Samsudin berhenti di emperan pergudangan di Jalan Margomulyo kemarin (9/9). Bocah 13 tahun itu mengaku kelelahan. Sebab, sudah dua jam dia berjalan kaki. Yakni, dari SMP Trikarya Sikatan, Tandes, menuju rumahnya di Greges Barat, Asemrowo.

Samsudin pulang dari sekolahnya itu pada pukul 13.00. Hingga pukul 15.00, dia masih berada di Jalan Margomulyo No 53 A. ’’Masih sejam lagi baru sampai rumah nanti,” kata Samsudin. Ngos-ngosan. Untuk sampai rumah, setidaknya Samsudin harus menempuh jarak sekitar 5 kilometer.

Siang itu, Samsudin berjalan kaki tidak sendiri. Banyak temannya yang juga memilih berjalan kaki sepulang sekolah. Sebab, Jalan Margomulyo macet parah. Angkutan umum yang biasa mereka tumpangi untuk pulang dan pergi sekolah tidak beroperasi. Angkot terjebak kemacetan. Itu terjadi karena Jalan Osowilangun dekat Jembatan Branjangan sedang dicor Jika tidak macet, biasanya Samsudin hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai sekolah dari rumahnya ataupun sebaliknya. Namun, kemarin siang keadaannya berbeda.

’’Kalau sampai rumah pukul 16.00, nanti ya saya tidak bisa ngaji,” ucap Samsudin.

Bukan hanya itu. Samsudin dan rekan-rekannya juga merasa lebih lambat berjalan kaki. Sebab, trotoar di sepanjang Jalan Margomulyo rusak parah. Mereka harus pandai-pandai mencari celah. Yakni, melewati trotoar yang tidak berlubang sambil menjauhi kendaraan yang terjebak kemacetan. Sebab, salah melangkah, mereka bisa terserempet truk-truk besar.

Kemacetan juga dirasakan Suryo. Pengemudi truk trailer itu jengkel bukan main. Sudah empat jam, mulai pukul 11.00, dia terjebak kemacetan dari Jalan Kalianak sampai Jalan Margomulyo. Karena truk trailer yang disopirinya tidak bisa bergerak sama sekali, Suryo memilih turun. ’’Sumpek nak jero truk cak (sumpek di dalam truk, Red),” katanya sambil berteduh di pinggir jalan.

MASIH SEMANGAT: Siswa SMP Trikarya memilih berjalan kaki karena angkot menuju rumah mereka terjebak kemacetan. (Eko Sulistiono/Jawa Pos)

Akibat kemacetan parah kemarin, warga Menganti tersebut tidak bisa bolak-balik mengantar muatan. ’’Arep bolak-balik. Pisan wae macete ngene,” keluhnya. Jika tidak macet, biasanya Suryo mampu membawa muatan besi sampai tiga kali angkut dalam sehari. Dari Pelabuhan Tanjung Perak ke kawasan Manyar, Gresik. ’’Sekali angkut dapat upah Rp 100 ribu. Kalau kayak gini, rugi saya,” sambungnya.

Karena kemacetan sangat parah, beberapa pengendara juga memilih melewati jalan tol. Budi, salah seorang pengguna jalan, mengatakan, dalam kondisi terjepit kepadatan lalin, beberapa warga berinisiatif putar balik dan menuju tol Romokalisari. ”Banyak yang ngomong mau menerobos tol saja,” ujar Budi saat berada di Terminal Osowilangun.

Sejumlah polisi juga membantu mengurai kemacetan. Bahkan, Jalan Gresik Gadukan menuju Jalan Kalianak sempat ditutup. Para pengendara dari arah Pelabuhan Tanjung Perak menuju Kalianak dialihkan lewat Dupak. ’’Ini dampak pengecoran di kawasan Branjangan itu. Banyak juga pengendara di Margomulyo yang putar balik sembarangan,” kata Kasatlantas Polres Pelabuhan Tanjung Perak AKP Ayip Rizal.

Setidaknya ada sekitar 18 anggota Satlantas Polres Pelabuhan Tanjung Perak yang dikerahkan. Mereka disebar di sejumlah titik sepanjang Jalan Kalianak dan Jalan Margomulyo. Kasatlantas yang juga atlet bola voli tersebut mengimbau para pengendara untuk mencari jalur alternatif selama pengerasan Jalan Branjangan belum selesai. Misalnya, lewat jalan tol.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : yon/omy/c7/git

Close Ads