alexametrics

Pasien Meningkat, PSBB Surabaya Tak Efektif atau Pemkot Gencar Tes?

10 Mei 2020, 16:48:27 WIB

JawaPos.com – Jumlah kasus Covid-19 tidak kunjung menurun selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Surabaya diberlakukan. Angkanya malah cenderung terus meningkat.

Hingga Sabtu malam (9/5), jumlah pasien yang positif mencapai 592 jiwa. Sebelum PSBB diterapkan pada 28 April, tercatat ada 372 kasus. Jika dibandingkan dengan data kemarin, terjadi penambahan 220 kasus selama PSBB diberlakukan.

Wakil Ketua DPRD Surabaya Reni Astuti menyebutkan, ada dua kemungkinan yang mengakibatkan tingginya angka kasus tersebut. PSBB tidak efektif atau pemkot gencar melakukan tes swab. ’’Yang bisa mengevaluasi ini semua ya pemkot sendiri. Sebab, seluruh data ada di mereka,’’ ujar Reni kemarin.

Apakah PSBB tidak efektif? Reni merasa PSBB tetap membawa perubahan. Kondisi jalanan kota relatif lebih sepi, tetapi tidak signifikan. Masih ada kerumunan di mana-mana. Apalagi menjelang buka puasa. Dia tidak bisa menyalahkan warga yang harus keluar rumah untuk mencari makan. Sebab, bantuan sembako yang dijanjikan belum juga turun. Padahal, bantuan itu sudah diatur di Perwali Nomor 16 Tahun 2020 tentang PSBB. ’’Sudah ada yang disebar. Tapi, cuma 10 ribu paket bantuan dari presiden,’’ ungkap Reni.

Padahal, jumlah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) pemkot lebih dari 230 ribu keluarga. Karena belum mendapatkan hak berupa bantuan sembako atau bantuan tunai, mereka merasa kewajiban untuk menjalankan PSBB luntur. ’’Karena itulah, sembako itu penting. Selama bisa makan, tentu mereka tetap berada di rumah,’’ kata mantan anggota Komisi D DPRD Surabaya tersebut.

Tingginya peningkatan kasus itu juga tidak terlepas dari tes swab oleh pemkot. Keterbatasan alat memang membuat pemerintah daerah di mana saja sulit melakukan tes masal. ’’Sebab, kalau dilihat di grafiknya, ada beberapa hari yang stagnan. Tapi, ada yang tiba-tiba melonjak drastis,’’ jelas Reni.

Rapid test dan tes swab menjadi kunci untuk memetakan kondisi orang-orang terkait dengan Covid-19 sekaligus memutus mata rantai persebaran virus tersebut. Pada 1–8 Mei, Pemkot Surabaya melakukan tes swab setidaknya 853 orang. Di antara jumlah tersebut, baru 48 orang yang hasilnya keluar. Tercatat, tujuh orang positif Covid-19. Hasil tes swab 805 orang lainnya belum keluar.

Pengecekan secara masif kondisi warga dengan status orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), dan orang tanpa gejala (OTG) itu memang berdampak pada peningkatan jumlah pasien terkonfirmasi. Wakil Koordinator Humas Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Surabaya M. Fikser mengungkapkan, bisa jadi pekan depan ada penambahan pasien terkonfirmasi dalam jumlah besar. Sebab, tes swab yang dilakukan sudah begitu masif.

’’Tes swab gratis seharga Rp 1,5 juta dibiayai pemkot dari APBD untuk bagaimana caranya memutus mata rantai secara cepat. Angka yang muncul selama ini disebabkan upaya pemerintah dengan rapid test dan swab secara besar-besaran itu,’’ ungkap Fikser di Balai Kota Surabaya kemarin.

Pemkot Surabaya memang memperoleh bantuan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk tes swab tersebut. Tes swab itu dilakukan di 14 rumah sakit di Surabaya. Perinciannya, sebelas rumah sakit swasta dan tiga rumah sakit negeri. Yaitu, RS Unair, RSUD Bhakti Dharma Husada (BDH), dan RSUD dr M. Soewandhie.

Sementara itu, 4.250 orang sudah menjalani rapid test. Hasil rapid test bisa keluar dalam hitungan jam. Hasil tes swab baru diketahui dalam hitungan hari, bahkan pekan. Informasi itu penting untuk memahami lonjakan atau penurunan data terkonfirmasi positif Covid-19.

JUMLAH KASUS POSITIF COVID-19

SEBELUM PSBB

Tanggal | Jumlah kasus

18 April | 270

19 April | 299

20 April | 299

21 April | 310

22 April | 315

23 April | 325

24 April | 327

25 April | 368

26 April | 367

27 April | 372

SETELAH PSBB

Tanggal | Jumlah kasus

28 April | 392

29 April | 394

30 April | 438

1 Mei | 495

2 Mei | 496

3 Mei | 554

4 Mei | 558

5 Mei | 569

6 Mei | 586

7−9 Mei | 592

Sumber: lawancovid-19.surabaya.go.id

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : sal/jun/c14/ady

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads