Ada 2 Syarat Siswa Tak Wajib Ikut PTM di Surabaya

10 Januari 2022, 11:40:42 WIB

JawaPos.com–Masa pembelajaran tatap muka (PTM) dengan kapasitas 100 persen yang telah dilakukan hari ini (10/1), tidak harus diikuti semua siswa. Sebab, Pemerintah Kota Surabaya memiliki aturan tambahan yang wajib dijalankan pelajar.

Anggota Komisi D DPRD Surabaya Herlina Harsono Njoto menyatakan, pelaksanaan PTM 100 persen dilakukan dengan memperhatikan kondisi kesehatan siswa. Artinya, hanya siswa yang sehat yang boleh masuk.

Politikus dari partai Nasdem itu berharap terdapat pengecualian terhadap siswa yang memang memiliki gangguan kesehatan. Sebab siswa bukan membolos bila absen PTM karena sakit.

”Saya berharap (PTM) tetap mengutamakan faktor kesehatan, aman, dan nyaman. Mengutamakan kesehatan anak-anak itu kemudian harus jadi prioritas utama,” kata Herlina Harsono Njoto ketika meninjau PTM, Senin (10/1).

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan, meski di SKB 4 Menteri tidak ada aturan pemberian persetujuan wali murid, Pemkot Surabaya tetap menerapkan izin orang tua sebagai salah satu syarat PTM.

”Jadi ya tetap ada persetujuan wali murid. Kami sepakati dengan kadispendik dan DPRD, setelah ini bila berjalan bagus, apa ini masuk semua dalam satu shift wajib atau bagaimana. Soalnya supaya sekolah ini bisa masuk, kita harus koordinasi,” kata Eri ketika meninjau langsung pelaksanaan PTM di SMPN 19 Surabaya, Jalan Arief Rahman Hakim No 103B Surabaya.

Usai lakukan peninjauan, Eri menyimpulkan bahwa pelaksanaan PTM sudah sesuai dengan apa yang diharapkan. Salah satunya penerapan aplikasi PeduliLindungi dan cuci tangan.

”Yang kedua, ketika masuk di sekolah, ada jaraknya antarbangku, minimal 1 meter atau 100 cm. Karena ada jarak, tidak cukup 100 persen. Makanya kita buat dua shift, tapi tetap 100 persen, hanya saja tidak dalam satu waktu. Jadi yang pertama jam 06.30–10.00 WIB, kedua jam 10.00–13.00 WIB,” urai Eri.

Kemudian, tidak ada waktu istirahat bagi siswa. Eri meyakinkan bahwa semua aktivitas dilakukan di dalam kelas.

Selama PTM, kantin dan perpustakaan untuk sementara masih ditutup. Sehingga guru lebih leluasa mengontrol para siswa dan lebih mudah melakukan evaluasi.

”Ini bentuk ikhtiar kita. Karena bagaimanapun pendidikan kalau lewat hybrid terus karakter jiwa yang hebat juga akan hilang. Kalua online terus anak jadinya individualis. Sehingga pemkot dan DPRD meyakinkan kita berani lakukan (PTM) dan kita coba,” ucap Eri.

Editor : Latu Ratri Mubyarsah

Reporter : rafika

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads