alexametrics

Sanksi PSBB Harus Tegas, Agar Warga Sidoarjo Patuhi Aturan

9 Mei 2020, 19:30:46 WIB

JawaPos.com – Tinggal tiga hari masa pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Sidoarjo. Hasilnya dinilai belum optimal. Sejak PSBB diterapkan 28 April lalu, jumlah warga yang terpapar Covid-19 terus bertambah. Pemkab dan polresta diminta lebih tegas.

Data Posko Gugus Penanganan Covid-19 menyebutkan, pada awal penerapan PSBB, kasus positif korona baru berjumlah 92 orang. Kemarin (8/5) atau 11 hari kemudian, jumlahnya 60 orang. Totalnya kini 152 orang.

Kemarin Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nur Ahmad Syaifuddin berkunjung ke Polresta Sidoarjo. Lelaki yang juga Plt bupati Sidoarjo itu mengakui penerapan PSBB kurang maksimal. Target mengurangi persebaran 30 persen terancam tak terpenuhi. ”Memang agak berat,” ucapnya.

Ada sejumlah catatan mengapa kasus positif terus melonjak. Cak Nur –sapaan akrab Nur Ahmad– menuturkan, PSBB merupakan pembatasan aktivitas. Bukan menutup seluruh kegiatan atau lockdown. Pasar, kantor, dan perusahaan tetap beroperasi. ’’Sehingga ada penambahan,’’ paparnya.

Penutupan seluruh aktivitas memang menekan laju persebaran korona. Namun, ada sisi lain yang dikorbankan. Yaitu, perekonomian warga. ’’Jangan sampai pandemi selesai, perekonomian menjadi ambruk,’’ tuturnya.

Penerapan jam malam juga menjadi perhatian. Sudah ada aturan seluruh aktivitas harus berhenti pukul 21.00. Nyatanya, banyak warga yang tetap bandel. Buktinya, dua kali tim gabungan mengamankan ratusan warga. Mereka keluyuran tak jelas.

Politikus PKB itu menyatakan, kunci keberhasilan PSBB adalah kesadaran kolektif. Warga harus sadar korona semakin merebak. Cara memutus mata rantainya ialah berdiam diri di rumah. Pihak lain juga diminta mendukung pelaksanaan pembatasan tersebut.

Sangat mungkin PSBB di Kota Delta bakal berlanjut. Setelah tuntas 11 Mei, penerapannya diperpanjang 14 hari ke depan.

Menanggapi hal itu, Cak Nur belum bisa memastikan. Pemkab masih menunggu keputusan Pemprov Jatim. ”Nantinya dirapatkan dengan Ibu Gubernur,’’ ucap pria asal Waru tersebut.

Sementara itu, Polresta Sidoarjo menelaah penyebab belum optimalnya PSBB. Salah satu faktornya, belum ada aturan tegas. Sanksi terhadap pelanggar tidak membuat jera. Kapolresta Kombespol Sumardji mencontohkan warga yang melanggar aturan jam malam.

Di dalam aturan PSBB, sanksinya hanya pembinaan dan pemberian teguran. ’’Kurang tegas,’’ ucapnya. Pria asal Nganjuk itu berharap sanksi PSBB lebih tegas. Contohnya, petugas bisa menyita kartu identitas pelanggar. ’’KTP dan SIM disita. Baru dikembalikan setelah PSBB selesai,’’ tegasnya.

Pelaku usaha yang bandel juga harus disanksi. Seperti warung, kafe, serta warkop. Yang nekat buka selepas jam malam dihukum tegas. Tempat usaha ditutup. ’’Kalau lembek-lembek, percuma,’’ ucap mantan Kasubdit Regident Polda Metro Jaya itu. 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : aph/c17/roz

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads