alexametrics

Cegah Virus Korona, Masuk Masjid Ampel Jamaah Harus Steril

9 Mei 2020, 04:48:02 WIB

JawaPos.com – Pandemi Covid-19 membuat suasana Ramadan di kawasan wisata religi Sunan Ampel berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jumlah pengunjung terus menurun. Ditambah lagi ditutupnya makam Sunan Ampel. Meski demikian, aktivitas masjid masih berjalan. Tetap ada yang beribadah dengan menerapkan protokol kesehatan seara ketat.

Penutupan makam Sunan Ampel telah berlangsung sebulan lebih. Sejak 24 Maret lalu, pengunjung tidak diperbolehkan untuk berziarah di dalam area makam. Seluruh pintu makam ditutup total.

Mereka hanya diperbolehkan berdoa dan beraktivitas di luar makam. ”Ditambah lagi adanya pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pengunjung yang datang terus menurun.

Jauh dibandingkan pada Ramadan tahun lalu,” kata pengurus Masjid Agung Sunan Ampel Abdul Nasir.

Biasanya, ada 5 ribu hingga 7 ribu pengunjung yang datang setiap hari. Apalagi saat Ramadan, jumlahnya bisa mencapai 10 ribu pengunjung. Saat ini jumlah pengunjung tidak lebih dari 150 orang.

Padahal, baru memasuki Ramadan hari ke-12. Jumlah pengunjung diprediksi terus mengalami penurunan. Namun, kondisi tersebut tidak memengaruhi aktivitas di kawasan wisata religi Sunan Ampel. Terutama di area masjid.

Pengajian menjelang berbuka puasa, tadarus, serta salat wajib dan Tarawih berjamaah masih berjalan. Setiap kali salat Tawarih dilaksanakan, sang imam wajib membaca surah sebanyak 1 juz. Dengan demikian, saat malam ke-30, seluruh surah di Alquran khatam dibacakan.

Walaupun aktivitas berjalan normal, peraturan kesehatan untuk mencegah persebaran virus korona harus dilakukan oleh seluruh jamaah. Mulai cuci tangan, kemudian penerapan physical distancing, hingga penyemprotan disinfektan kepada seluruh pengunjung di dalam bilik sterilisasi.

”Ada tiga bilik sterilisasi yang kami siapkan. Yaitu, di sisi utara, selatan, dan pintu menuju ke makam Sunan Ampel. Jadi, sebelum masuk ke masjid atau makam, mereka harus disterilkan dulu,” kata pria berusia 63 tahun itu.

Begitu pula penerapan physical distancing. Seluruh jamaah yang melaksanakan ibadah, baik pengajian maupun salat Tarawih, tidak boleh berdekatan. Harus jaga jarak minimal 1 hingga 1,5 meter antarjamaah.

Tidak hanya melaksanakan salat Tarawih, tadarus, dan pengajian menjelang berbuka puasa. Nasir menjelaskan, iktikaf juga tetap dilakukan. Meski pembatasan jam malam tengah diterapkan. Ibadah tersebut dimulai pada Ramadan malam ke-21.

Agar kondisi tetap aman, beberapa peraturan diberlakukan. Antara lain, jamaah tidak menggunakan pengeras suara. Lalu, akses masuk ke masjid hanya melalui satu pintu. Kemudian, jumlah jamaah dibatasi. Tujuannya, menekan jumlah jamaah yang datang.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : ian/c6/git

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads