alexametrics

Penanganan Jenazah Pasien Covid-19: Secepatnya Gali dan Tutup Makam

9 April 2020, 13:48:18 WIB

JawaPos.com – Prosedur ketat akan dijalankan untuk pemakaman jenazah pasien Covid-19 di Surabaya. Pemakaman tersebut tak bisa berlangsung lama dan tak boleh dihadiri banyak orang. Pemkot bahkan menyiapkan ekskavator untuk menggali makam.

Prosedur yang harus dilakukan, antara lain, durasi pemakaman jenazah meninggal hingga akses ke pemakaman. Pemakaman itu tak boleh dilakukan lebih dari empat jam setelah orang tersebut meninggal. Karena perlu cepat itulah, untuk penggalian makam tersebut, pemkot sampai menyiapkan ekskavator.

Koordinator Protokol Komunikasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Surabaya M. Fikser menuturkan, ekskavator diperlukan agar penggalian makam tak sampai lama lantaran hanya dibatasi sampai empat jam. Ekskavator yang disiapkan berukuran kecil dan biasa dipakai untuk menggali atau mengeruk selokan kecil. ”Sudah ada simulasi pemakaman menggunakan alat berat itu sesuai dengan protap,” ujar Fikser kemarin (8/4).

Hingga kemarin, jumlah orang yang meninggal akibat Covid-19 di Surabaya mencapai 10 orang. Perinciannya, dua pasien dalam pengawasan (PDP) dan delapan orang dengan status terkonfirmasi positif. Jumlah itu lebih kecil jika dibandingkan dengan jumlah PDP yang sembuh (100 orang). Total, ada 23 pasien confirm positif yang lantas sembuh.

Fikser memastikan, petugas di lapangan sudah diberi pengetahuan yang cukup untuk penanganan jenazah tersebut. Salah satunya, memakai alat pelindung diri (APD). ”Ekskavator nanti juga diperbantukan untuk menutup galian makam agar pemakaman lebih cepat,” kata Fikser.

Pasien yang meninggal itu juga akan ditempatkan di blok khusus. Jadi, pemakaman tak bakal mengganggu bila ada penguburan jenazah lainnya. ”Tentu kami berharap blok khusus yang disediakan itu tak dipakai,” tuturnya.

Ahli epidemiologi dari Unair Atik Choirul Hidajah menjelaskan, jika seseorang yang terinfeksi Covid-19 meninggal, virus juga akan mati setelah waktu tertentu. ”Pemulasaraan jenazah penderita Covid-19 yang meninggal sudah menggunakan standar untuk penyakit menular,” jelas dia.

Masyarakat tak perlu terlalu khawatir dengan kabar penularan setelah orang meninggal. Sudah ada tata cara penanganan pasien terkonfirmasi Covid-19 yang meninggal. Salah satunya adalah buku Pedoman Penanganan Cepat Medis dan Kesehatan Masyarakat Covid-19 di Indonesia. Buku itu dibuat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pada Maret lalu.

Salah satu wujud penanganan terhadap korban Covid-19 adalah jenazah tersebut harus terbungkus seluruhnya dalam kantong yang tak mudah tembus sebelum dipindah ke kamar jenazah. Tak boleh ada kebocoran cairan tubuh yang mencemari bagian luar kantong jenazah. Keluarga masih diperbolehkan melihat jenazah sebelum dimasukkan ke kantong jenazah. Syaratnya, pihak keluarga harus memakai APD lengkap.

Dalam peraturan tersebut, jenazah juga tak boleh disemayamkan lebih dari 4 jam di pemulasaraan jenazah. Jenazah yang sudah dibungkus tak boleh dibuka lagi dan harus diantar dengan mobil jenazah khusus.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Surabaya Eddy Christijanto menyatakan bahwa pekan ini pemkot membagikan masker kain kepada masyarakat. Pembagian tersebut akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kelurahan atau wilayah yang menjadi prioritas.

’’Sudah ada kewajiban untuk memakai masker bagi semua orang. Baik yang sakit maupun tidak. Ini semua dilakukan untuk pencegahan agar tak ada penularan,” ujar Eddy kemarin.

Masker bedah yang sebelumnya ditempatkan di kelurahan memang ditarik pemkot karena bakal diberikan kepada petugas kesehatan yang lebih membutuhkan. Khususnya petugas kesehatan yang menangani Covid-19. ”Masker kain kan bisa dicuci sehingga bisa dipakai lagi,” jelas Eddy.

Masker juga dibagikan ke pasar-pasar tradisional sejak akhir Maret lalu. Ada pula pembagian sarung tangan dengan jumlah yang terbatas. Berdasar data pemkot, ada pembagian di 67 pasar di bawah naungan PD Pasar Surya. Turut dibagikan pula masker di 69 pasar tradisional yang dikelola warga.

Masker yang dibagikan tersebut merupakan hasil kerja sama antara Pemkot Surabaya dan UMKM. Para UMKM binaan pemkot itu diminta membuat masker kain yang memiliki standar tertentu. Misalnya, masker harus terbuat dari bahan yang bisa menahan droplet atau percikan. Sebab, melalui percikan saat bicara, batuk, atau bersin, virus korona jenis baru itu bisa menular.

Penanganan Pasien Meninggal Akibat Covid-19

  • Petugas harus menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap.
  • Jenazah terbungkus seluruhnya dalam kantong yang tak mudah tembus sebelum dipindah ke kamar jenazah.
  • Jangan ada kebocoran cairan tubuh yang mencemari bagian luar kantong jenazah.
  • Pindahkan secepatnya ke kamar jenazah setelah meninggal dunia.
  • Keluarga bisa melihat jenazah sebelum dimasukkan ke kantong, tapi harus menggunakan APD.
  • Petugas menjelaskan ke keluarga terkait penanganan khusus.
  • Jenazah tak boleh dibalsam atau disuntik pengawet.
  • Jika perlu otopsi, harus petugas khusus yang melakukannya dengan catatan diizinkan keluarga dan direktur rumah sakit.
  • Jenazah yang sudah dibungkus tak boleh dibuka lagi.
  • Diantar dengan mobil jenazah khusus.
  • Jenazah tak lebih dari 4 jam disemayamkan di tempat pemulasaraan.

Sumber: Buku Pedoman Penanganan Cepat Medis dan Kesehatan Masyarakat Covid-19 di Indonesia. Dibuat oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Maret 2020

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : jun/c14/ady



Close Ads