alexametrics

PSBB Gresik: Kerumunan Masih Terjadi di Desa Zona Merah

8 Mei 2020, 20:00:37 WIB

JawaPos.com – Bupati Sambari Halim Radianto menyebut penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Gresik relatif sukses. Namun, pada jam-jam tertentu, PSBB sepertinya tidak berlaku. Misalnya, ketika menjelang buka puasa. Pengawasan dan penindakan oleh aparat terbilang terlalu longgar.

Misalnya yang terlihat di kompleks Perumahan Pondok Permata Suci (PPS), Manyar. Setiap sore ramai, tak ubahnya suasana hendak menonton konser. Warga dan pedagang membeludak. Ada yang berasal dari luar daerah, bahkan luar kota. Padahal, Desa Suci sudah termasuk zona merah. Ada dua warga setempat yang terkonfirmasi positif Covid-19.

”Ini bagaimana perangkat desa setempat atau petugas? Bagaimana bisa menjamin ini bebas dari paparan korona? Mereka datang dari berbagai daerah tanpa skrining,” gumam beberapa warga PPS.

Demikian juga kondisi di kawasan Perumahan Gresik Kota Baru (GKB). Praktis, tidak tampak physical distancing. Bahkan, para pengendara motor pun harus pelan dan hati-hati saking padatnya pengunjung. Bunyi klakson pun mudah sekali didengar karena banyak pengendara yang saling serobot. Di antara warga yang berkerumun, ada yang yang mencari takjil, membagikan takjil, dan berolahraga.

Kepala Satpol PP Gresik Abu Hasan mengatakan, petugasnya setiap sore berada di lokasi tersebut. Sebab, sejumlah titik juga kerap menimbulkan kemacetan. Terutama di kawasan GKB. ”Ada fenomena di pinggir jalan, banyak sekali orang yang menunggu bagi-bagi takjil. Nah, ini juga kami memberikan pemahaman,” tutur dia.

Sementara itu, berdasar update data Covid-19 di Gresik, jumlah kasus positif kembali meningkat. Kemarin (7/5) ada satu lagi tambahan konfirmasi positif dari Desa Karangandong, Driyorejo. ”Pasien itu hasil tracing dari kontak erat pasien sebelumnya. Sekarang yang bersangkutan dirawat di Sidoarjo,” ujar drg Syaifuddin Ghozali, juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Gresik.

Dengan tambahan baru itu, total pasien positif korona di Kota Pudak sudah sebanyak 37 orang. Kabar kurang baik lagi, satu pasien positif dari Desa Randegansari, Driyorejo, kemarin meninggal dunia. Sebelumnya, yang bersangkutan dirawat di Surabaya.

Ghozali menambahkan, petugas saat ini juga menelusuri klaster pabrik rokok Sampoerna. Sebab, ada warga yang dinyatakan positif, tapi sempat pulang dua hari di rumah. Nah, menurut rencana, hari ini (8/5) dinas kesehatan melakukan rapid test. ”Kami sudah menetapkan tiga kecamatan atensi klaster Sampoerna. Yakni, Kecamatan Menganti, Benjeng, dan Balongpanggang,” ungkapnya.

Mantan kepala Puskesmas Bungah itu menyebutkan, rapid test tersebut dilakukan kepada mereka yang sempat kontak dengan orang yang bersangkutan. Baik keluarga maupun orang sekitarnya. Namun, yang bersangkutan tidak dimasukkan data Gresik, melainkan ikut data Surabaya karena berdomisili di Kota Pahlawan.

Sementara itu, berkaca pada Surabaya dengan munculnya klaster besar dari industri, Gresik juga mulai mewanti-wanti seluruh perusahaan. Kepada Jawa Pos, Bupati Sambari Halim Radianto menyatakan sudah dan akan terus mengantisipasi potensi klaster industri. Dia mencontohkan Kawasan Industri Maspion (KIM) yang sudah melakukan rapid test mandiri kepada para karyawan.

Hari ini, rencananya, tim gugus tugas bakal memanggil petinggi perusahaan di Gresik. Tujuannya, berkoordinasi soal pemutusan rantai persebaran Covid-19. ”Nanti rapid test-nya bagaimana akan dibicarakan. Juga evaluasi PSBB di perusahaan-perusahaan. Sebab, aturannya, para pekerja hanya boleh 50 persen,” ucapnya.

Seperti pernah diberitakan, dari data yang masuk ke Gugus Tugas Covid-19 Gresik, kasus positif didominasi klaster Surabaya sebanyak 21 orang. Selain itu, klaster Asrama Haji Sukolilo 4 orang, klaster Jakarta 4 orang, pabrik rokok Sampoerna 1 orang, OTG 1 orang, klaster pelayaran 3 orang, dan asal Gresik 2 orang.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : son/c11/hud

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads