alexametrics

Evaluasi 10 Hari PSBB: Surabaya Masih Bahaya, Sidoarjo-Gresik Landai

8 Mei 2020, 09:33:48 WIB

JawaPos.com – Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik hari ini sudah berjalan sebelas hari. Kemarin Tim Gugus Tugas Covid-19 Jatim melakukan evaluasi.

Hasilnya, pertambahan kasus korona di Sidoarjo dan Gresik mulai melandai. Sebaliknya, di Surabaya masih tinggi.

Ada beberapa indikator yang dievaluasi tim gugus tugas. Di antaranya, pertambahan jumlah kasus positif, PDP, maupun ODP. Ketua Tim Percepatan Penanganan Covid-19 Rumpun Kuratif dr Joni Wahyuhadi mengatakan, tiga hal itu bisa menunjukkan perjalanan PSBB di Jawa Timur. ’’Sidoarjo dan Gresik melandai, tapi Surabaya masih tinggi,’’ ucapnya.

Sebagaimana diketahui, PSBB di Surabaya Raya berlaku mulai 28 April sampai 11 Mei. Untuk Surabaya dan Sidoarjo, pembatasan berlaku di semua wilayah. Sedangkan untuk Gresik, PSBB hanya diterapkan di 8 kecamatan di antara total 14 kecamatan yang ada.

Joni menjelaskan, sejak PSBB diterapkan, tambahan kasus positif di Sidoarjo dan Gresik di bawah angka 20. Berbeda dengan Surabaya yang pernah mencapai angka 58 kasus. ’’Itu patut diwaspadai,’’ ucapnya. Total jumlah kasus positif di Surabaya juga paling tinggi. Hingga kemarin, ada 592 kasus positif. Sedangkan Sidoarjo hanya 152 dan Gresik 31.

Joni juga menyoroti tren kasus PDP di tiga daerah tersebut. Penambahan jumlah PDP di Surabaya kemarin mencapai 107. Sidoarjo 6 kasus dan Gresik 2 kasus. Tim gugus tugas lalu menyandingkan angka PDP dengan ODP pada masing-masing daerah. Idealnya, jumlah tambahan ODP harus lebih tinggi daripada PDP. Sebab, jumlah ODP menunjukkan bahwa tim tracing telah bekerja ekstra. Mereka mampu menjangkau semua orang yang memiliki potensi terjangkit virus. Penambahan ODP di tiga daerah itu, Surabaya 56 kasus, Sidoarjo 24 kasus, dan Gresik 3 kasus.

Tambahan jumlah PDP di Surabaya 107 kasus, sedangkan yang dipantau hanya 56 orang. Joni menganggap perbandingan itu janggal. Idealnya, pertambahan ODP lebih besar daripada PDP. Fenomena berbalik tersebut sangat membahayakan. ”Banyak orang yang tidak terpantau dan bisa berpotensi terjangkit virus,” tegas Joni. Meski begitu, dia menolak jika penerapan PSBB di Surabaya dianggap gagal. Alasannya, kemarin PSBB baru berlangsung 10 hari. Tim akan mengevaluasi fenomena itu.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menegaskan, PSBB bukan kebijakan politik. Ada kajian epidemiologis yang harus dilalui. Dia menceritakan awal penerapan PSBB di Surabaya Raya. Tim gugus tugas mengevaluasi semua daerah di Jawa Timur. ’’Ada beberapa indikator, setiap indikator itu di-score,’’ ucapnya. Hasil score menentukan wilayah tersebut layak atau tidak diterapkan PSBB. Setelah itu, ada pertimbangan dampak dari penerapan kebijakan tersebut.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra

Reporter : riq/idr/byu/agf/lyn/c19/c10/ayi/oni

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads