alexametrics

Gus Jazil: Perguruan Tinggi Garda Terdepan Tangkal Radikalisme

8 April 2021, 16:04:59 WIB

JawaPos.com – Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mencegah berkembangnya paham radikal. Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mengatakan, radikalisme sering kali dimulai dari pemikiran kritis yang selalu merasa benar sendiri, sedangkan pihak lain selalu salah. Inilah yang disebut sebagai kelompok ekstremis. Sedangkan radikalisme yang berlanjut dengan tindakan maka disebut terorisme.

Karena itu, kampus yang merupakan tempat bagi kelompok kritis harus menjadi garda terdepan dalam menangkal paham radikalisme. ”Kritisisme di kampus harus diarahkan pada kebaikan, bukan diarahkan kebencian pada negara, pemimpin dan kelompok tertentu. Karena itu, perguruan tinggi harus menjadi garda terdepan menangkal radikalisme,” ujar Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid.

Pandangan Jazilul Fawaid itu disampaikan saat sambutan pada Kuliah Umum: Menangkal Radikalisme di Perguruan Tinggi di Kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Surabaya, Rabu (7/4).

Dikatakan Gus Jazil- sapaan akrab Jazilul Fawaid, kelompok radikalis biasanya selalu merasa benar sendiri dan sering menilai kelompok lain, terutama negara dan pemimpin pada posisi yang selalu tidak adil. Inilah bibit-bibit radikalisme. Nah, interupsi atas ketidakadilan sering kali hadir dari lingkungan kampus.

“Pada era Reformasi, Soeharto dianggap tidak adil. Aktivis mahasiswa kala itu menuntut penghapusan KKN. Tetapi ini pada konteks kritisisme,” tuturnya.

Karena itu, pihaknya berharap agar kampus memberikan perhatian pada potensi munculnya paham-paham radikal yang memang sering diawali dari pemikiran yang kritis namun tidak terarah dengan baik. Sebab, sikap kritis di kampus memang sudah menjadi keharusan, namun kitis yang diarahkan pada kebaikan, bukan pada kebencian terhadap negara, pemimpin, atau kelompok tertentu.

Gus Jazil mengaku senang karena Unesa yang menjadi kampus pencetak para tenaga pendidik, tidak masuk dalam daftar 10 kampus di Indonesia yang terpapar paham radikalisme. Dia mengingatkan bahwa radikalisme kerap kali masuk melalui pendekatan tarbiyah atau pendidikan.

Dirinya mengaku miris karena belakangan mulai muncul tren mereka yang terpapar paham radikalisme justru dari kelompok perempuan. Seperti yang terjadi pada kasus bom bunuh diri di Gereja Katedral, Makassar, belum lama ini. “Ini lebih berat lagi. Karena saya orang politik, mana yang lebih fanatik pemilih perempuan atau laki-laki? Jawabannya perempuan. Kalau paham radikalisme ini masuk di kalangan perempuan, lebih bahaya lagi,” katanya.

Karena itu, dirinya berharap Unesa bisa menjadi contoh kampus yang membuat program khusus bagi anak didik yang memiliki kompetensi, namun aman dari pemikiran radikal dan tindakan yang mengarah pada terorisme.

Dikatakan Gus Jazil, sebenarnya pikiran radikal itu selalu ada pada setiap zaman. Bahkan sejak zaman nabi, akar dari radikalisme itu ada kemiripan, yakni pikiran yang keras dan selalu merasa benar sendiri. ”Pikiran radikal dengan selalu menyalahkan yang lain bisa jadi ekstremis. Kalau dengan tindakan itu menjadi teroris. Akar musabab radikalisme adalah merasa superioritas, lebih pintar, lebih hebat dari yang lain. Ini disebut takfiri, megkafirkan, merendahkan yang lain. Mereka yang di luar kelompoknya itu salah,” katanya.

Rektor Unesa Prof Nurhasan mengatakan, jumlah penduduk Indonesia saat ini berdasar data dari Dirjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mencapai 268,5 juta. Menariknya, jumlah pengguna telepon seluler jauh lebih banyak, mencapai sekitar 338,2 juta unit. “Jumlah HP kita melebihi jumlah manusianya karena setiap orang bisa memiliki lebih dari satu HP,” katanya.

Menurut dia, jika digunakan sebagaimana mestinya terkait pekerjaan, data dan informasi, media pengetahuan, dan lainnya, jumlah HP sebanyak itu akan sangat bagus. Namun akan menjadi masalah jika dijadikan media untuk ujaran kebencian (hate speech), menyebar berita bohong dan lainnya.

“Kita bisa bayangkan jika saat ini angka rata-rata usia sekolah di Indonesia masih setara dengan kelas 3 SMP atau 7,95 tahun (data BPS, 2018). Dari poin saya yang pertama ini pertanyaannya adalah apa dampaknya pada masyarakat kita yang masih setara dengan kelas 3 SMP jika diberikan informasi hoax atau hate speech? Silakan didiskusikan karena menarik ini untuk dikaji,” katanya.

Nurhasan juga mengungkap hasil survei yang diakukan oleh Nenilai, sebuah lembaga non pemerintah yang kredibel, melakukan survei terhadap mahasiswa baru tahun 2020 dengan jumlah sampel sekitar 30.000-an, dan 4 ribuan di antaranya adalah mahasiswa baru Unesa.

Survei Nenilai terkait dengan apa pandangan anak muda tentang nilai-nilai yang ada di Indonesia saat ini, dan nilai-nilai apa yang diharapkan. “Hasil survei menunjukkan bahwa nilai-nilai keadilan adalah yang paling tinggi sebanyak 70 persen. Berdasarkan survei tersebut, jika kita ambil penilaian negatif dari anak-anak muda, mereka akan mengatakan, ‘saat ini saya hidup di negara yang masih jauh dari keadilan dan kemakmuran. Masih ada korupsi, birokrasi yang berbelit dan ekonomi yang dikuasai segelintir elite'” tutur Hasan.

Namun ada hal positif yang akan mereka katakan bahwa mereka mengakui hidup di negara yang masih mempertahankan nilai-nilai gotong royong, berpegang teguh pada ajaran agama, dan harapan ke depan Keadilan bisa kita rasakan.

“Apa yang ingin saya sampaikan? Ternyata keadilan adalah idaman anak-anak muda kita, dan berpegang pada ajaran agama adalah nilai-nilai yang dianggap penting. Implikasinya adalah, ketika isu keadilan digulirkan maka gelora anak muda akan bergejolak, cepat bereaksi dan berpikir pendek (berdasarkan survey ada 29% anak muda berpikir pendek),” katanya.

Baca juga: Gus Jazil ke Anies Baswedan: Jangan Pintar Pidato Saja!

Demikian juga dengan isu agama, ada dua sisi mata pisau, bisa menjadi baik atau malah justru menjadi fundamentalis radikal. “Disinilah pentingnya moderasi beragama (nanti pasti akan dibahas oleh para narasumber terkait hal tersebut),” urainya.

Nurhasan mengatakan bahwa Unesa saat ini telah memiliki Pusat Pembinaan Ideologi dan Monumen Pancasila. “Pada tahun ini, kami juga telah merancang program Pengabdian Kepada Masyarakat yang salah satunya diorientasikan untuk merintis Desa Pancasila,” katanya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra




Close Ads