Adik-Kakak Ogah Berdamai, Hakim: Kalau Begitu, Bawa Sampai ke Akhirat

6 Desember 2022, 06:25:37 WIB

JawaPos.com- Rumiyati dan Suyitno adalah adik dan kakak kandung. Usianya tidak lagi muda. Sudah sama-sama menjadi orang tua. Rumahnya bersebelahan di kampung. Di Jalan Abdul Rachman RT 15, RW 06, Desa Pabean, Kecamatan Sedati, Sidoarjo. Namun, kini keduanya tengah berseteru. Sampai ke meja persidangan. Gara-garanya ribut soal batas tanah rumah.

Dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo, Senin (5/12), Rumiyati menyatakan pagar rumahnya dirusak Suyitno, kakaknya yang kini menjadi terdakwa. Akibat perusakan tersebut, Rumiyati mengaku telah menderita kerugian Rp 13,5 juta. Cerita bermula pada Juli lalu. Suyitno datang dengan membawa pilox.

Cat semprot itu dipakai Suyitno untuk menandai tanah batas rumahnya dengan Rumiyato. Sebab, terdakwa menilai, tanah rumah Rumiyati kelebihan satu meter. Nah, kelebihan tersebut dinilai sebagai tanah milik Suyitno. “Sebenarnya masalah tanah ini sejak dari dahulu yang mulia,” ujar Rumiyati, seperti dilansir Jawa Pos Radar Sidoarjo.

Menurut Rumiyati, terdakwa kembali ke rumahnya sehari setelah menandai halaman rumah dengan pilox. Suyitno juga datang membawa linggis, palu, dan betel. Lalu, Suyitno merusak engsel pagar dan melepas pagar rumah Rumiyati.

“Engselnya yang dirusak, bagian bawah samping kanan terus samping kiri. Bukan hanya itu yang mulia, terdakwa juga merusak pagar relief juga,” imbuhnya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Sidoarjo Rina Widyastuti kemudian menanyakan upaya perdamaian antara saksi Rumiyati dengan terdakwa Suyitno dalam perkara perusakan pagar rumah tersebut. “Apakah sempat ada upaya damai dari terdakwa?” ujarnya.

Rumiyati mengatakan, upaya damai sudah berulang kali dilakukan. Sayang, upaya tersebut tak pernah ada titik temu. Rumiyati mengaku, di kejaksaan dirinya juga sempat untuk berdamai. “Tapi, dia (Suyitno) yang enggak mau,” ungkapnya.

Namun, terdakwa Suyitno menyatakan bahwa dirinya juga bersedia berdamai. Asal, tanah yang diakuinya tersebut dapat dilepas oleh Rumiyati. Menurut dia, tanah yang berdampingan dengan jalan itu merupakan haknya. “Akses jalan ke rumah saya hanya satu meter. Mobil enggak muat yang mulia. Kalau motor masih bisa,” ujar terdakwa.

Soal kesaksian Rumiyati, Suyitno mengaku kesaksian tersebut banyak yang salah. Misalnya, tidak ada aksi laporan perusakan tersebut. Suyitno menyatakan bahwa waktu itu dirinya hanya melepas engsel saja.

“Dia (Rumiyati, Red) membuat surat sendiri, tanahnya belum diaktenotariskan, teken saya juga ada yang dipalsu. Tidak ada juga gedor-gedor pintu pagar, saya hanya melepas engsel,” katanya.

Perseteruan kakak-adik tersebut membuat Ketua Majelis Hakim Moh. Fatkan dibuat geleng-geleng kepala. Sebab, saat diminta untuk berdamai, keduanya seolah enggan. ’’Kalau begitu, silakan bawa kebencian ini ke akhirat,” ujar Fatkan yang membuat saksi dan terdakwa tertunduk diam.

Editor : M. Sholahuddin

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads