alexametrics

Suasana Haru Menyambut Rombongan Guru TK-PAUD Gresik Korban Kecelakaan

Tidak Bisa Tidur Semalaman
6 Juli 2019, 14:34:47 WIB

JawaPos.com – Rombongan wisata para guru TK-PAUD se-Kecamatan Gresik akhirnya balik kandang. Mereka batal pelesir ke Pulau Dewata, Bali, setelah mengalami kecelakaan di Jalan Raya Baluran, Situbondo, Kamis sore (4/7). Kemarin (5/7) sekitar pukul 16.00 bus-bus yang mengangkut ratusan guru itu tiba kembali di Gresik.

Suasana haru dan isak tangis pun menyambut kedatangan mereka. Begitu turun dari bus, rombongan guru langsung disambut para anggota keluarga. Mereka saling berpelukan. Tangis pun pecah. ”Bus saya (tumpangi) yang kecelakaan,” ucap seorang ibu guru berkaca mata itu kepada rekannya.

Perempuan berhijab tersebut terlihat masih shock dengan musibah yang menimpanya. Meski selamat dari maut, dia mengalami luka-luka. ”Dahi saya terluka akibat benturan,” tuturnya, lantas terisak.

Sejumlah kerabat dan teman-temannya lalu memeluknya. Mereka menenangkan perasaan guru itu sambil menepuk-nepuk punggungnya. Setelah suasana haru tersebut mereda, perempuan itu mencari barang bawaannya di bus.

Sebelum bus-bus datang, sudah banyak anggota keluarga yang berkumpul di depan Wahana Ekspresi Poesponegoro (WEP) di Jalan Jaksa Agung Suprapto. Mereka menunggu dengan harap-harap cemas. Hingga pukul 16.30, dua bus yang hendak berangkat ke Bali sudah tiba di WEP. Di tempat tersebut, bus-bus diberangkatkan pada Kamis (4/7) sekitar pukul 06.00.

Seperti diberitakan kemarin, dua dari tiga rombongan bus wisata guru TK-PAUD se-Kecamatan Gresik mengalami kecelakaan di Jalan Raya Baluran, Situbondo. Kecelakaan beruntun itu melibatkan dua truk, dua bus, satu mobil MPV, dan pikap. Seorang anggota rombongan meninggal. Yakni, Hj Masruchah, 55, pengawas TK se-Kecamatan Gresik.

Musibah yang merenggut satu nyawa dan membuat puluhan guru terluka tersebut membuat rencana wisata ke Bali dibatalkan. Kepala Dispendik Gresik juga meminta rombongan kembali pulang. Sesuai rencana, mereka akan tinggal selama empat hari. Mulai Kamis hingga Ahad (7/7). Kabarnya, ada dua agenda yang akan dilakukan selama di Bali. Yakni, pembekalan guru dan perpisahan dua pengawas dan penilik sekolah.

Mauludatus Sholichah, salah seorang peserta, menceritakan, ketika mendapat kabar bahwa rombongan bus di belakang mengalami musibah kecelakaan, dirinya langsung gusar. ”Saya menangis. Saya minta pulang (balik) saja,” kata guru TK Muslimat NU 29 Mahkota Gresik itu.

BERDUKA: Kepala Dispendik Mahin (dua dari kiri) bertakziah ke rumah duka Hj Masruchah di Jalan Usman Sadar, Gresik, kemarin. (Chusnul Cahyadi/Jawa Pos)

Sejatinya, mereka juga ingin menyusul ke lokasi kecelakaan. Tujuannya, ikut membantu dan memberikan pertolongan. Namun, keinginan tersebut tidak kesampaian. ”Saya dan rombongan bus yang selamat diminta menunggu di pom bensin saja,” ucapnya.

Tiga bus rombongan yang selamat itu pun hanya berdoa. ”Nggak ono sing iso turu suwengi (tidak ada yang bisa tidur semalaman, Red). Semua membaca doa,’’ ungkap Uda, sapaan Mauludatus Sholichah

Gagal Ajak Cucu Naik Pesawat

Kristatinmasih tertegun. Kepala TK YIMI tersebut tahu persis musibah kelabu itu. Kecelakaan maut di Jalan Raya Baluran, Situbondo, Kamis sore (4/7). Dia duduk tepat di belakang Hj Masruchah, korban meninggal. Almarhumah duduk di kursi nomor dua dari depan.

’’Kami spontan berteriak Allah…Allah…Allah,’’ ungkapnya.

Ucapan disertai jeritan histeris itu meluncur saat detik-detik bus yang ditumpangi ditabrak truk. Bruaakkk! Seluruh penumpang histeris. Kristatin sempat melihat ke arah Masruchah. Almarhumah spontan bergerak melindungi Nana, cucu kesayangannya. Mendekap dengan kedua tangannya. Padahal, kondisinya tampak terluka. Tubuhnya tidak bergerak. Diam. Masruchah pingsan. Setelah itu, Kristatin mendapati Masruchah tersadar. Bergerak-gerak, tetapi tidak berlangsung lama. ’’Setelah itu, beliau meninggal,” jelasnya dengan nada lirih.

Di mata Kristatin, adalah motivator dan sosok yang kreatif. Dia mencontohkan saat pelatihan guru-guru TK pada 21 Juni lalu. Agar suasana hidup, spontan Masruchah mengarang lagu untuk pembelajaran. ’’Temanya mengenal binatang,’’ ujar Kristatin. Begini liriknya: Lehernya panjang, tubuhnya tinggi, bulunya belang, jerapah jerapah itu namanya, mari kita lihat bersama-sama…

Itulah lagu terakhir yang didengar guru yang dekat dengan anak-anak dan para orang tuanya. Kini, lagu dari mulut sang guru motivator itu tak akan terdengar lagi.

Sementara itu, korban Masruchah memang mengajak serta Madinah, cucunya. Dia ingin menyenangkan cucu berusia 7 tahun itu dengan naik pesawat. Maklum, Nana –sapaan Madinah– ingin merasakan naik pesawat. Nah, dari Bali rencananya Masruchah pulang dengan naik pesawat. Bersama cucu tercintanya.

”Setelah ngisi acara di Bali, Ibu dan Nana rencananya pulang sendiri naik pesawat,” kata Maulidin, menantu Masruchah.

Namun, keinginan itu tidak kesampaian. Sang nenek meninggal. Nana selamat. Kemarin pagi bocah lucu itu tiba di rumahnya setelah diantar dua pendamping dengan naik mobil

Dewan Ingin Djadikan Hikmah

Mendung duka memayungi Jalan Usman Sadar. Tepatnya di rumah Gang IV Nomor 9. Sejak Kamis malam (4/7), rumah sederhana itu dipenuhi warga yang bertakziah. Padahal, jenazah Hj Masruchah baru tiba pukul kemarin dini hari (5/7), pukul 03.00.

Mobil ambulans meraung. Memecah sunyi. Mobil itu tidak bisa masuk ke rumah duka. Maklum, gang kecil. Hanya selebar 1,5 meter. Begitu jenazah tiba, rumah duka makin penuh. Air mata tampak mengalir di mata banyak orang. Tak terkecuali Rulli dan Dewi. Matanya sembab. Wajahnya sayu. Keduanya adalah anak Masruchah.

Dari mobil ambulans tampak keluar Chusaini Mustas, suami almarhumah. Dia adalah mantan kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Pemkab Gresik. Begitu mendengar kabar istrinya kecelakaan, Chusaini langsung menyusul ke Situbondo.

Raut duka juga tergambar dari wajah Chusaini. Namun, dia tampak tegar. Dari Jalan Usman Sadar, jenazah digotong warga menuju rumah duka. Setibanya di rumah duka, warga langsung membacakan surat Yasin dan tahlil.

Sementara itu, kecelakaan rombongan wisata guru PAUD-TK juga mendapat perhatian dari Komisi IV DPRD Gresik. ’’Kami ikut berbelasungkawa atas musibah yang terjadi. Semoga almarhumah khusnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,’’ ujar Ketua Komisi IV DPRD Gresik Khoirul Huda kemarin.

Politikus PPP itu mengatakan, musibah tersebut juga harus jadi bahan pembelajaran dan evaluasi bersama. Dia mengakui, kecelakaan memang takdir. Namun, paling tidak ada persiapan-persiapan teknis yang mesti diatur. Sebab, pada musim liburan biasanya banyak sekolah atau guru yang rekreasi.

Pengaturan itu merupakan wujud antisipasi. Misalnya, kelayakan kendaraan yang dipakai. Harus ada pengecekan lebih dulu oleh petugas. Apakah dari dinas perhubungan atau kepolisian. Mulai rem, mesin, sampai teknis lainnya. Lalu, prosedur pemberitahuannya. Jika sekolah atau para guru, pemberitahuan ditujukan ke dinas pendidikan (dispendik).

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : (yad/son/c6/c7/c15/c25/c20/hud



Close Ads