alexametrics

Ikut Uji Cepat Covid-19 di Terminal Keputih sebagai Syarat Kerja

6 Juni 2020, 17:17:48 WIB

JawaPos.com – Antusiasme warga untuk ikut rapid test ternyata dilatari berbagai alasan. Selain untuk mengetahui kondisi kesehatan dari paparan virus Covid-19, tidak sedikit masyarakat yang membutuhkannya untuk persyaratan masuk kerja.

Pemilik usaha meminta pekerja untuk mengupayakan sendiri uji cepat. Karena itu, mereka mengikuti tes gratis yang diadakan pemerintah. Misalnya, yang diungkapkan Karin yang mengikuti rapid test masal di Terminal Keputih Jumat (5/6). Dia bekerja di salah satu toko pakaian di kawasan Rungkut. Bosnya meminta dia untuk mengikuti uji cepat. ’’Katanya di sini ada gratis, jadi disuruh ke sini untuk ikut tes,” ujar warga Tambaksari tersebut.

Apalagi, mereka mendapat kartu informasi hasil tes yang bisa jadi tanda bukti tidak terpapar. Uji cepat masal yang digelar Pemkot Surabaya dan Badan Intelijen Negara (BIN) kemarin bisa diikuti siapa saja. Peserta cukup menyerahkan KTP. Namun, yang diprioritaskan tetap warga Surabaya.

Camat Sukolilo Amalia Kurniawati mengatakan, yang terpenting masyarakat peduli dengan kesehatannya. ’’Ada yang ikut untuk masuk kerja,” tuturnya.

Rapid test hari kedua di Terminal Keputih juga berlangsung lebih tertib. Pemandangan itu jauh berbeda dengan sehari sebelumnya yang penuh sesak. Warga sulit dikontrol saat antre sehingga tidak ada jaga jarak.

Amalia mengatakan, pihaknya melakukan langkah antisipasi di lapangan. Salah satunya, menyiapkan tenda agar warga tidak kepanasan. Selain itu, menambah petugas yang mengatur antrean. ’’Kami juga mendatangkan ratusan kursi,” ucapnya.

Antrean dibuat dua lapis di area terminal dan Jalan Raya Marina Asri di sisi utara terminal. Amalia menjelaskan, sebelum dites, peserta diminta untuk menunggu di kursi yang sudah disediakan. Kemudian, mereka digilir masuk ke area terminal untuk registrasi sekaligus mengikuti uji cepat. ’’Dengan begitu, warga tetap bisa duduk santai dan tidak perlu uyel-uyelan. Tentu kami selalu memastikan ada jarak aman antarkursi sesuai protokol kesehatan,” papar Amalia.

Secara berkala, area itu juga disterilisasi. Kemudian, petugas khusus yang menggunakan kamera inframerah terus berkeliling. Dia bertugas mencari peserta yang sakit. Peserta tersebut dipisahkan dan didahulukan untuk dicek. ’’Kami juga pastikan bahwa ibu dan anak yang datang untuk rapid test mendapat prioritas,” katanya.

Hingga kemarin sore, total ada 805 peserta. Hasilnya, 62 di antaranya reaktif.

Terpisah, rapid test juga dilaksanakan di pasar pagi outer east ring road (OERR). Uji cepat oleh Puskesmas Gunung Anyar tersebut menyasar pedagang yang ada di sana. ’’Total ada 100 pedagang yang ikut rapid test tersebut,” ujar Lurah Gunung Anyar Tambak M. Djamil.

Hasilnya ada dua orang yang reaktif. Mereka pun langsung diminta untuk melakukan pemeriksaan swab. “Pedagang yang reaktif tidak boleh berjualan dulu,” katanya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : gal/jar/c7/dio



Close Ads