Jadi Anggota Gangster di Surabaya, Cukup Follow Akun Instagram

5 Desember 2022, 15:48:23 WIB

JawaPos.com – Geng di Kota Pahlawan sudah ada sejak lama. Beberapa anggotanya pernah diproses hukum karena terbukti melakukan tindak pidana. Pemkot Surabaya juga pernah mengumpulkan anggota sejumlah geng untuk mendapat pembinaan. Namun, berbagai upaya itu tidak menimbulkan efek jera.

Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Mirzal Maulana menyebut eksistensi menjadi salah satu penyebabnya. Mayoritas anggota geng itu berusia remaja belasan tahun. Mereka ingin dipandang superior. Di antaranya, dengan menjadi anggota geng.

Jalan untuk menjadi anggota geng juga tidak sulit. Mirzal menyatakan, syaratnya hanya perlu menjadi pengikut akun Instagram geng yang diinginkan.

”Bukan gangster sebenarnya. Lebih tepatnya kelompok perusuh,” ujarnya Minggu (4/12).

Dari menjadi pengikut akun medsos itu, admin akan menawarkan grup. Unggahannya, antara lain, ajakan untuk kopi darat di waktu tertentu. ”Kumpul-kumpul di satu tempat yang sudah ditentukan,” ungkapnya.

Setelah pertemuan, anggota geng kemudian keliling kota secara bergerombol. Kegiatan itu direkam untuk dijadikan konten akun medsosnya. Agar terkesan sangar, beberapa anggotanya membawa senjata tajam. ”Tidak ada proses baiat untuk jadi anggota,” tuturnya.

Ironisnya, sering kali anggota geng menantang geng lain untuk tawuran. Tujuannya, membuktikan kelompok yang paling superior. ”Janjian ketemuan di satu tempat. Akhirnya bentrok,” jelasnya.

Alumnus SMAN 4 Surabaya tersebut mengungkapkan, kebanyakan anggota geng hanya ikut-ikutan teman. Kepastian itu didapat dari pemeriksaan terhadap anggota geng yang pernah ditangkap.

Mereka mengaku tidak saling kenal dengan anggota lain. Dari ratusan anggota gengnya, yang dikenal hanya teman yang mengajak. ”Intinya, mereka hanya ingin eksis. Ingin terlihat keren, tetapi salah jalan,” ujarnya.

Sopan Selama Sidang, Anggota Geng Dihukum Ringan

SELAMA tiga tahun terakhir, mulai 2020 hingga akhir tahun ini, tercatat 21 gangster disidang di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya dan telah dijatuhi hukuman. Data itu belum termasuk mereka yang belum cukup umur karena larangan publikasi.

Para gangster tersebut terlibat berbagai macam tindakan kriminal. Mulai melakukan tawuran, membawa senjata tajam, merusak fasilitas publik, mengeroyok, hingga merampas handphone dan mencuri sepeda motor anggota geng lawan yang kalah.

Para anggota geng itu dihukum mulai 5 bulan hingga 2,5 tahun penjara dengan berbagai pasal pidana. Rata-rata mereka divonis bersalah dengan Pasal 2 Ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Penggunaan Senjata Tajam.

Ancaman hukuman maksimal pasal tersebut sebenarnya bisa sampai pidana 10 bulan penjara. Namun, realitanya para anggota geng itu rata-rata dihukum ringan saja.

Kasus terbaru, dua anggota Geng All Star, Arbim Krisna Vatikno dan Mohammad Rizal, dituntut pidana 9 bulan penjara oleh jaksa penuntut umum Estik Dilla Rahmawati pekan lalu. Mereka dianggap bersalah melanggar Pasal 2 Ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 setelah membawa samurai sepanjang 90 sentimeter untuk tawuran dengan Geng Gukguk.

Arbim dan Rizal dijadwalkan menjalani sidang terakhir dengan agenda pembacaan vonis dari majelis hakim besok (6/12).

Sikap anggota geng yang sopan selama persidangan menjadi pertimbangan majelis hakim untuk menjatuhkan hukuman yang ringan kepada mereka.

’’Keadaan yang meringankan, terdakwa bersikap sopan dan mengakui perbuatannya. Terdakwa telah menyesali perbuatannya dan berjanji tidak melakukannya lagi. Terdakwa belum pernah dihukum,’’ ungkap hakim Ojo dalam pertimbangan putusannya.

BERAWAL DARI MEDSOS, BERAKHIR DENGAN TAWURAN

1. Setiap geng memiliki akun media sosial (medsos). Yang ingin menjadi anggota hanya perlu menjadi follower dan kopi darat di markas yang tersebar di sejumlah kawasan.

2. Anggota geng keliling kota setelah bertemu. Beberapa membawa sajam. Aksi keliling kota itu direkam dan dijadikan konten akun medsos untuk menunjukkan eksistensi.

3. Ada anggota geng yang bertugas mencari musuh. Tantangan ke geng lain biasanya diutarakan melalui akun medsos, lalu janjian tawuran di satu tempat. Ada juga yang sengaja memicu keributan di jalan.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : gas/edi/c6/git

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads