alexametrics

Tekan Sebaran Covid-19 di Sidoarjo, Sanksi Denda-Aktifkan Checkpoint

5 Juli 2020, 20:20:55 WIB

JawaPos.com – Kelonggaran aktivitas pada era transisi new normal di Sidoarjo memicu euforia warga. Dampaknya, pasien Covid-19 meningkat. Padahal, ketersediaan ruang perawatan di rumah sakit semakin menipis. Untuk menekan laju persebaran, pemkab, TNI, serta Polri kembali memberlakukan pengetatan.

Kapolresta Sidoarjo Kombespol Sumardji mengatakan, seharusnya pada masa transisi warga dengan sendirinya menjalankan protokol kesehatan. ”Tak perlu lagi diingatkan,” ujarnya. Sayang, hal itu tidak sesuai perkiraan. Sebagian besar penduduk masih tidak disiplin. Mereka mengabaikan imbauan protokol kesehatan. Sumardji mencontohkan hasil temuannya di pasar, jalan, serta pusat keramaian. ”Banyak yang tidak mengenakan masker. Sangat mencolok,” katanya.

Karena itu, sebanyak 500 personel disebar. Tim gabungan itu terdiri atas Polri, TNI, serta satpol PP. Mereka bertugas menertibkan warga yang tidak mematuhi protokol kesehatan. Sumardji menegaskan, aturan perbup kembali ditegakkan. Antara lain, pemberlakuan jam malam. Berbeda dari regulasi sebelumnya, penegakan disiplin itu dimulai pukul 22.00 hingga 04.00. Sebelumnya, batasan aktivitas warga dimulai pukul 23.00–04.00.

Menurut Sumardji, gugus tugas sudah menyiapkan sanksi bagi pelanggar aturan. Sebelumnya, hukuman yang diberikan adalah sanksi administratif dan sosial. Mulai KTP disita sampai membersihkan jalan.

Kali ini, sanksi yang diberikan bakal lebih berat. Gugus tugas memberlakukan hukuman denda. Khususnya, bagi warga yang tidak mengenakan masker. ”Harus bayar denda Rp 150 ribu,” tegasnya.

Kasatpol PP Widiyantoro Basuki mengatakan, denda sudah dibahas di dalam rapat. Seluruh pihak bersepakat. ”Agar ada efek jera,” katanya.

Selain itu, checkpoint kembali dihidupkan lagi. Akses dibatasi. Warga yang hendak menuju Sidoarjo diperiksa. Kasatlantas Polresta Sidoarjo Kompol Eko Iskandar mengatakan, ada lima titik yang dipelototi. Yakni, mulai Pos Polisi Waru dari arah Surabaya ke Sidoarjo, Jalan A. Yani di depan alun-alun, traffic light Candi arah ke Porong, pertigaan Suko arah Cemengkalang, hingga traffic light Banjarkemantren Buduran menuju kota. ”Tujuannya, memutus mata rantai korona,” ucapnya.

Pekerja yang pulang larut malam tetap diperbolehkan melintas. Asal, bisa menunjukkan surat keterangan dari tempat kerja. ”Kami tidak menghalangi pekerja yang hendak pulang,” katanya.

Sementara itu, Dandim 0816 Sidoarjo Letkol Inf M. Iswan Nusi menuturkan, pengetatan aturan terus dijalankan. Batas waktu tidak ditentukan. ”Sampai kapan, sampai korona melandai,” ucapnya.

Untuk mendisiplinkan warga, Kodim 0816 mengerahkan seluruh personel. Selain berjaga di checkpoint, petugas patrol menertibkan warga yang bandel.

Hasil Rapid Test Tinggi di 26 Puskesmas

Sebanyak 26 puskesmas di Kota Delta diberi kuota 300 alat rapid test untuk tiap-tiap puskesmas. Pelaksanaannya berlangsung sejak Selasa (30/6) hingga Jumat lalu (3/7). Berdasar data terakhir kemarin, tercatat ada 129 laki-laki dan 156 perempuan reaktif dari 6.542 warga yang mengikuti uji tes.

Kepala Dinas Kesehatan drg Syaf Satriawarman mengungkapkan, masyarakat tidak panik bila hasil rapid test reaktif. Sebab, bukan berarti orang tersebut positif Covid-19. Penentuannya perlu pemeriksaan lanjutan.

Syaf menambahkan, seseorang yang reaktif tidak perlu langsung diuji usab. Bisa menunggu seminggu atau 10 hari. Apabila selama rentang waktu itu tidak ada gejala Covid-19, tidak diperlukan swab test. ”Mereka yang reaktif diminta isolasi mandiri,” katanya.

Sementara itu, rapid test terus digelar. Besok (6/7) sampai lusa (7/7), dinkes menunjuk delapan puskesmas untuk melanjutkan pemeriksaan cepat. Yakni, Puskesmas Taman, Sedati, Medaeng, Tarik, Waru, Candi, Sidoarjo, dan Gedangan. Kali ini sasarannya adalah calon mahasiswa baru. Itu dilakukan sebagai syarat untuk mendaftar ke universitas swasta atau negeri. ’’Kuotanya 200 alat tes di setiap puskesmas,” ujarnya.

Kepala Puskesmas Taman dr Erwin Berthaningrum menyebutkan, syarat uji cepat adalah KTP atau surat domisili dan surat keterangan yang menunjukkan calon mahasiswa. Karena hanya delapan puskesmas, pelayanan tidak terbatas pada mahasiswa sekitar lokasi fasilitas kesehatan itu saja. ”Misalnya di sini kita melayani juga yang dari barat seperti dari Trosobo,” ujarnya.

Bagi santri, pemkab juga siap memfasilitasi rapid test. Plt Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin menyatakan, pondok pesantren bisa mengajukannya. Dengan begitu, saat santri masuk, mereka benar-benar sehat. Pengasuh maupun pengurus ponpes pun boleh ikut. Bahkan, santri asal Sidoarjo yang akan berangkat mondok ke luar daerah juga boleh meminta rapid test secara gratis.

Penegakan Aturan Masa Transisi

  • Jam malam dimulai pukul 22.00 hingga pukul 04.00.
  • Pembatasan akses dilakukan di lima titik. Yakni:
  1. Pos Polisi Waru dari arah Surabaya ke Sidoarjo
  2. Jalan A. Yani di depan alun-alun
  3. Traffic light Candi arah ke Porong
  4. Pertigaan Suko arah ke Cemengkalang
  5. Traffic light Banjarkemantren Buduran arah ke kota
  • Pekerja yang pulang malam wajib menunjukkan surat keterangan.
  • Pusat keramaian dan toko harus tutup selepas pukul 22.00.
  • Tidak pakai masker didenda Rp 150 ribu.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : aph/uzi/c17/c13/dio



Close Ads