alexametrics
Kasus Pemuda Suci Hilang Misterius

Polsek Manyar Pastikan Nabhani Yusuf Bukan Diculik, tapi Kabur

5 Maret 2021, 20:34:18 WIB

JawaPos.com – Misteri menghilangnya Nabhani Yusuf, warga Desa Suci, Manyar, yang ditemukan di Banyuwangi, akhirnya tersibak. Ternyata, pemuda 27 tahun itu bukan korban penculikan atau perampokan seperti kabar yang berkembang di media sosial. Namun, Yusuf berupaya kabur lantaran beban atau tekanan hidup.

Kepastian itu terungkap setelah jajaran Polsek Manyar meminta keterangan Yusuf yang sudah tiba di Gresik Kamis (4/3) sekitar pukul 05.00. Sebelumnya, bersama keluarga Yusuf, anggota Polsek Manyar ikut menjemput ke Banyuwangi. ’’Kami sudah melakukan serangkaian pemeriksaan kepada yang bersangkutan. Mulai tes kesehatan, cek urine, hingga swab test antigen. Semua normal dan baik-baik saja,’’ kata Kapolres AKBP Arief Fitrianto yang dikonfirmasi melalui Kapolsek Manyar Iptu Bima Sakti Pria Laksana.

Bima mengatakan, secara mental, kondisi psikologis Yusuf juga normal. Namun, dari hasil keterangan yang didapat, Yusuf mengaku tertekan karena urusan pekerjaan.

Alumnus Akpol 2013 itu menceritakan, Yusuf dipercaya sebagai koordinator untuk mengurus keuangan laporan gabungan kelompok tani (gapoktan) di desa.

’’Karena salah membuat laporan keuangan, terjadi selisih nominal. Nah, khawatir dituduh macam-macam, dia spontan untuk menghilang,’’ jelas Bima. Dana gapoktan tersebut masih ada. Termasuk sisa setoran Rp 10 juta yang hendak dicairkan. Dia pun berharap masalah itu bisa didiskusikan bersama para pengurus lainnya.

Jalan pendek yang diambil Yusuf tersebut ternyata membuat geger setelah berita kehilangan itu diunggah di media sosial dengan sejumlah spekulasi. ’’Murni inisiatifnya untuk mengasingkan diri. Keluarga dan kerabatnya tidak tahu. Karena itu, wajar saja asumsi yang muncul menjadi beragam,’’ lanjut Bima.

Perwira dengan tiga balok di pundak itu menegaskan, peristiwa tersebut tidak mengandung unsur tindak pidana. Berdasar keterangan yang diterima kepolisian dari saksi, Yusuf bukan kali pertama berulah. Yusuf juga pernah kabur karena tekanan ketika bekerja sebagai karyawan di perusahaan pelayaran beberapa tahun lalu.

’’Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi semua. Agar tidak lari dari masalah, apalagi sampai membuat khawatir keluarga dan masyarakat,’’ ujarnya.

Bima juga berharap masyarakat lebih bijak dalam bermedia sosial. Jangan sampai tidak mengetahui kejadian pastinya, tetapi seolah-seolah tahu sehingga menimbulkan kegaduhan atau kecemasan. ’’Kami harap lebih berhati-hati dalam menyikapi sebuah peristiwa agar tidak memicu kabar hoaks,’’ pesannya.

Saat di Mapolsek Manyar kemarin, Yusuf menyesal telah bertindak demikian. Dia menceritakan, saat tertekan itu, dirinya meninggalkan sepeda motornya di lokasi eks tambang PT Semen Gresik, Tlogodowo. Lalu, dia menghubungi adiknya melalui pesan pendek untuk meminta datang ke jalan tembusan dari Desa Suci ke Perumahan GKA itu. ’’Biar motor saya diamankan. Lalu, saya mematikan handphone untuk menenangkan diri,’’ jelasnya.

Setelah itu, dia berjalan kaki mencari angkutan menuju terminal bus di Surabaya. Kemudian, dia naik bus tujuan Banyuwangi untuk menemui teman lamanya. Tujuannya, ingin mencari pekerjaan baru. Sayang, sesampai di Kota Gandrung itu, Yusuf justru menemukan jalan buntu. Bisa jadi tidak mau menanggung malu, akhirnya Yusuf mengarang cerita kepada keluarganya bahwa dirinya menjadi korban penculikan.

’’Saya menyesal, mohon maaf kepada keluarga dan semua pihak yang merasa dirugikan,’’ katanya.

Butuh Support Orang Terdekat

Setiap orang berpotensi mengalami depresi atau tekanan dalam hidup. Tidak memandang usia, jenis kelamin, maupun strata sosial. Misalnya, yang telah dialami Nabhani Yusuf. ’’Bedanya adalah cara seseorang dalam merespons keadaan tersebut,” kata Dekan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Prof Dr Suryanto kepada Jawa Pos kemarin (4/3).

Secara umum, lanjut dia, setiap orang bisa melakukan apa pun ketika mengalami kondisi depresi tersebut. Baik hal yang masih dianggap lumrah seperti nafsu makan berkurang, malas melakukan sesuatu, maupun perubahan sikap secara drastis. Ada juga yang berperilaku meresahkan dan mengkhawatirkan. Misalnya, mengurung diri, kabur, hingga menyakiti diri sendiri.

’’Ada dua kesimpulan jika orang menghadapi depresi. Kuat menghadapi masalah (fight) atau menghindar dari masalah (flight),” paparnya. Kalau seseorang cenderung flight, akan muncul dampak lain. Terutama mengalami sanksi sosial. ’’Hal seperti ini harus dihindari,” ungkap guru besar asal Ngawi tersebut.

Baca Berita Sebelumnya: Nabhani Yusuf, Pemuda Hilang Misterius Diduga Jadi Korban Penculikan

Kondisi demikian itu akan semakin memperparah depresi seseorang. Karena itu, mereka harus mendapat support dari orang-orang terdekat. Baik keluarga maupun kerabat. Jika hal itu terjadi berkali-kali, dia menyarankan agar orang bersangkutan mendapatkan pendampingan khusus dari psikiater. Tujuannya, mencari tahu dan solusi penanganannya sehingga resiliensinya akan semakin meningkat. Yakni, kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit.

’’Sederhananya, orang kalau sudah depresi pasti buntu. Karena itu, harus diberi dukungan moral dan sosial, terutama dari orang-orang terdekat,” paparnya. 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : yog/c7/hud




Close Ads