Lagi, Petugas DKPP Surabaya Temukan 24 Sapi Suspek PMK

4 Juli 2022, 20:04:26 WIB

JawaPos.com- Temuan sapi suspek penyakit mulut dan kuku (PMK) juga ditemukan petugas dinas ketahanan pangan dan pertanian (DKPP) di wilayah Karang Pilang. Tepatnya di Jalan Kemlaten. Total, terdapat 24 sapi yang suspek di sana.

Lurah Kebraon Zainul Abidin menegaskan, pihaknya terus memperketat pengawasan hewan ternak di wilayahnya. Beberapa titik pemantauan hewan ternak adalah Jalan Kemlaten, Jalan Kebraon, dan Jalan Mastrip. Sebab, wilayahnya tergolong sebagai pintu masuk hewan ternak dari luar Surabaya. ”Kami gandeng tiga pilar beserta DKPP,” jelasnya.

Menurut dia, peternak di Jalan Kemlaten sempat menolak saat tim dokter DKPP akan melakukan penanganan. Peternak tersebut mengira pengobatan yang diberikan berbayar. Padahal, pengobatan diberikan 100 persen secara cuma-cuma agar wabah segera menghilang. ”Vaksinasi belum tahu kapan. Namun, dia bersedia,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya menyosialisasikan tata cara penyembelihan hewan kurban di tengah wabah PMK kepada penyelenggara kurban. Mulai memiliki surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) dari daerah asal hingga mendapat persetujuan camat untuk berjualan.

Terpisah, dokter hewan DKPP Kecamatan Karang Pilang Romadhony Arif menyatakan bahwa izin penjualan hewan ternak turut diperketat akibat wabah PMK. Jadwal pengecekan mengikuti arahan dari kecamatan. Di Karang Pilang, pengecekan berlangsung sejak Senin (26/6) dan baru saja selesai. ”Sudah berjalan sepekan,” katanya.

Sementara itu, pengawasan ketat juga dilakukan di Kecamatan Pakal. Sejauh ini baru ada satu penjual hewan ternak yang mengajukan izin. Namun, ada satu pedagang lagi yang masih proses membuka lapak. ”Kita minta surat pengantar dari DKPP (dinas ketahanan pangan dan pertanian, Red),” ujar Camat Pakal Tranggono Wahyu Wibowo kemarin (3/7).

Tranggono memprediksi jumlah pedagang yang bakal membuka lapak turun dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, ada sekitar empat sampai lima pedagang yang menjual hewan ternak di wilayah Pakal. ”Tahun ini sepertinya cuma dua itu,” katanya.

Di Kecamatan Sukomanunggal, sudah ada empat pedagang yang mengajukan permohonan ke kantor kecamatan. Menurut Camat Sukomanunggal Lakoli, wewenang pemberian izin berada di kecamatan. ”Karena itu, kemarin ada yang belum mengajukan izin. Jadi, kami jemput bola,” terangnya.

Berbeda dengan Tranggono, Lakoli justru memprediksi jumlah pedagang hewan kurban bakal lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Selain pedagang yang sudah mengajukan izin, masih ada beberapa penjual hewan ternak yang sedang mengurus surat pengantar dari DKPP. ”Kemungkinan lebih,” ucapnya.

Lakoli mengakui, tidak semua pedagang mau mengurus izin atau persetujuan membuka lapak ke kantor kecamatan. Ada pula yang tidak tahu dan mengira cukup menggunakan surat pengantar dari DKPP. Padahal, persetujuan membuka lapak harus dari kecamatan.

Sebab, hewan ternak yang akan dijual harus dicek lebih dulu. Baik sapi maupun kambing. Selain tim dokter dari DKPP, pihak kecamatan juga menggandeng dokter hewan dari Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS). ”Di sini kemarin ada delapan dokter yang diterjunkan. Jadi, sebelum kami setujui, diperiksa dulu sapi atau kambingnya,” jelasnya.

Editor : M. Sholahuddin

Reporter : dho/adi/c14/c6/ady/ai

Saksikan video menarik berikut ini: