alexametrics

Investasi Lahan Jati, Dijanjikan Cuan Rp 15 Miliar, Dapat Cek Kosong

4 April 2021, 10:37:52 WIB

Tertarik dengan keuntungan Rp 15 miliar, Mohamad Zukhron Arba’i berinvestasi lahan jati. Modal sudah dibayarkan untuk membeli lahan, bibit, dan penanaman. Ketika hampir panen, pohon jati tidak sesuai harapan. Lahan yang dibeli pun tidak bisa diproses menjadi namanya.

MOHAMAD Zukhron Arba’i tertarik berinvestasi lahan jati setelah melihat pameran PT Harfan Jaya Makmur (HJM) di Mal Olympic Garden (MOG), Malang, pada 2012. Perusahaan aforestasi itu menawarkan keuntungan yang besar melalui brosur yang dibagi-bagikan selama pameran.

Mitra bisa memanen pohon jati setelah sembilan tahun dan meraup keuntungan hingga Rp 15 miliar. Perusahaan tersebut juga meyakinkan bahwa lahan tersebut bisa menjadi sertifikat hak milik (SHM) atas nama mitra. ”Saya tertarik karena selain bisa berinvestasi, lahan bisa SHM atas nama sendiri. Kami juga bisa mendapatkan keuntungan dari pemanfaatan pohon jati,” ujar Zhukron.

Dia kemudian datang ke kantor PT HJM di Jalan Taman Ketampon, Surabaya. Dia ditemui Muhammad Alkaff, direktur PT HJM. Alkaff menawarkan kerja sama pembuatan hutan dan pemanfaatan potensi hasil hutan. Caranya, Zukhron harus membeli lahan seluas 1 hektare milik PT HJM di Desa Cangkring, Prajekan, Bondowoso. ”Dengan masa panen delapan tahun, sudah bisa memanfaatkan lahan jati yang high quality,” katanya.

Pria yang juga pengusaha itu tertarik. Dia membayar Rp 626 juta untuk pembelian lahan tersebut pada 2013. Alkaff membuatkan akta kesepakatan kerja sama di notaris. Istrinya, Maria Ulfah, juga berinvestasi Rp 126,5 juta. Ternyata selain pasutri tersebut, ada tujuh mitra lain. Mereka membuat kelompok ”8” mitra bersama Ulfah.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : gas/c12/eko

Saksikan video menarik berikut ini: