Ada 663 Kasus HIV di Surabaya, Perilaku Homoseksual 44,04 Persen

3 Desember 2022, 12:31:43 WIB

JawaPos.com–Selama 2022, terdapat 663 kasus HIV/AIDS di Kota Surabaya. Berdasar Laporan Dinas Kesehatan Kota Surabaya, perilaku homoseksual menjadi salah satu penyebab tertinggi.

Kepala Dinas Kesehatan Nanik Sukristina menerangkan, pada 2022, penemuan kasus HIV di Kota Surabaya 663 kasus. ”Penyebab terjadinya penularan HIV antara lain adalah perilaku seks sesama jenis (homoseksual) sebesar 44,04 persen,” papar Nanik, Sabtu (3/12).

Selain itu, perilaku seks berbeda jenis (heteroseksual) sebanyak 53,85 persen dan perilaku berbagi jarum suntik tidak steril pada pengguna narkoba suntik (penasun) sebanyak 2,11 persen.

Berdasar wilayah, Nanik menjelaskan, penemuan kasus HIV terbanyak di wilayah Kecamatan Wonokromo, Sawahan, Tegalsari, Tambakasri, dan Krembangan. Dari catatannya, kasus HIV ditemukan paling banyak pada laki- laki sebesar 80,09 persen.

”Usia paling banyak adalah rentang usia 25-49 tahun,” ujar Nanik.

Karena itu, Dinkes Surabaya juga menggelar sosialisasi kepada remaja di Kota Pahlawan sebagai upaya pencegahan sejak dini. Yakni, pemberian edukasi komprehensif atau kampanye mengenai HIV/ AIDS bertajuk Aku Bangga Aku Tahu tentang HIV kepada pelajar di SMP dan SMA di Kota Surabaya.

”Kemudian kita juga edukasi melalui Saka Bhakti Husada dan kelompok dampingan remaja,” papar Nanik.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi pun menyebut, Kota Surabaya merupakan kota metropolitan, sehingga menjadi kota rujukan untuk pengobatan pasien HIV. Pihaknya tidak bisa menahan ketika ada yang masuk ke Surabaya (untuk) berobat.

”Surabaya adalah rujukan tempat orang berobat. Maka secara otomatis akan jadi banyak. Tinggalnya di sini, berobatnya di sini,” terang Eri.

Pemkot Surabaya mengadakan berbagai kegiatan sebagai upaya pencegahan kasus HIV di lingkungan remaja. Di antaranya melalui kegiatan Sinau Bareng di Balai RW.

Ngajar bareng, pemuda lintas agama, pemuda lintas suku sebenarnya ini untuk menyatukan semua ini. Dengan kegiatan positif itulah maka kita akan terhindarkan dari perbuatan yang dilarang agama, seperti tawuran, mendem (mabuk), LGBT, dan lainnya. Pasti perbuatan yang melanggar agama ada dampaknya, berarti apa? Kita kembalikan lagi pada kekuatan agamanya, apapun itu,” papar Eri.

Editor : Latu Ratri Mubyarsah

Reporter : Rafika Rachma Maulidini

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads