alexametrics

Gali Fakta Kasus Balita JA, Kapolrestabes Turun Tangan ke Rumah Sakit

3 Desember 2019, 16:48:36 WIB

JawaPos.com – JA masih dirawat di RSUD dr Soetomo. Kemarin (2/12) bocah 4 tahun yang ditengarai menjadi korban penganiayaan itu mendapat tamu istimewa. Yakni, Kapolrestabes Surabaya Kombespol Sandi Nugroho. Sandi mendatangi kamar tempat JA dirawat sekitar pukul 11.00. Dia berada di dalam ruangan sekitar 15 menit.

Ditemui setelah menjenguk JA, dia menyatakan merasa berempati. Di dalam, polisi dengan tiga melati di pundak itu ditemui IN, ibu JA. ’’Anaknya tidur. Jadi hanya mengobrol dengan ibunya,’’ kata Sandi. ’’Menggali kejadian yang sebenarnya,’’ lanjutnya.

IN mengaku tidak tahu pasti kenapa sekujur tubuh anaknya bisa lebam. Sebab, selama ini JA ditinggal kerja. IN harus menjadi tulang punggung keluarga karena suaminya mendekam di penjara akibat perkara narkoba. Nah, JA lebih banyak menghabiskan waktu dengan IW, budenya alias kakak IN. ’’Informasi dari sang ibu, si anak demam tinggi. Jadi, dibawa ke rumah sakit,’’ ucapnya Sandi bersyukur kondisi balita itu berangsur membaik. Dia juga menambahkan bahwa penyelidikan dugaan penganiayaan yang dialami masih berjalan. ’’Ada beberapa saksi yang sudah dipanggil untuk memberikan keterangan,’’ tuturnya.

Kanit PPA Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni menjelaskan, sejauh ini sudah ada delapan orang yang diperiksa sebagai saksi. Di antaranya, AJ, IN, IW, dan JW atau suami JW. Nah, empat lainnya adalah dokter dan polisi yang menjadi pelapor. Sebab, penanganan perkara itu berdasar laporan model A karena tidak ada pihak keluarga yang mau melapor. ’’Keterangan yang didapat masih dipelajari penyidik,’’ paparnya.

Humas RSUD dr Soetomo dr Pesta Parulian Maurid Edward SpAn secara terpisah menjelaskan, saat ini korban sudah bisa beraktivitas seperti biasa. JA bisa makan dan minum dengan baik. Juga, berinteraksi dengan ibunya. ’’Belum ada kesimpulan diagnosis dari luka lebam yang diderita. Fokus kami membuat anak pulih dulu,’’ tuturnya.

Sementara itu, kondisi JA mendapat perhatian serius dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur. Sekretaris LPA Jatim Isa Ansori mengatakan sudah mempelajari foto-foto yang tersebar luas di masyarakat. Bagi dia, kondisi itu memang sudah terindikasi sebagai kekerasan.

Tidak menjadi soal siapa pelakunya. Namun, bagi Isa, kasus JA patut mendapat perhatian. Sebab, bocah 4 tahun itu mengalami trauma mendalam. Kondisi tersebut bisa berdampak besar bagi perkembangan psikologinya mendatang. ’’Anak susah bergaul. Mereka juga merasa terasing dari lingkungannya,’’ ungkap Isa.

Dia menuturkan, kasus semacam itu bisa jadi preseden buruk dan harus segera dihentikan. Pada 2019, setidaknya ada 85 kasus kekerasan pada anak di Surabaya. Yang paling dominan ialah kekerasan seksual dan fisik. Rata-rata korbannya berusia 0–18 tahun. ’’Kasus JA ini saya rasa ke fisik. Luka di sekujur tubuhnya mengindikasikan ke arah sana,’’ katanya.

Isa menambahkan, pola kekerasan memang tidak pernah jauh dari orang terdekat. Dengan kata lain, dia yakin pelaku ada di dalam lingkaran keluarga. ’’Tapi, saya tidak mau sesumbar. Biarkan polisi yang mengusutnya,’’ tutur Isa. Meski begitu, pemkot perlu mencegah kekerasan pada anak. ’’Untuk penanganan setelah kejadian, pendampingan katarsis perlu digalakkan,’’ ungkap Isa.

Katarsis, kata dia, berarti menuangkan segala isi hati dengan bebas. ’’ Itu, salah satu usaha yang bisa dilakukan untuk mengungkapkan emosi yang sedang dirasakan,’’ ungkap Isa

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : edi/jar/c15/tia



Close Ads