alexametrics

Dua Kurir Narkoba yang Terhubung Jaringan Sokobanah Ditembak Mati

3 Desember 2019, 15:48:24 WIB

JawaPos.com – Satresnarkoba Polrestabes Surabaya belum berhenti menunjukkan taringnya. Minggu malam (1/12) dua kurir narkoba ditembak mati. Masing-masing adalah Tonny Ganda Wijaya, 34, warga Sidoarjo, dan Deny Saipul Anwar, 26, warga Malang. Barang bukti yang disita petugas dari tangan keduanya adalah 2 kilogram sabu-sabu (SS) Diketahui, mereka masih memiliki kaitan dengan jaringan Sokobanah, Sampang, yang diungkap beberapa waktu lalu. Nama keduanya muncul dari pengembangan yang dilakukan polisi. ’’Warning buat yang lain, kami tidak akan segan mengambil tindakan tegas,’’ ujar Kapolrestabes Surabaya Kombespol Sandi Nugroho di depan kamar jenazah RSUD dr Soetomo kemarin (2/12).

Sandi menjelaskan bahwa pihaknya tidak langsung puas setelah mengungkap perkara dengan barang bukti lebih dari 7 kilogram SS pekan lalu. Satresnarkoba menelusuri jaringan empat tersangka yang ditangkap. Nah, penyelidikan yang berjalan lantas memunculkan nama baru.

Yang dimaksud adalah Dwi Purwanto. Lelaki 46 tahun itu tinggal di Malang. Dwi dikabarkan akan membawa narkoba dari Jakarta ke Surabaya. ’’Untuk mengejar yang bersangkutan, kami mengirim tim ke ibu kota,’’ terang peraih Adhi Makayasa Akpol 1995 tersebut.

Namun, petugas tidak langsung mendapatkan hasil. Dwi ternyata sudah pindah tempat. Dia menumpang kereta api (KA) Sembrani dari Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. KA yang ditumpanginya menuju Stasiun Pasar Turi, Surabaya. Dwi yang menjadi target operasi akhirnya dapat dibekuk setelah polisi memeriksa semua penumpang KA di Stasiun Pasar Turi.

Dari penangkapan itu, petugas mengamankan 300 gram SS. Dwi menyimpannya di dalam kardus ponsel. Dalam pemeriksaan, dia mengaku bahwa barang terlarang tersebut akan diberikan kepada D yang saat ini masih menjadi buron. ’’Orang Sampang,’’ kata Sandi.

Dwi sengaja disuruh pemesan untuk mengambil narkoba itu ke Jakarta dengan dijanjikan upah Rp 3 juta. Sandi memprediksi, bandar di ibu kota sudah tidak berani mengirim orang sebagai kurir karena belakangan polisi semakin sering melakukan penindakan. ’’Modus transaksi diubah agar tidak terlacak. Mereka tidak mau kirim, siapa yang mau harus ambil sendiri,’’ paparnya.

Mantan Kapolrestabes Medan tersebut menerangkan bahwa diringkusnya pelaku membuka jalan untuk menangkap pelaku lain. Dwi dalam penyidikan ’’bernyanyi’’ bahwa ada kelompok lain yang juga kerap mengirim narkoba ke Sokobanah. Komplotan itu berada di Batam, Kepulauan Riau.

Di sana, kata Sandi, anggotanya kemudian berhasil meringkus kelompok yang dimaksud. Yaitu, Tonny dan Deny. ’’Barang bukti 2 kilogram,’’ sebutnya. Di hadapan petugas, keduanya mengakui, barang haram tersebut akan dikirim ke Sokobanah. ’’Tetapi, transaksi dengan penjemput diakui berada di Sukomanunggal,’’ tutur polisi dengan tiga melati di pundak itu.

Sandi mengungkapkan, jajarannya lantas membawa kedua pelaku ke tempat yang disebut sebagai lokasi transaksi. Letaknya di sebuah hotel. Rupanya, di tempat tersebut mereka mencoba melawan anggota agar bisa melarikan diri. ’’Dugaannya, transaksi itu tidak ada. Mereka hanya berniat mengelabui petugas agar bisa mendapat kesempatan kabur,’’ terangnya.

Di tempat itu, lanjut Sandi, anggota memilih mengambil tindakan tegas. Tonny dan Deny ditembak. Mereka tersungkur. Dalam perjalanan ke rumah sakit, keduanya tewas.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : edi/den/c22/git



Close Ads