alexametrics

DPRD Surabaya Pertanyakan Penggunaan Anggaran Penanganan Covid-19

3 Juni 2020, 10:45:06 WIB

JawaPos.com–Komisi A Bidang Hukum dan Pemerintahan DPRD Kota Surabaya mempertanyakan penggunaan anggaran penanganan Covid-19 yang telah dianggarkan melalui APBD Surabaya sebesar Rp 196 miliar.

Anggota Komisi A DPRD Surabaya M. Machmud seperti dilansir dari Antara di Surabaya mengatakan, dalam teleconference Pemkot Surabaya dengan DPRD Surabaya pada Maret, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyatakan telah menganggarkan Rp 196 miliar untuk penanganan Covid-19 di Surabaya. Tapi sampai sekarang belum terlihat penggunaan anggaran itu.

Menurut dia, selama ini banyak bantuan penanganan Covid-19 dari sejumlah pihak baik dari instansi pemerintahan maupun swasta serta perorangan mengalir ke Pemkot Surabaya. Dengan demikian, anggaran yang telah disediakan tidak terpakai banyak.
”Selama ini, DPRD Surabaya hanya diberi lembaran kertas sebagai formalitas laporan penerimaan bantuan penanganan Covid-19 dari berbagai pihak termasuk para pengusaha dan didisitribusikan ke mana saja bantuan itu. Sampai sekarang belum ada laporan penggunaan APBD, yang dipakai sudah berapa dan untuk apa saja. Saya malah dapat laporan katanya banyak sembako yang menumpuk di kantor kecamatan,” kata Machmud pada Rabu (3/6).

Dia menilai, Pemkot Surabaya selama ini terkesan hanya menunggu bantuan-bantuan saja untuk membantu warga Surabaya di tengah pandemi Covid-19. ”Sebenarnya siapa yang menyelesaikan masalah ini, pemkot apa pengusaha,” ujar Machmud.

Bahkan, menurut dia, ada saran dari beberapa pihak agar Pemkot Surabaya membeli mobil laboratorium PCR baru-baru ini dinilai terlambat karena pandemi Covid-19 sudah berjalan tiga bulan.

Untuk itu, Machmud meminta Pemkot Surabaya agar lebih fokus dalam penanganan Covid-19 menyusul angka kasus warga yang positif Covid-19 di Surabaya sampai ini masih bertambah. Pemkot Surabaya juga harus bersikap bijak jika ada kritik dari Pemerintah Provinsi Jatim terkait penanganan Covid-19 sebagai masukan.

”Jadi buat introspeksi diri untuk melengkapi dan menyempurnakan tindakan selama ini yang mungkin dianggap kurang tepat guna atau tepat sasaran. Kami berharap agar pemkot fokus penyembuhan pasien Covid-19 dan menekan angka kematian akibat Covid-19,” kata Machmud.

Dia menambahkan, harus ada evaluasi kegiatan yang sudah dilakukan selama ini. ”Tentunya harus lebih baik dan bisa menurunkan angka korban. Jika memang menurun berarti tepat, tapi jika korban naik berarti kurang tepat,” tutur Machmud.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sebelumnya mengatakan Pemkot Surabaya telah melakukan berbagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Surabaya, salah satunya dengan menekankan tracing (pelacakan) dan pemetaan suatu wilayah secara masif.

”Ketika pertama kali menerima data seseorang dinyatakan positif Covid-19, yang dilakukan saat itu adalah melakukan tracing. Jadi kami punya beberapa klaster di Surabaya. Kita tracing, siapa dia, ketemu di mana, kemudian siapa saja di situ,” kata Risma.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Latu Ratri Mubyarsah

Reporter : Antara



Close Ads