alexametrics

Bayar Rp 38 M, Dapat 21 Sertifikat Tanah Palsu dari Notaris Olivia

3 Mei 2021, 02:48:37 WIB

Hendra Thiemailattu percaya tanah yang dibelinya bersertifikat asli setelah diyakinkan notaris Olivia Sherline Wiratno. Namun, setelah membayar Rp 38 miliar, 21 sertifikat yang diterimanya palsu. Olivia kini menjalani sidang di Pengadilan Negeri Surabaya.

HENDRA Thiemailattu ditawari tanah seluas 29.400 meter persegi oleh Alek Chandra. Alek sebagai broker meyakinkan Hendra bahwa Lukman Dalton yang diklaim sebagai pemilik tanah di Gunung Anyar Tambak memiliki sertifikat hak milik (SHM). Alek mengajak Hendra bertemu Lukman di kantor notaris Olivia Sherline Wiratno agar lebih meyakinkan.

Pada pertemuan Mei 2017, notaris Olivia ikut meyakinkan Hendra agar tertarik membeli tanah tersebut. Perempuan 63 tahun itu menyatakan bahwa SHM atas nama Lukman tersebut asli. Dia mengaku sudah mengecek keasliannya di kantor pertanahan.

Penjelasan Olivia itu dipercaya Hendra. Dia sepakat membeli tanah itu Rp 14 miliar. Lukman meminta Hendra membayar Rp 14,5 miliar. Senilai Rp 500 juta untuk jasa Olivia sebagai notaris.

Olivia menjanjikan akan mengurus balik nama SHM tersebut menjadi atas nama Hendra. Hendra pun melakukan pembayaran. Tidak lama setelah itu, Olivia menyerahkan sertifikat yang sudah berganti menjadi atas nama Hendra. Belakangan diketahui, sertifikat yang diterima Hendra itu palsu. Kini notaris Olivia diadili karena kasus tersebut.

Jaksa penuntut umum Harwiadi dalam dakwaannya menyatakan, Hendra awalnya belum menyadari sertfikat yang diterimanya palsu. Lukman kembali menawari Hendra tanah setelah pembelian pertama sukses. Kali ini tanah seluas 42.000 meter persegi. Lokasinya masih di Gunung Anyar Tambak. Hendra sepakat membeli dengan harga Rp 25,5 miliar. Senilai Rp 5,5 miliar dibayar tunai, sedangkan Rp 20 miliar ditukar dengan tanah Hendra yang juga di Gunung Anyar.

Prosesnya sama dengan pembelian tanah pertama. Olivia yang mengurus balik nama sertifikat dan menerima uang atas jasanya sebagai notaris. Sertifikat yang sudah atas nama Hendra itu diterima pemilik barunya. Hendra baru menyadari sertifikat tanahnya palsu setahun kemudian.

Ketika itu Hendra berniat menjualnya. Dia mengecek tanah itu bersama calon pembelinya. ”Setelah dicek lokasi, ternyata gambar di SHM dan fisik tidak sesuai,” ujar jaksa Harwiadi dalam sidang di Pengadilan Negeri Surabaya.

Hendra minta pertanggungjawaban Lukman. Lukman sepakat mengganti tanah bersertifikat palsu itu dengan tanah lain di Trosobo, Sidoarjo. Dua SHM yang sudah di tangan Hendra ditarik lagi oleh Lukman. Diganti dengan 12 SHM tanah di Trosobo.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : gas/c13/eko

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads